Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 115


__ADS_3

Kaito


"Aku, aku dimana?"


Jutaan bintang yang menghiasi langit malam ini. Ramai, suara percakapan banyak orang yang terdengar di telinga dalam satu waktu yang sama. Aku berdiri di tengah keramaian itu dengan tangan kanan dan kiriku yang menggandeng dua orang gadis.


Sepertinya tempat ini tak asing bagiku, ini adalah lapangan di taman festival Natsu. Suasana ini juga, pasti ini adalah puncak perayaan musim panas. Saat dimana ratusan kembang api akan diledakan di angkasa. Tapi, siapa dua gadis yang mengapitku di tengah keramaian ini?


Dia?!


Aku menoleh ke kanan dan melihat Mirai Ai dengan rambut pirang keemasan yang terurai itu. Dia memakai Yukata kuning motif bunga yang sangat cocok dengan warna rambutnya. Dia tersenyum kepadaku saat menyadari aku sedang menengok ke arahnya.


Sebenarnya aku ini di mana?


Aku melirik ke kiri dan melihat gadis pendek dengan rambut pirang keemasan sebahu. Dia memakai jepit rambut merah. Paras imutnya itu tak pernah kulupakan, dia tersenyum tipis sembari menengadahkan kepalanya. Dia mengenakan Yukata kuning motif bunga yang sama persis seperti kakaknya itu.


"Ne, Kaito? Kaito?" Suara tak asing yang ku dengar dari telinga kananku, tarikan lengan baju yang juga sering kurasakan. Aku menoleh ke kanan dan melihat Mirai yang sudah berubah menjadi Ai yang kukenal sekarang ini. Rambut panjang hitamnya, bola mata ungu yang berbinar. Senyum indah yang selalu ia lemparkan padaku. Dia mengenakan Yukata putih bermotif bunga warna merah muda yang membuatnya terlihat anggun.


Ha?


"Senpai?" Nada datar yang kumasuk ke lubang telinga sebelah kiriku. Itu pasti suara si mesum. Dan benar saja, saat aku kembali menoleh ke posisi dimana seharusnya Ame berada. Sisi kiriku berdiri gadis cantik dengan rambut putih tak sampai sebahu, bola mata yang sama persis seperti milik Ai. Dia memakai penjepit rambut agar poni rambutnya tak menutupi mata kanannya. Ia mengenakan Yukata hitam dengan motif bunga warna putih.


"Pertunjukan di mulai!!!" Seru seseorang dengan mikrofon yang keras.


Chwush!!! Duar! Dar!!!


Warna warni kembang api mulai menghiasi langit malam ini. Semua orang bersorak gembira dan tertawa lepas. Semua perhatian terpusat ke atas langit. Tapi tidak denganku, aku malah menoleh ke kanan dan ke kiri melihat dua gadis yang serupa tapi tak sama ini. Aku menggenggam tangan mereka dengan erat dan seakan tak ingin mereka lepas dan lenyap dariku. Senyum indah dari Ai, wajah tanpa ekspresi dari Saika. Mereka bagaikan cahaya dan kegelapan yang tak bisa bersatu.

__ADS_1


Ha?!


Di saat yang sama aku merasakan tepukan di pundak kananku. Aku membuka mata ku dan kembali ke dunia nyata. Aku duduk di kursi meja makan markas timku. Tadi aku tertidur dan meletakan kepalaku di atas meja. Alangkah terkejutnya aku ketika melihat orang yang menepuk pundakku adalah Takumi. Aku terperanjat sampai kursiku terbalik dan membuat ku terjatuh ke lantai.


"Hoi hoi? segitu takutnya kamu sama orang yang baru saja menyelelamatkan mu?" Takumi mengangkat alisnya tinggi tinggi.


"Aku, ohh ...," aku bangkit berdiri dan membenarkan posisi kursi yang terjatuh bersamaku tadi.


"Kaito, duduk aja di situ lagi ...," Takumi melangkah ke seberang meja dan duduk di kursi yang ada di sana.


