Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 135


__ADS_3

"Taki, jangan bercanda ...," ujar ku lemas saat melihat hal yabg sama sekali tak ku duga.


Sebuah helikopter militer mendarat di tengah tengah lapangan baseball SMP ini dan mambuat kebisingan tak terbatas. Suara baling balingnya itu cukup untuk menarik perhatian anak anak SMP ini dan mereka malah berkumpul di pinggir lapangan bersamaku dan Taki.


"Hmm, kita akan menuju ke bandara." Kata Taki seraya melangkah maju dengan santainya.


"Bandara? Untuk apa?" Aku mengejar langkahnya dan berjalan di sampingnya.


"Kau akan tau," ucapnya dengan wajah culunnya itu.


"Huff, terserahlah ...,"


Kami pun naik ke helikopter militer itu. Di belakang kokpit helikopter ini ada semacam ruang untuk penumpang, dan ciri khas helikopter ini adalah tak memiliki pintu. Hanya tempat kapten dan asistennya saja yang memiliki pintu di kanan dan kiri mereka. Ruang penumpang ini cukup besar, sekitar empat kali tiga meter panjang dan lebarnya. Hanya saja cuma ada empat kursi penumpang yang menempel di dinding besi depan dan belakang. Ketika aku hendak melangkahkan kakiku untuk naik ke pesawat bising itu, Hanabi mengambil perhatianku.


"Kakak!! Apa aku boleh ikut!?" Hanabi berlari ke arah ku dengan sangat cepat.


"Ha?!" Aku menoleh ke arah Taki.


"Boleh kok, sini naik!" Kata Taki dengan senyuman ramahnya itu.


"Ya udah sini kakak angkat!" Aku mengangkat tubuh pendek Hanabi itu agar dia bisa naik ke helikopter. Aku meminta Hanabi duduk di salah satu kursi penumpang dan memakaikannya sabuk pengaman. Setelah kami bertiga siap, sang kapten pun segera menarik tuas kendali dan kami pun perlahan-lahan melayang ke udara.


Aku nyaris tak bisa mendengar suara Hanabi yang berteriak kegirangan karena suara mesin helikopter yang sangat sangat berisik ini. Taki yang duduk di seberangku memberi tanda agar aku memakai Headphone yang disediakan di bawah kursi ini. Aku segera melepas T-phone yang menempel di telinga kananku, lalu memakai headphone yang menutupi kedua telingaku ini. Dan sekarang suasana kebisingan sedikit berkurang, kami bisa berkomunikasi satu sama lain dengan mikrofon yang melengkapi Headphone ini.


"Radio cek! Selamat datang Taki-sama dan juga Okino-sama ... lima menit lagi kita akan sampai di bandara Natsu." Suara kapten yang terdengar melalui alat komunikasi kami ini.


"Terima kasih kalian sudah datang tepat waktu," ujar Taki.


"Tentu saja Taki-sama ... kami tak akan pernah mengecewakan mu! Oh ya, namaku Chou dan kapten di sebelahku ini namanya Chen." Kata co pilot yang duduk di sebelah kiri.

__ADS_1


"Kami adik kakak dan masuk ke Demon Hunter ...,"


"Bisa diem gak, lagi lagi mulut mu seperti mesin helikopter ini." Chen menyela adiknya itu agar tidak berbicara lebih banyak lagi.


"Salam kenal Kaito-sama." Lanjut Chen menyapaku.


"Ohh, panggil aku Kaito saja, aku tak ingin terlihat tua dengan panggilan itu." Kaito-sama, terlihat seperti aku adalah bapak bapak terhormat. Aku memang tak nyaman dengan panggilan kehormatan itu.


"Woh, Kaito, adikmu imut juga!" Chou menoleh ke belakang untuk sekedar melihat Hanabi yang duduk di samping ku.


"*****! Jangan bilang kamu lolicon, kamu sudah punya istri tau!" Chen memukul helm adiknya itu dengan keras. Setelah itu tak ada suara selain baling-baling yang terus berputar tanpa henti. Tanpa sadar aku menoleh ke sisi kiriku dan melihat Natsu tower yang berada jauh di bawah kami. Pemandangan kota Natsu ini begitu indah jika dilihat dari atas sini. Tak lama kemudian kami sampai di wilayah bandara kota Natsu. Dua landasan pacu yang lebar dan panjang dipisahkan oleh rerumputan hijau. Bangunan berbentuk setengah bola yang besar di pinggir bandara itu adalah gedung pusat. Total ada tiga menara kontrol yang terletak di setiap sudut bandara ini. Dan tak lupa ada barisan hangar besar di pinggir landasan pacu itu.


