
Kegelapan yang menyelimuti dunia. Bulan sabit yang terlihat jelas terpajang di langit. Awan awan tebal yang menutupi cahaya para bintang. Sunyi, sepi, gelap, mencekam. Aku tepat berada di depan pagar besi besar yang sudah berkarat itu.
Aku bisa melihat dari blalik jeruji besi berkarat itu. Halaman rumah tua ini begitu luas, kursi kursi kayu yang patah dan sudah berlumut. Dua pohon besar yang mengapit jalan setapak menuju pintu rumah. Rumput rumput yang sudah menjulang tinggi.
Rumah tua yang terbuat dari kayu itu cukup besar dan luas. Kaca kacanya sudah pecah tak bersisa. Atap rumah itu pun sudah berlubang. Pintu kayu tua itu sudah tergeletak dan aku bisa melihat kegelapan yang ada di dalam rumah tua itu.
"Kaito ... apa kamu sudah siap? ... aku masih menunggu kamu membatalkan misi ini," suara Fumio yang kudengar dari earphone tanpa kabel yang kupakai di telinga kananku.
"Gak ada gunanya mundur kalau udah sampai sini kan? ...," aku membuka pagar besi yang berkarat itu perlahan.
"Kaito ... tolong kembali dengan selamat ..."
"Nee ... Fumio ... aku punya permintaan terakhir sebelum aku mulai ..."
"Apa?"
"Jika waktunya nanti tiba ... aku minta kamu menelepon Ai dan sambungkan ke radio komunikasi kita ini ...,"
"Oke ...,"
"Ya udah ...aku berangkat," aku mulai melangkah masuk menyusuri jalan setapak yang berlumut dan tak terurus ini.
Jika aku memaksakan diriku sampai batas kemampuanku. Ada kemungkinan aku akan kehilangan kendali. Di saat itulah, aku yakin hanya Ai yang bisa mengembalikan kesadaranku.
"Kaito ... kenapa kamu seyakin itu?", suara Yume yang telah lama tak kudengar.
"Oh ...," aku menghentikan langkahku.
"Yume ... ini adalah kesempatan terakhirku bukan? ... untuk yang ketiga kalinya ... aku akan melawan takdir."
"Kamu sudah punya mimpi yang besar rupanya."
"Semoga berhasil," kata kata terakhir Yume yang kudengar.
Tanpa pikir panjang lagi aku melanjutkan langkahku untuk masuk melewati mulut rumah tua itu yang sudah tak memiliki pintu. Suara suara aneh mulai terdengar di telingaku ketika aku berdiri tepat di depan kegelapan yang ada di dalam rumah itu.
Mati~ Mati~ Mati~
Kami akan membunuhmu~
Tenshi payah~
Bisikan bisikan aneh yang kudengar. Walau aku mendengarnya, tapi hatiku tak goyah sama sekali. Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kegelapan rumah tua ini.
Bwush~~
Aku terkejut ketika tiba tiba hawa dingin menusuk kulitku. Sepatuku menginjak sesuatu yang lembut dan putih. Butiran salju jatuh dari langit, dan ketika aku mengangkat kepalaku. Aku bisa melihat langit biru yang indah disertai benda putih dingin yang terjun bebas dari awan.
__ADS_1
Eh?
Aku sadar dan segera melihat ke sembarang arah sembari mencari tahu dimana aku berada sekarang. Aku hanya melihat hamparan salju putih tak berujung. Bahkan aku tak melihat bangunan sama sekali.
"Cih ..."
Tepat setelah aku mengedipkan mataku. Ratusan Akame sudah mengepungku dengan mulut mereka yang sudah terbuka lebar. Jadi ini yang di sebut sarang iblis. Aku mulai memejamkan mataku.
Ten Kara No Ken~
Ketika mengatakan kata kata itu dalam pikiranku. Secara otomatis aku sudah mengenggam pisau di tangan kananku. Aku mulai merasakan kekuatan mengalir di tubuh bagian kiriku. Diiringi dengan mata kiriku yang sedikit terasa sakit.
"Dengan cahaya aku menghukummu ... dengan kegelapan aku membuatmu menderita ..."
Aku membuka mataku dan melihat tubuh bagian kiri ku dipenuhi retakan yang celahnya mengeluarkan cahaya oranye. Pisau yang kugenggam di tangan kanan sudah berubah menjadi pedang dengan bilah panjang yang bersinar seperti warna darah.
Gimana caranya aku ngalahin mereka sebanyak ini??
