Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 106


__ADS_3

Suara jam dinding yang berdetak. Suara keramaian yang ada di luar kamar penginapan ini. Aku berbaring di sofa hitam panjang di sisi ruangan untuk melepas lelah yang menempel di otot kakiku. Kakiku rasanya hampir patah karena menaiki tujuh ratus anak tangga sekaligus dalam beberapa menit. Kalau bukan karena si mesum itu aku tak akan pergi ke sini.


"Senpai, keluar lagi yuk." Ajak Saika berdiri di depan sofa tempat aku berbaring ini.


"Kemana?" Tanyaku tetap memejamkan mataku.


"Ayo lihat pemandangan di ujung gunung ini ...," Saika menarik lengan jaketku berkali kali sama seperti yang Ai lakukan.


"Nanti malem aja biar sepi dulu." Aku tak suka berada di keramaian, itu membuatku tak bisa menikmati pemandangan yang disajikan.


"Ohh, ya udah, beliin aku jajan dong ...," Saika terus menarik lengan jaketku dan aku pun terpaksa membuka kadua mataku dan terduduk di sofa.


"Haa? serius kamu?" Aku mengerutkan dahi ku dan memasang wajah malasku.


"Iya, kan uangku habis buat bayar penginapan." Sorot mata dinginya itu mulai membuatku bosan.


"Hmm, siapa suruh langsung bayar gitu aja?" Aku mulai kesal karena sikap Saika itu.


"Ya udah, mau beli apa?" Lanjutku bertanya.


"Ehh, emm ...," Saika kembali menatap layar ponselnya itu.


Ha, website itu lagi kah?


"Eh?! Se-senpai?!" Saika tersentak ketika aku merebut ponsel dari tangannya itu.


"Saika, ngapain lihat web ginian sih?" Aku mengangkat alis ku tinggi tinggi.


"Etto, ano ... itu ...," wajahnya memerah dan Saika jadi salah tingkah karena pertanyaanku itu.


"Lebih baik jadi dirimu sendiri dan lakukan apa yang dikatakan hatimu tau?" Aku mematikan layar ponsel Saika dan mengembalikan ponsel itu padanya.

__ADS_1


"Ano ...," Saika menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah merahnya itu.


"Huff, ya udah ayo!" Aku berdiri dari sofa dan membuka pintu kamar penginapan.


"Ke-kemana?" Tanya Saika tanpa menatapku sama sekali.


"Katanya mau jajan? kalo gak jadi aku tidur lagi loh." Aku memasang wajah datarku.


"Ohh," Saika mengikuti langkahku untuk keluar dari kamar penginapan.


Si mesum itu sebenarnya hanya anak polos yang tak tahu apa apa. Sekarang aku jadi mengerti asal dari pertanyaan pertanyaan mesumnya itu. Dia sebenarnya tidak mengetahui apa yang sebenarnya ia bicarakan itu. Kami berdua keluar dari penginapan dan masuk ke toko souvenir yang juga menyediakan makanan ringan tepat di sebelah penginapan. Lantai toko ini juga masih terbuat dari kayu, terdapat rak rak yang digunakan untuk memajang souvenir di sisi kiri toko. Sedangkan sisi kanan toko berisi makanan ringan dan beberapa drink machine yang berbaris rapi.


"Kamu mau beli apa?" Aku melangkah ke depan drink machine di sisi kanan ruangan toko ini.


"Ano, ini!" Saika mengambil sebungkus roti yang ada di rak toko ini.


"Ohh, apa mau ku beliin minum sekalian?" Aku memasukan koin ke drink machine itu dan menekan tombol untuk memilih minuman yang hendak aku beli.


"Emm, teh dingin boleh?" Saika mendesakku dari belakang.


"Nih, kamu bayar roti itu ke kasir dulu sana." Aku memberikannya selembar uang kertas.


"Makasih Senpai ...," katanya lalu pergi ke meja kasir yang ada di sudut toko ini.


