Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 98


__ADS_3

Pagi yang cerah, langit biru dan gumpalan awan awan putih yang berterbangan seolah mencari tujuan hidup mereka. Bunga bunga sakura yang bermekaran dan menghiasi jalanan yang biasa kami lewati ini. Angin musim semi yang membuat kelopak bunga sakura berjatuhan ke tanah. Rambut panjang Ai yang tertiup angin pagi hari ini. Aku kembali berangkat sekolah bersama gadis tuli itu.


Seragam putih lengan panjang, rok biru tua pendek. Kaos kaki hitam yang tingginya hampir sampai lututnya. Paras cantik dengan senyum tipis yang selalu ada di sana. Matanya yang lebar itu membuatku bisa melihat kilauan manik matanya dengan jelas. Ai terus memandang ke atas pepohonan yang membuat pagi ini bernuansa merah muda.


Aku benar benar jatuh cinta padanya?


Ai membawa tas tangan berwarna merahnya itu di belakang pinggangnya. Dia menengadahkan kepalanya seakan sangat menikmati keindahan bunga sakura di musim semi ini. Berapa kali pun aku mencoba mengalihkan padanganku darinya, mataku seakan tertarik magnet dan tetap terpusat ke gadis tuli yang berjalan di samping kiriku ini.


"Kaito, maaf ya kemarin ...," Ai menundukan kepalanya dan mulai memperhatikan langkah kakinya sendiri.


"Hmm, soal apa?" Aku memandang lurus ke depan.


"Kemarin aku terlalu egois, aku terlalu memaksakan perasaanku tanpa memikirkan akibatnya." Jelasnya dengan pipinya yang sedikit memancarkan rona merah.


"Ohh ... gak apa apa kok."


"Sang takdir memang akan selalu mempertemukan kita dan menumbuhkan cinta di antara kita berdua."


"Tapi, cinta yang sudah tumbuh menjadi sebuah pohon sakura yang indah itu ...,"


"Hanya akan ditebang oleh kekejaman takdir itu sendiri." Ucapku sembari menarik nafas dalam dalam lalu membuangnya.


"Kaito memang hebat, kata kata itu sangat indah tau?!" Ai menoleh kepada ku dan melempar senyuman seindah pelangi di musim semi.


Lagi lagi waktu seakan membeku. Ratusan kelopak bunga yang terjun perlahan ke tanah itu membuat senyuman Ai semakin terlihat indah. Aku sepertinya memang benar benar jatuh cinta sekarang. Tapi, aku tak ingin cinta ini menjadi malapetaka di masa depan nanti. Tolong, berhentilah bertumbuh dan tetap disitu! Aku tak ingin bilah pedang sang takdir itu kembali menebangmu saat kau tumbuh besar nanti.


"Senpai mesum!"


Bruak~


Saika menabrakku dari belakang. Walau tubuh ku tak goyah sama sekali, tapi tetap saja ku kesal dibuatnya. Lagi lagi adik kelas mesum itu datang dan membuatku malas untuk hidup di dunia ini. Rambut putih yang tak sampai sebahu, poni rambut yang menutupi mata kanannya. Seragam yang sama dengan milik Ai. Mata mereka pun sekarang hampir terlihat sama.


"Saika, bisa gak sekali aja gak bikin masalah?" Aku memasang wajah datarku.

__ADS_1


"Emm, emangnya aku buat masalah apa?" Tanya Saika tanpa ekspresi sama sekali.


"Cih, terserah," Aku tetap melangkah maju tanpa mempedulikan adik kelas mesumku itu.


Pagi ini aku tak lagi di temani satu gadis. Si mesum dingin itu juga ikut berjalan di sisi kananku. Sepertinya sekarang aku dikelilingi para gadis aneh yang membuat hidupku makin penuh kejutan. Si tuli berada di sisi kiriku dan tetap menikmati indahnya bunga sakura yang bermekaran itu. Dan sisi kananku adalah si mesum dingin yang selalu membuatku kesal.