Si pilot kakak beradik itu mendaratkan helikopter yang kami tumpangi ini di depan sebuah hangar yang sangat besar. Setelah kaki helikopter ini menyentuh tanah dengan lembut aku bisa melihat Fumio dan Saika yang berdiri di depan pintu hangar yang tertutup rapat itu. Kami bertiga turun dari pesawat bising itu, Chou dan Chen kembali melayang ke udara untuk terbang entah kemana. Dan aku bersyukur suara bising dan angin kencang itu tak lagi mengangguku.


"Woah, ada kak Saika!!!" Hanabi langsung berlari dan memeluk Si mesum dengan penuh kehangatan.


"Hee? Kamu siapa?" Hanabi penasaran dengan siapa gadis SMP berkacamata yang ada di samping Saika.


"Hua, salam kenal aku Okino Hanabi!" Hanabi memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya oada Fumio.


"Hmm, aku Sakurako Fumio, salam kenal ...," tak ku sangka sang ketua itu tersenyum saat berjabat tangan dengan adikku.


"Whoah, kakak ku punya banyak temen yah seru!!" Hanabi melompat kegirangan dan memeluk Fumio.


"Kaito, ini misi spesial sekaligus pelatihan untukmu." kata kata Fumio membuat Hanabi yang memeluknya itu menoleh kebingungan.


"Buka pintu hangarnya ...," Fumio berbicara pada seseorang melalui T-Phone di telinganya itu.


Jeglek!!! Wusss ...

__ADS_1


Pintu hangar yang besar itu terbuka perlahan-lahan. Dan tak lama kemudian pintu hangar itu sudah sepenuhnya terangkat ke atas. Aku melihat dua buah pesawat tempur modern bersemayam di dalam hangar itu. Aku kembali memakai T-Phone ku, secara otomatis aku langsung tersambung pada Sora. Teman baru ku yang bekerja di balik layar itu.


"Zero C-200 pesawat tempur lapis baja dengan single jet di belakangnya."


"Hanya ada satu seat untuk pilot, berat sekitar 1500kg dengan amunisi, berat bersih sekitar 990kg."


"Kecepatan maksimum 2000km per jam."


"Dilengkapi dua senapan mesin 15.5mm di masing masing sayap."


"Dua misil terpasang juga di masing-masing sayap," ujar Sora menjelaskan semuanya dengan sangat sangat sangat detail.


"Kaito-sama, selamat mencobanya." Kata kata terakhirnya membuatku semakin bingung dan penasaran.


"Tunggu, apa maksudnya ini, dan juga Sora panggil aku Kaito saja!?" Tanya ku sekaligus mengingatkan Sora.


"Misi pertama mu di udara ... hari ini Senpai akan jadi pilot." Kata Saika dengan tatapan dinginya itu menjawab pertanyaanku.


"Hmm, kita akan menghancurkan nyamuk nyamuk itu dengan nyamuk juga." Taki menepuk pundak kanan ku.


"Tapi, kalau pesawat ...," aku ragu kalau aku bisa menerbangkan pesawat tempur.


"Tenang, pesawat ini teknologi paling maju dan sangat mudah di kuasai." Kata Fumio.


"Hmm, kalau begitu, tunggu apa lagi?" Taki langsung melangkah maju masuk ke hangar raksasa itu.


"Tim, bersiap!" Seru Fumio lalu tiba tiba keluar beberapa orang dari ruangan kecil yang terletak di pojok dalam hangar. Orang orang itu memakai jas hitam dan juga kacamata hitam. Mereka memasang tangga menuju kokpit dan membuka kaca berbentuk setengah kapsul yang menutup kokpit itu ke atas.


"Senpai, hati hati ...," Saika menggenggam tangan kiriku.

__ADS_1


"Hmm, aku akan selalu kembali untuk kalian." Ucap ku tersenyum tipis.


__ADS_2