Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 104


__ADS_3

Setelah keluar dari pintu stasiun yang ada di desa Okiyu, aku seperti masuk ke dunia fantasi. Udaranya sangat sejuk, masih banyak pepohonan yang menghiasi pinggir jalan yang ramai para pengunjung yang berlibur ke sini. Gunung Okiyama adalah tempat destinasi wisata yang populer belakangan ini. Selain bisa menikmati udara yang sejuk, berbagai mitos yang melengkapi tempat ini juga ikut meramaikan suasana. Aku juga bisa melihat puncak bukit Okiyama yang seperti tanah lapang dengan beberapa bangunan besar di sana.


"Ne, Senpai, kita langsung ke taman bunga boleh?" Saika menarik lengan jaketku dengan tatapan dinginya itu.


"Hmm," aku mengangguk dan memimpin langkah kami menuju taman bunga yang tak jauh dari stasiun.


Kami berdua berjalan berlawanan arah dengan puncak Okiyama. Aku mengikuti papan petunjuk arah yang terpajang di pinggir jalan dan beberapa persimpangan yang ada di sini. Semakin jauh kami berjalan, pepohonan di sekitar kami berkurang. Dan cahaya sang mentari pun menyilaukan mata ku. Saat aku membuka mataku kembali, di samping kanan dan kiriku terdapat ribuan bunga matahari yang sangat indah. Jalan setapak yang kami pijak, sisi kanan dan kiri hanya ada bunga matahari yang berbaris rapi. Aku hanya bisa melihat warna kuning dari kelopak bunga matahari sejauh mata memandang.


"Woah," Saika melihat ke segala arah dengan matanya yang berbinar itu.


"Hmm," aku tak pernah melihat Saika sesenang ini sebelumnya, ya walau masih belum ada ekspresi di wajahnya.


"Senpai senpai!!! Sini!!" Saika menarik tangan ku dan membuat bahu kami saling bersentuhan. Ia mengangkat ponselnya tinggi tinggi dan mengarahkan kamera depannya ke arah kami berdua.


"Senyum!!" Walau dia bilang begitu, aku sama sekali tak melihat senyum di wajahnya.


Cekrek!!


Saika menekan tombol dan foto kami pun berhasil diabadikan. Aku sama sekali tak tersenyum di foto itu, aku hanya memasang wajah cuekku dan tak melihat ke arah kamera. Saika melihat ke arah kamera dengan sorot mata dingin tanpa ekspresi mukanya itu. Di belakang kami terdapat bunga matahari yang sangat indah yang menjadi background foto kami itu.


"Wah, Senpai apa boleh aku bawa pulang satu?" Tanya Saika seraya memegang satu tangkai bunga dan hendak mematahkannya.


"Tunggu ...,"


"Apa?" Sebelum aku menyelesaikan kalimat ku Saika sudah memetik setangkai bunga matahari itu.

__ADS_1


"Bisa liat tanda itu gak seh?!" Aku menunjuk ke papan yang ada di pinggir jalan setapak itu.


"Dilarang memetik atau merusak bunga ..., aduh, terlanjur." Aku sama sekali tak melihat rasa penyesalan di raut mukanya itu.


"Hmm, ya sudah lah." Aku sudah lelah dengan sikapnya yang tak bisa ditebak itu.


"Himawari!" Saika mendekatkan bunga itu ke hidungnya dan menghirup aroma wanginya bunga matahari itu.


Himawari? Ohh, artinya bunga mata hari dalam bahasa jepang.


Angin di akhir musim semi hari ini pun berhembus dan membuat bunga matahari di sekeliling kami bergoyang ke sana kemari. Rambut putih Saika yang tertiup sang angin, bunga matahari yang menutupi setengah dari wajahnya. Aku hanya bisa melihat bola mata ungu yang sangat mirip seperti milik Ai. Baru kali ini aku melihat matanya itu dengan jelas, dan sekarang aku terpana karena melihat kecantikan si mesum itu.


"Senpai, terima kasih!" Saika membalik badannya dan membawa setangkai bunga matahari itu di belakang pinggangnya.