Dan kenapa aku tidak pakai jubah seperti kemarin?
"Siapa yang peduli!!!!"Aku menggenggam gagang pedangku menggunakan kedua tanganku.
"Maju kalian!!!!"
Aku berlari ke arah kerumunan Akame yang mengepungku. Tanpa pikir panjang aku menebas kepala mereka satu persatu.
Kepala ... jantung ... perut ... Lengan ...
Semua tak lepas dari ayunan pedangku ini. Aku lagi tak mempedulikan apa yang ada di depanku. Ayunkan, putus lanjutkan itu kepada yang lain.
Darah hitam mereka tumpah ke segala arah. Tanganku sudah diselimuti darah mereka. Seragamku bersimbah darah hitam dari iblis itu. Bau menjijikan ini, aku tak lagi mempedulikannya. Yang ada di pikiranku hanya.
Bunuh ... Bunuh ... Bunuh ...
Jangan sampai satupun tersisa ...
"Aaaghh!!!!"
Aku berteriak untuk membakar semangatku. Aku tak berhenti mengayunkan pedangku ke sana kemari. Keatas dan kebawah, ke kanan dan ke kiri, berputar ke belakang. Tangan Akame yang melayang layang. Kepala mereka yang satu persatu jatuh ke putihnya salju ini.
Tetesan darah hitam yang terjatuh dan membuat salju di bawah kakiku menghitam. Beberapa dari mereka berhasil mencakarku. Lengan kananku, kaki kiriku. Aku tak lagi merasakan sakit.
Bunuh!!! bunuh!!! bunuh!!!
Jumlah mereka berkurang seiring berjalanya waktu. Begitu pun denganku. Tenagaku perlahan menurun. Kecepatan, kekuatan, fokusku. Semua itu juga turun dari setiap tebasan yang aku buat.
Ini belum batas kekuatanku ...
__ADS_1
"Masih belum!!!!"
"Mati kalian!!!!!!"
Aku tak akan menyerah sebelum aku bisa melihat senyuman tumbuh di wajah teman temanku, adikku semuanya. Aku juga akan membuat takdir menerima kenyataan bahwa aku lebih kuat darinya.
"Aaagghhh!!!!"
"Aku tak akan berhentiii!!!!"
"Maju kalian semua!!!"
Berteriak, ayunkan pedangku. Terus seperti itu, satu persatu membuat anggota badan mereka terpisah. Kepala, lengan, kaki, semuanya berjatuhan ke tanah.
Tanpa sadar langit sudah berubah menjadi gelap. Matahari sudah tenggelam dan dan digantikan oleh sang rembulan. Tapi Akame ini tak ada habisnya. Keringat mulai menetes dari ujung poni rambutku.
Padahal cuacanya sedingin ini. Tapi aku sampai melupakan semua rasa itu. Yang kurasakan hanya tubuhku semakin sulit untuk di gerakan. Walau begitu aku belum menyerah.
"Haaaaggghhh!!!!"
Aku berteriak dan berusaha mengayunkan pedangku sekuat tenaga. Aku sadar gerkanku semakin lambat dimakan waktu. Meski begitu, masih tersisa beberapa Akame lagi di depan ku.
Jrak!!!
Aku menebas leher Akame yang terakhir di depanku. Dia terjatuh dan mencair menjadi cairan hitam berbau busuk dan membuat salju itu ternodai.
"Aku berhasil?" Gumamku dengan nafas yang terengah engah.
Aku menusukkan pedangku ke tanah yang berselimut salju ini dan menggunakannya untuk menopang tubuhku yang terasa berat ini. Aku menatap salju yang ada di depan kakiku sembari mengatur nafasku.
Kaki ku terasa semakin berat dan hampir tak kuat menopang tubuhku untuk berdiri. Celana panjangku penuh dengan sobekan dari hasil cakaran para Akame tadi. Kemeja putihku hampir berubah warna menjadi hitam karena darah busuk setan tadi.
"Apa hanya ini batasku? ..."
"Belum ... ini belum selesai ..."
Crak!!!
"Agh!!!"
Tanpa ku sadari, masih ada satu Akame yang berdiri di belakangku. Dia menusuk punggung ku dengan pisau yang ia dapat entah dari mana.
Sial!!!
Aku sudah tak bisa bergerak. Aku sudah tak punya tenaga untuk melawan. Ini pasti adalah akhir dari hidupku. Aku akan berakhir menjadi santapan Akame itu.
"Siaaaalll!!!!"
__ADS_1