Aku pun meneguk sekaleng teh dingin ku ini sembari menunggu Saika kembali. Untung saja toko ini sedang sepi pengunjung. Aku jadi tak harus mendengar keributan yang kubenci dan tidak harus berdesak desakan lagi. Aku memandang ke arah langit biru yang indah dari jendela toko. Terkadang aku sendiri bingung kenapa aku suka sekali melihat langit dan awan yang lalu lalang. Tak lama kemudian aku tersadar dari lamunan ku karena Saika tak kunjung kembali. Saat aku mencarinya, dia ternyata sedang berdiri di depan rak souvenir dan terpaku melihat suatu barang sembari memeluk roti yang ia beli barusan. Aku pun menghampirinya.


"Saika?" Aku menempelkan kaleng teh dingin miliknya yang masih berada di tangan kiriku ini ke pipinya.


"Eh?! ada apa Senpai?" Saika terperanjat dan menoleh ke arahku.


"Ini teh mu, dan harusnya aku yang tanya kenapa kamu diam di sini?" Aku memberikan kaleng teh dingin itu padanya dan mencari tahu apa yang membuatnya terpaku di sini.

__ADS_1


Aku melihat sebuah cincin yang terpajang di rak souvenir itu. Mungkin cincin itu yang membuat perhatian Saika memusat ke sini. Aku mengambil cincin perak dengan hiasan batu hijau kecil yang berkilau itu diatasnya.


"Apa kamu mau ini?" Tanyaku menunjukan cincin itu padanya.


"Emm," Saika hanya menunduk dan memeluk sebungkus roti dan sekaleng teh dingin yang baru saja aku berikan itu.


"Hmm ...," tanpa basa basi aku segera melangkah ke meja kasir dan membelikan cincin ini untuk Saika. Setelah membayarnya di kasir aku kembali menghampiri Saika yang berdiri dan tak bergerak sama sekali.


"Hoi, kenapa diem aja?" Aku menepuk pundaknya dan membuatnya kembali tersentak karena terkejut.


"Ano, itu ... apa gak masalah?" Pipinya memancarkan rona merah sembari menunjuk cincin yang kubawa ini.


"Kalau kamu mau ya gak masalah, sini tanganmu ...," aku menarik tangan kanannya perlahan dan memakaikan cincin di jari manisnya.


"Ma-makasih ...," ucap Saika lirih tanpa menatapku.


"Ya udah, ayo balik ke penginapan," aku mendahuluinya keluar dari toko itu dan kembali melangkah masuk ke penginapan. Saika hanya mengikuti langkahku dari belakang. Saat aku melewati pintu masuk penginapan, aku sadar Saika tak lagi mengikutiku. Aku pun membalikan badanku dan kembali keluar dari penginapan.


"Saika?"


Aku melihat Saika berada di depan penginapan dan sedang menekuk lututnya untuk memberi makan seekor kucing hitam dengan roti yang baru saja ia beli itu. Aku menghampirinya dan jongkok di sampingnya.


"Neko," Saika mengusap punggung kucing itu dengan lembut.


"Jadi kamu beli roti buat kucing ini?" Tanyaku.


"Hmm, habisnya dia berdiri di depan sini dan gak ada temennya." Saika mengangguk dan mendekatkan roti di tanganya itu ke depan mulut kucing hitam yang ada di depan kami.


Ohh, lagi lagi pandanganku padanya sedikit berubah ...


Dia terus saja menunjukan sisi baik dalam dirinya padaku, ternyata si mesum itu tak terlalu buruk. Rambut putih tak sampai sebahu yang tertiup angin. Sorot mata dingin yang selalu ia pancarkan. Rona merah yang masih tersisa di kedua sisi pipinya itu. Poni rambut yang menutupi mata kanannya. Bola mata warna ungu yang sedikit memantulkan cahaya. Entah kenapa belakangan ini Saika terlihat lebih cantik dari sebelumnya.

__ADS_1


Hoi! Kenapa aku malah memuji si mesum dingin itu?!


Hatiku masih berada di pihak Ai!! Aku gak akan memilih si mesum itu dari pada Ai!!


__ADS_2