"Hmm," aku hanya mengangguk dan berusaha mengalihkan pandanganku darinya.


Saika senyum? Apa ini tanda kiamat?


Ya udahlah, gak salah juga kan kalau dia senyum?


"Saika, mau kemana lagi?" Tanyaku seraya memasukan kedua tanganku ke dalam saku celana.


"Ohh, emm ..., tunggu bentar!" Saika memasukan bunga mata hari itu ke dalam tas tangannya dan mengambil ponselnya.


Hmm, apa dia bakal liat web aneh itu lagi?

__ADS_1


"Sa-i-ka ..., ayo jalan!" Aku menggenggam lengannya dan menariknya supaya ia mengikuti langkahku dan tak membaca saran dari web aneh itu lagi.


"Ta-tapi Senpai," rona merah mulai muncul di kedua sisi pipinya itu.


"Hmm, kita ke puncak Okiyama habis itu kita pulang." Aku tak ingin berlama lama di sini, yang ada, nanti malam aku kelelahan sebelum aku menjalani misi.


Sesaat kemudian kami pun sampai di gapura besar tempat untuk naik ke gunung Okiyama. Terdapat semacam papan pengumuman yang terpajang di tiang kayu. Papan tulisan itu berada tepat ditengah jalan sebelum anak tangga pertama. Papan itu hanya berisi informasi tentang jumlah anak tangga yang akan kami naiki dan juga mitos setempat. Di sini tertulis jika ada pasangan yang berhasil menaiki tujuh ratus anak tangga sebelum matahari terbenam. Maka impian mereka akan terwujud.


"Aduh, mati aku," aku sudah lemas terlebih dahulu ketika melihat anak tangga yang tak terlihat ujungnya itu.


"Aku ada di sini untuk melindungi Senpai," Saika menarik tangan kiriku dan memaksa ku mengikuti langkahnya untuk menaiki anak tangga menuju puncak bukit itu.


Satu menit berlalu, puluhan anak tangga berhasil kunaiki. Kedua kaki ku mulai terasa berat. Beberapa menit berlalu lagi, aku menghentikan langkahku dan duduk di tengah anak tangga untuk beristirahat sejenak.


"Senpai lemah," ejek Saika dengan sorot mata dingin yang kubenci itu.


"Berisik!" Semangatku kembali terbakar dan tak ku sangka aku bisa melanjutkan langkahku lagi.


Satu menit kembali berlalu, kecepatanku berkurang drastis. Lututku mulai berbunyi aneh, pergelangan kaki ku terasa sangat lelah. Otot kakiku sangat panas, inilah nasibku jika tak pernah berolahraga. Saika terus menggandeng ku dan memaksaku untuk tetap bergerak. Aku hampir mati di buatnya, apa dia tak bisa membiarkan ku istirahat sebentar saja? Dia itu setan atau apa seh?!


Beberapa saat kemudian akhirnya saat saat yang kutunggu tiba. Aku berhasil menaiki anak tangga terakhir dan menginjakan kakiku di puncak gunung Okiyama ini. Aku berhenti sejenak untuk mengatur nafasku. Aku membungkuk dan meletakan kedua tanganku di lututku untuk menyangga tubuhku. Rasanya aku ingin muntah karena rasa lelah yang mengguyur sekujur tubuhku ini.


"Senpai, apa mau ke kafe dulu?" Saika menarik lengan jaketku dan membuat ku kembali berdiri tegak untuk melihat sekeliling.


Ternyata puncak Okiyama ini seperti dataran biasa. Ada satu penginapan tradisional dan beberapa kafe yang ada di pinggir jalan. Aku juga melihat toko oleh oleh yang ada di samping penginapan itu. Ini pertama kalinya aku kesini, ternyata tempat ini ramai juga. Banyak pengunjung yang lalu lalang dengan canda tawa mereka.

__ADS_1


"Apa Senpai haus?" Tanya Saika mendekatkan wajahnya padaku.


"Hmm, jangan tanya lagi seh!"


__ADS_2