Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 199


__ADS_3

-Arthur Mafuyu-


"Panggil saja aku Arthur, senang bertemu denganmu lagi nona Saika." Salam pembuka sembari sedikit membungkukan badan ala pelayan istana.


"He? No-nona?!" Rona merah di pipinya itu masih sama seperti dulu.


"Bisa beri aku sedikit waktu bersama gadis cantik ini?" Pintaku sembari menoleh ke arah Hanabi.


"Ohh, silahkan," Saika membatalkan niatnya untuk masuk ke kamar ini dan kembali menutup pintunya.


"Okino Hanabi, kembang api yang besar, arti nama yang bagus." Kataku sembari melangkah ke depan rak buku besar di kamar ini.


Aku sekedar melihat-lihat koleksi novel remaja milik Hanabi. Dari sekian banyak buku-buku yang berbaris rapi di rak ini. Perhatianku tertuju kepada satu buku dengan cover warna merah muda. Aku merasa bahwa novel ini memiliki kenangan yang berharga bagi Hanabi. Tentu aku tahu, karena aku adalah penyihir dan penerawang yang hebat.


Berbeda dengan Fuyuka, aku jauh lebih hebat darinya. Tapi aku tak punya cukup tekad untuk bertarung. Dan selama aku bersemayam di dalam tubuh anak keras kepala itu, perlahan secercah tekad tumbuh di dalam hatiku ini. Cukup sampai di sini dulu cerita tentang diriku, berlanjut ke gadis kecil yang masih kebingungan itu. Hanabi hanya duduk dan bersandar pada dinding, ia menekuk kedua kakinya dan meletakan dagunya di atas lutut.


"Natsu no Hanabi." Gumamku setelah membaca judul novel yang menarik perhatianku ini.


Tunggu?


Setelah menyentuh dan mengambil buku ini. Aku sekarang tahu dari mana asalnya. Ini adalah buku yang dipilih oleh Kaito, ia membelikan buku ini untuk adiknya tercinta. Novel ini dibeli musim dingin tahun ini. Tepat sebelum sekolah dimulai, awal dari kisah perjalanan Kaito ini. Aku bisa merasakan kenangan yang mengalir di buku ini. Hanabi menganggap novel ini istimewa karena ini adalah terakhir kalinya Kaito membelikan barang spesial untuk Hanabi.


Kemampuan menerawangku memang bisa diandalkan. Aku bisa mengetahui segalanya hanya dengan menyentuh barang atau memikirkannya saja. Tapi aku tidak suka memakainya, karena itu curang.


"Hmm, Hanabi? Suka baca novel?" Ujarku lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjangnya itu.


"Iya ...," ia hanya mengangguk tanpa melihatku sama sekali.


"Nee, dengar Hanabi, jika kamu marah pada kakakmu Tomoya. Itu wajar, tak seharusnya ia bilang Kaito berubah jadi iblis."


"Humm, tapi gimana kalau kakakmu ternyata memang berubah jadi iblis?"


"Mana mungkin!? Kak Kaito itu penyelamat dunia ini kan?!" Teriak Hanabi menyangkal pertanyaanku.


"Hemm, Hanabi lihat ini!" Membuka telapak tangan kananku yang berisi dua tangkai bunga mawar. Yang satu berwarna putih dan yang satu lagi berwarna merah. Ini adalah permainan sihir yang sering kutunjukan pada bocah.


"Coba kamu pilih satu," Aku mendekatkan dua tangkai bunga yang kugenggam ini kedepan wajahnya.


"Ini," katanya dengan suara kecil lalu menarik setangkai mawar putih dan meninggalkan mawar merahnya di tanganku.


"Kenapa pilih putih?" Lanjutku bertanya.


"Bersih, seperti cahaya, aku suka warna putih." Jawabnya fokus memandang ke bunga di tangannya itu.

__ADS_1


"Apa kamu yakin?" Tepat setelah aku mengucapkan itu, setangkai bunga di tangan Hanabi itu perlahan berubah jadi abu yang berjatuhan ke atas selimutnya.


"He?!" Ia hanya bisa membuka matanya lebar dan bingung akan apa yang terjadi.


"Hanabi, terkadang apa yang bagus di matamu, bisa berubah jadi abu dalam sekejap." Aku memandangi mawar merah yang kugenggam.


"Karena itu kamu bisa salah pilih kan?" Bunga mawar merah di tanganku ini lenyap jadi butiran cahaya.


"Sebagai penyelamat dunia ini, Kaito juga punya pilihan. Tapi yang namanya manusia, dia tak selalu benar kan?" Aku berdiri dari tempat dudukku.


"Tapi kalau kamu salah, bukan berarti kamu buruk di mata orang lain." Aku menggunakan sihirku untuk memunculkan sebuah batu permata kecil di atas telapak tangan kananku.


"Hanabi, maaf soal bunga tadi,"


"Cahaya dari surga, bantu aku dengan cahayamu!" Aku merapalkan mantra dan batu permata warna biru itu berubah menjadi gelang yang sangat indah. Gelang silver dengan hiasan berlian biru di atasnya.


