
Tok tok tok~
Aku mengetuk pintu depan rumah yang digunakan sebagai markas rahasia Demon Hunter. Setelah menerima pesan dari Kakume, aku langsung memutuskan untuk pergi ke sini.
Glek~
"Ohh ... selamat sore ... siapa kamu?" Kakume membukakan pintu dan memberiku pertanyaannya yang membuatku bingung itu.
"Kakume? ... kamu bercanda atau apa?" tanyaku dengan wajah datar.
"Loh? ... apa kamu Kaito itu?" Dia malah kembali bertanya seakan tak pernah bertemu denganku.
Ohh ...
Aku paham sekarang. Kakume menerima efek samping dari kekuatannya sendiri itu. Aku baru ingat kalau efek samping Stealth-nya itu adalah kehilangan sedikit ingatannya.
"Apa Fumio ada di dalam?"
"Ohh ... kamu memanglah Kaito itu ...," Kakume mempersilahkanku masuk ke dalam.
"Apa kamu mau langsung ketemu sama Fumio?"
"Hmm ...," aku mengangguk menanggapi pertanyaannya.
"Ohh ... maaf ... aku masih belum inget apa pun tentangmu ... aku bakal istirahat dulu di sofa ...,"
"Kakume ... semoga ingatan mu cepat pulih," ucapku menepuk pundaknya lalu menaiki tangga untuk menuju ke ruang rahasia yang ada di lantai dua.
Setelah turun ke ruang rahasia yang berada di bawah tanah menggunakan lift rahasia. Aku sampai di ruang meeting tim Demon Hunter ini. Dinding putih dan lampu lampu yang bersinar terang itu selalu menyilaukan mataku setelah pintu lift terbuka.
__ADS_1
Meja besar yang ada di tengah ruangan. Komputer yang berbaris rapi di sisi ruangan. Lambang organisasi Demon Hunter yang terpajang di dinding depan meja itu. Gadis rambut kuning dengan seragam SMP, kacamata yang ia pakai itu mamantulkan cahaya dari layar monitor di depan wajahnya itu.
"Ohh ... Kaito ...," Fumio melepas kacamatanya dan meletakannya di atas keyboard komputernya.
"Ano ... Kakume ..."
"Ya ... dia sudah terkena Lock," kata Fumio berdiri dari bangkunya.
"Lock?"
"Hmm ... Lock adalah keadaan dimana Tenshi menerima efek samping kekuatannya ... dan mereka tak akan bisa menggunakan kemampuan mereka untuk sementara waktu," Jelas Fumio lalu duduk di kursi yang ada di depan logo Demon Hunter yang terpajang di dinding.
"Jadi ... malam ini Kakume gak bisa pake kekuatannya?" Aku pun duduk di kursi yang ada di belakang meja besi besar yang ada di tengah ruangan ini.
"Iya ...," Fumio mengangguk dengan tatapan tajamnya itu.
"Lalu ... gimana dengan Haru?"
"Ha? ... lu-lumpuh?" Aku terkejut mengetahui efek samping dari kemampuan menyembuhkan Haru.
"Hmm ...," Fumio hanya mengangguk perlahan dengan wajah seriusnya itu.
Kami duduk berseberangan dengan meja besar yang ada di tengah tengah kami. Tak ada suara sedikit pun selama beberapa detik. Fumio sepertinya sedang berpikir keras mengatur strategi untuk misi malam ini.
"Misi malam ini ... sepertinya harusku batalkan ...," ucapan Fumio yang memecah keheningan semetara tadi.
"Memangnya ... misi malam ini apa?" Aku bingung kenapa Fumio bisa sampai membatalkan misi malam ini, mungkin misi ini terlalu berbahaya untukku seorang diri.
"Misi malam ini adalah ... membantai sekelompok Akame yang menghuni rumah tua di di blok F"
__ADS_1
Blok F?
"Bukannya itu ada di deket sini?"
"Tepat ... jika tidak di habisi ... bisa bisa mereka menyebar dan membuat panik di sekitar pemukiman ini"
"Aku akan menerima misi itu," kataku penuh percaya diri.
"Jangan *****! ... aku belum tau pasti kekuatanmu dan batasnya ... jadi ...," wajah serius Fumio itu berubah, dia sepertinya khawatir akan kehilangan temannya lagi.
"Kita memang belum tau ... jadi sudah tugas ku untuk mencari tahu apa dan sampai mana batas kekuatanku,"
"*****!! ... jangan anggap remeh setiap pertarunganmu!" Teriakannya itu sepertinya adalah jeritan dari masa lalunya.
Aku yakin mereka bertiga mengalami banyak hal sampai kehilangan seorang rekan tim yang sangat berharga. Mereka sudah berjuang tanpa mempedulikan nyawa mereka sendiri. Hanya demi bumi yang hampir busuk ini.
Cih ...
"Aku tak menganggap remeh ... adikku tinggal di sekitar sini ... aku tak ingin tangan kotor setan itu menyentuh adikku," aku berdiri dan membalik badanku.
"Kaito ... tunggu," suara Fumio itu membuatku menghentikan langkah.
"Kenapa?" Tanyaku tanpa menoleh sedikitpun.
"Hati hati ... kalau sampai terjadi sesuatu ... aku akan membunuhmu!" Ancamnya dengan nada kejam khasnya itu.
"Hmm ...," aku hanya mengangguk dan kembali masuk ke dalam lift.
Aku memutuskan untuk masuk ke kamar Haru yang ada di seberang ruang rahasia itu. Haru masih terbaring kaku di atas ranjangnya. Melihat jendela kamarnya masih terbuka lebar itu, aku perlahan menutupnya.
__ADS_1
"Kaito? ... itu kamu?" Haru membuka matanya tanpa bisa berbuat apa apa.
"Hmm ...," aku duduk di kursi kayu yang ada di samping ranjangnya itu.