"Oh iya?! Saika?!" Aku baru mengingat kejadian semalam dan panik karena Saika kemarin terluka parah.


"Tenang dulu ...," ucap Takumi santai meletakan sikunya di atas meja dan menyangga dagunya dengan tangan kanannya.


"Hmm," aku mempercayai kata katanya itu dan kembali duduk di tempatku semula.


Hikaru Saika, adalah Tenshi yang sudah kehilangan tangan dan kakinya sejak kecil karena kecelakaan maut yang menewaskan kedua orang tuanya. Kakaknya berhasil menyelamatkan Saika dan membawa adiknya itu ke rumah sakit dengan tepat waktu. Saika memang masih selamat. Tapi tidak dengan kedua kaki dan tangannya. Saika hidup tanpa tangan dan kaki selama bertahun tahun dan dirawat oleh kakak laki lakinya di rumah sakit.


Tak lama kemudian keajaiban pun terjadi. Ren, tunangan dari Takumi itu tak sengaja bertemu dengan Saika karena sebuah kesalahan kecil. Ren salah masuk ruangan, dia seharusnya menjenguk Takumi di kamar sebelah. Ren tertarik pada Saika sejak pandangan pertama, Ren merasa Saika mempunyai kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Dan benar saja, ketika Saika dibawa ke lab Demon Hunter di Paris Prancis, ramalan dua gadis terpilih itu muncul secara tiba tiba. Dan siapa sangka, si mesum itu adalah salah satu dari gadis terpilih. Dan sejak saat itu Ren meminta izin pada kakak Saika untuk memasang tangan dan kaki palsu di tubuh adiknya itu.


Kakaknya tersenyum bahagia dan langsung menerima tawaran Ren. Para ilmuan dan progamer yang bekerja untuk Demon Hunter bekerja keras untuk mengembalikan tubuh Saika Seutuhnya. Dan akhirnya terciptalah tangan dan kaki robot yang benar benar menyatu dengan tubuhnya. Bahkan aku sama sekali tak bisa membedakan tangan robot Saika dengan tangan manusia biasa. Dan cerita Takumi berakhir di situ, dan sekarang jelas sudah kenapa Saika bilang ada yang salah dengan mesinnya.


"Dan sekarang, dimana Saika?" Tanyaku setelah cerita panjang itu berakhir.


"Dia sedang diperbaiki di bawah, Ren dan Fumio pasti bisa memperbaiki pacar keduamu itu." Jawab Takumi santai.


"Dia bukan pacar ku ... lagi pula aku tidak punya pacar ...," ujarku dengan wajah datar.

__ADS_1


"Hua? tak ku sangka sang terpilih itu seorang playboy." Ejek Takumi dengan senyuman tipis.


"Huff, terserahlah ...," aku merasa aneh, karena aku akrab dengan calon pembunuhku itu.


"Satu lagi, apa aku boleh sering berkunjung ke rumahmu untuk bertemu Hanabi?" Pertanyaan Takumi yang sama sekali tak terlintas di pikiranku.


"Mau apa?" Tanyaku.


"Ya, gak apa apa sih, cuma mau lihat adikmu aja." Takumi tersenyum sembari menggaruk kepalanya.


"Hoi?! Apa jangan jangan kamu suka sama adikku ha?!"


"Ternyata kamu sendiri yang playboy, lolicon lagi!"


"Sudah punya tunangan masih aja ngelirik adikku!"


"Aku tak akan membiarkanmu menyentuh Hanabi, nanti kamu malah berbuat aneh aneh." Aku melipat tanganku di depan dada dan memasang wajah marah.


"Hoi!!! Jaga mulutmu itu!"


"Jangan bilang kamu itu suka sama adikmu sendiri ha?"


"Kamu sudah punya dua pacar dan masih mengincar adikmu sendiri ha?"


"Laki laki macam apa itu??"


"Jangan bilang kamu tinggal berdua dengan adikmu dan sudah mengambil kesempatan itu!"

__ADS_1


"Kamu udah ena ena sama adik sendiri kan?" Takumi membalas semua perkataan yang aku lontarkan sebelumnya.


__ADS_2