"Ne, Senpai? Kemarin kalian kencan kan?" Kata kata Saika itu membuat aku menghentikan langkahku.


"Gi-gimana?!" Aku sangat terkejut Saika mengetahui kejadian kemarin.


"T phone mu aktif dan aku bisa mendengar semua percakapanmu kemarin." Saika meletakan jari telunjuknya di dagu dan sedikit memiringkan kepalanya.


"T phone?! apa itu?!"


"Ohh, alat seperti Earphone tanpa kabel yang biasa kita pake." Saika menunjukan alat komunikasi kami yang ternyata bernama T Phone itu.


"Tunggu ...," aku merogoh saku celanaku dan menemukan T-Phone milikku masih menyala.


"Fumio, Kakume, dan Haru juga mendengarnya." Ucapan dilengkapi wajah datarnya itu membuatku ingin mati sekarang juga.


Mati aku ...


Aku mendadak lemas dan tak lagi punya semangat untuk pergi ke sekolah. Lagi lagi kejutan sudah menghantamku di pagi hari ini. Pagi yang seharusnya indah dan penuh semangat ini dihancurkan oleh satu kalimat dari Saika itu.


"Kaito? kenapa?" Ai menarik lengan seragam ku dengan wajah bingungnya.


"Gak ada apa apa." Aku kembali berdiri tegak dan melanjutkan langkahku.


"Nee, kalian kemarin ciuman kan?" Setan di sisi kananku ini selalu membekukan semangat ku yang seharusnya membara pagi ini.


"Aku pukul loh kamu ...," ucapku tak berdaya.


"Silahkan ...," Lagi lagi dia memasang wajah tanpa ekspresinya itu.

__ADS_1


"Aahh ... bodo amat lah!" Aku menyerah menghadapi si setan mesum dingin itu.


Kami akhirnya sampai di gerbang sekolah yang terbuka lebar. Kebisingan dan keramaian yang kubenci itu mulai ku dengar dan ku lihat. Saat kami bertiga masuk ke gedung dan menyusuri koridor sekolah bersama. Kami menjadi pusat perhatian bagi murid murid yang ada di koridor ini. Bagaimana tidak, aku seakan seperti berpacaran dengan mereka berdua. Entah gosip aneh apa lagi yang akan tersebar di sekolah ini.


Saika menarik tanganku dan membuat ku menghentikan langkahku.


"Senpai, usap kepalaku dulu dong." Saika sedikit menunduk dengan rona merah yang mulai keluar samar samar.


"Yang ada nanti malah kupukul loh." Aku kembali memasang wajah datarku.


"Ini permintaan terakhirku hari ini. Tolong ...," aku senang mendengar bahwa dia tak akan meminta sesuatu lagi padaku setelah ini.


"Nih, puas?!" Aku mengusap kepalanya dengan sedikit kasar.


"Terima kasih Senpai." Saika berjalan masuk ke ruang kelas 1A.


"Cih ..."


Aku langsung menyusul Ai dan mengikutinya dari belakang. Kami berdua masuk ke dalam kelas bersama sama. Hari ini aku tak melihat tatapan aneh dari teman teman sekelas. Mungkin gosip itu memang sudah benar benar dihilangkan. Akhirnya tak ada masalah lagi pagi ini. Aku bisa duduk tenang dan memandang ke langit biru yang indah di luar jendela.


"Oh iya, Kaito ...,"


"Hari ini pengumuman pemenang lomba novel di musim semi ini loh." Ujarnya sembari menarik lengan seragamku berkali kali.


"Ha?" Aku tersentak dan tersadar dari lamunan ku sendiri.


"Ohh, ya udah. Kita tunggu aja pengumumannya, kalo kamu kalah aku gak jadi buatin novel loh ya?" jelasku memasang wajah malasku ini.


"Oke kakak!"


Senyuman indahnya itu kembali membuatku terpana. Lagi dan lagi, selalu, setiap kali. Setiap detik, setiap jam, setiap hari. Selalu saja seperti ini.


Apa aku benar benar jatuh hati pada si tuli ini?

__ADS_1


__ADS_2