"Bolehkah?" Aku berlutut dan mengulurkan tangan kiriku. Hanabi yang kebingungan hanya diam dan menerima uluran tanganku.


"Gelang ini akan bertahan selamanya, tenang saja." Secara perlahan dan lembut aku memakaikan gelang ini di tangannya.


"Te-terima kasih." Pipinya yang memerah itu sedikit memuaskan hatiku.


"Lolicon ...," Munmei mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka itu.


"Oi oi, dewi perang yang suka ngintip." Sindirku tanpa menoleh sama sekali.


"Ssssttt ... yang mulia, jangan banyak bicara." Aku menyumbat mulutnya hanya dengan meletakan jari telunjukku di depan bibirnya itu.


"Heeee?!" Munmei tersentak sembari melakukan beberapa langkah kecil ke belakang.


"Meii!! Darurat!! Huf ... huf ... huf ...," Saika berlari menuruni tangga dan berakhir di depan kami dengan nafas yang tak beraturan.


"Ada apa?" Tanyaku mengerutkan dahi.


"Kaito! Dia ada di daerah Chizu!" Teriakan Saika itu membuat Hanabi terkejut.


"Kakak! Kakak ada di sini!?" Hanabi melewatiku dan hendak berlari keluar dari rumah ini.


"Ha-na-bi ...," mudah saja, tinggal melakukan teleportasi untuk mencegatnya di pintu keluar.


"Jangan halangi aku!!!" Pekik Hanabi sembari memukuli perutku dengan tangan lemahnya itu.


"Siapa bilang aku halangin?" Ucapku dengan seringai senyum tipis.

__ADS_1


"He? Apa aku boleh ikut kak Arthur?" Tatapan wajah dari bocah tak berdosa itu memuaskan hatiku.


"Tunggu apa lagi?!" Ujar Saika yang masih panik itu.


"Bersiaplah untuk pusing," ujarku sembari memanggil Tengoku no Yari atau tombak dari surga milikku ini.


"Hua, aku siap!" Munmei juga sudah bersiap dengan pedangnya.


"Kalau gitu, Hanabi?" Aku menggandeng tangan adik Kaito ini.


"Tombak suci bawalah kami menuju tokoh utama cerita ini!" Aku menghentakan ujung tombakku ke lantai. Secara otomatis tubuh kami berempat diselimuti cahaya yang sangat terang. Beberapa saat kemudian cahaya terang di tubuh kami menghilang dan kami juga sudah berpindah tempat.


"Siapa kalian?" Kaito menoleh ke arah kami dengan pakaiannya yang sudah penuh dengan bercak darah itu.


Daerah Chizu ini sudah rata dengan tanah karena pertempuran Shinjiro melawan Yuuta. Ini bukan lagi tanah yang damai, tempat ini adalah medan perang. Dan sekali lagi, akan ada pertarungan di sini. Aku tahu Kaito tak sendiri, ia membawa temannya yang belum muncul.


Tu-tunggu?!


Kekuatan macam apa itu?!


Sihir tingkat tinggi pengendali api. Sihir tingkat tinggi pengendali gravitasi. Ia juga memiliki kemampuan berpedang yang hebat. Di dalam pedangnya itu sudah tertanam sihir api, angin, dan juga tanah. Kaito juga memiliki kemampuan time control. Tubuhnya juga sepertinya kebal terhadap serangan fisik.


Manusia macam apa yang jadi wadah kekuatan ha?! Ditambah dia juga bisa mencuri kekuatan?! Dia benar benar dewa!


Tenanglah, aku punya tiga senjata di sini. Munmei punya kemampuan serangan yang hebat, Saika memiliki perisai yak tertembus. Hanabi, dia punya kemampuan bertarung yang hampir setara dengan Munmei. Hanya saja serangan sihirnya lemah. Attacker, Shield, Assassin, tiga kunci yang kugenggam untuk menyelesaikan pertarungan ini.


"Arthur, kenapa kamu ikut ke sini? Bukanya kamu ga bisa perang?" Ejek Munmei.


"Hmm,"


"Saika, menyeranglah bersama Munmei, lindungi dia!"


"Munmei, jangan ceroboh, buat celah supaya Hanabi bisa menyerangnya!" Perintahku itu membuat Munmei dan Saika terdiam.


"Jangan diam saja! Apa kalian siap!?" Aku mempertegas ucapanku.


"Baik!" Seru Saika yang sudah berubah ke mode Cyber Shield dengan zirah hitamnya itu.


"Oke oke, sok merintah!" Munmei juga sudah siap dengan pedangnya. Tapi seperti yang kuduga, dia masih belum serius.


"Hanabi, ini kesempatanmu untuk menyadarkan kakakmu," aku mengusap kepalanya lembut.


"Apa kamu siap?" Tanyaku dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Kalau bukan sekarang, kapan lagi ...," ia menatapku tajam dengan bola mata yang bersinar biru terang. Pisau di genggaman tangan kanannya itu menunjukan tekadnya.


"Hmm, pertarungan dimulai ...,"


__ADS_2