
Suara kecil percakapan orang orang. Suara tawa dan suara sendok yang berbenturan dengan piring dan gelas gelas. Pelayan yang mondar mandir kesana kemari membawa nampan yang berisi pesanan para pelanggan. Ya, aku berada di dalam sebuah kafe bergaya klasik. Barang barang hiasan di sini nampak antik dan bernilai seni tinggi. Beberapa meja bundar dengan masing masing empat kursi yang mengelilinginya. Aku duduk berhadapan dengan Hayato di meja yang ada di samping kaca jendela.
Kaca di samping kananku ini menyajikan pemandangan yang tak biasa di tengah kota Natsu. Tak ada kendaraan ataupun manusia yang lalu lalang. Yang kulihat hanyalah tembok di seberang jalan kecil itu. Kafe 'Wasterland' itulah nama tempat ini. Tempat ini terletak di gang kecil sela sela gedung pencakar langit. Sepi, tapi kafe ini lumayan ramai pengunjung. Dengan begini tak ada suara bising mesin kendaraan dan langkah kaki para manusia.
Di atas neja kami masih belum ada satu pun makanan atau minuman. Itu karena kami berdua menunggu seseorang. Kata Hayato orang itu juga sering ke sini bersamanya. Dan aku mengenalnya, disaat yang samaa seseorang masuk ke dalam kafe ini dan membunyikan lonceng kecil yang otomatis berbunyi ketika pintu dibuka. Laki laki kacamata bundar, rambut hitam dengan poninyang dibelah tengah. Dia memakai setelan jas hitam yang tak biasa ia kenakan. Dia adalah Taki, intelejen dari DH. Entah kenapa aku merasa Enjeruhanta bukanlah musuh, karena beberapa orang DH bersahabat dengan anggota Enjeruhanta.
"He? Kaito?" Taki menyadari keberadaanku kerika ia hendak medekat. Kami bertiga pun duduk di atas kursi mengelilingi meja bundar kayu ini. Kami pun memesan minuman yang kami inginkan masing masing. Aku memesan jus lemon dan Hayato memesan minuman yang sama. Tidak dengan Taki, dia memesan jus apel yang pasti itu kesukannya. Tak lama kemudian pelayan datang dan meletakan ketiga gelas pesanan kami itu. Untuk beberapa detik kami merenung sejenak.
"Taki, bagaimana hasil autopsinya?" Tanya Hayato memecah kesunyian.
"Hmm, ini ...," Taki memberikan selembar kertas kepada Hayato.
"Autopsinya diatasi DH?" Tanyaku bingung.
"Dasar *****, kalau autopsinya diatasi kepolisian, mereka ga akan ngasih tau kebenarannya." Taki menepuk keningnya sendiri. Dan dari kata katanya itu aku ingat bahwa kepolisian ada di pihak Shogun.
"Hmm, luka tusukan di jantung dan satunya leher terlepas." Gumam Hayato membaca surat hasil autopsi yang baru saja diberikan Taki.
"Aku paham ... semua sudah jelas ... sahabatmu itu masih hidup." Hayato menepuk pundakku setelah selesai membaca surat hasil autopsi itu.
"Ha?"
Hayato langsung menjelaskan alasan pernyataannya barusan. Pertama, kejadian dimulai saat Raku hendak membuka bungkus makanan ringan yang kulihat kemarin. Lalu bungkus itu meledak dan membuat Raku terkejut. Di saat yang sama beberapa orang ninja mendobrak masuk dan menyerbu Raku. Terlihat dari gagang pintu depan rumah Raku yang patah. Tentu saja Raku panik dan berlari menaiki tangga untuk kembali masuk ke kamarnya.
Bukan untuk berlindung, Raku mengambil katana yang ia pajang di dinding kamarnya. Aku pernah kerumahnya dulu dan melihat sebuah katana terpajang di dinding samping pintu kamar. Dan sekarang katana itu hilang. Raku bertarung melawan beberapa ninja itu sampai dirinya berhasil membunuh dua orang dengan pedangnya. Itu karena Hayato melihat bekas bercak darah di lantai kamar Raku. Untung saja bekas darah itu masih bisa terlihat karena hampir semua bagian kamar Raku terbakar habis.
Dan saat yang tidak menguntungkan terjadi. Bilah pedang Raku patah dan terlempar keluar jendela kamarnya. Pedangnya itu sudah ada sejak aku SMP, dan aku yakin tidak pernah diasah. Oleh karena pertarungan kecilnya dengan para ninja pedangnya bisa patah. Lalu setelah Raku kehilangan senjatanya, ledakan yang tidak wajar terjadi. Tidak ada bekas tanda tanda bom atau benda yang bisa memicu ledakan sebesar itu. Raku, aku yakin dia menyembunyikan sesuatu.
Tunggu?!
__ADS_1
Ninja jonin yang aku lawan malam itu. Jangan jangan itu adalah Raku. Pantas saja saat melihat bola matanya aku mengingat seseorang. Sial, bagaimana bisa ia terlibat dengan Shogun?! Kenapa dia bisa sampai sejauh itu?!
"Taki, kau ingat beberapa ninja yang kita lawan saat pertama kali kita ketemu?" Aku langsung saja memberitahukan hal ini pada mereka.
"Iya? Kenapa?" Taki menyeruput segelas jus apel miliknya.
"Jonin itu, dia adalah Raku." Satu kataku yang menjelaskan semuanya.
"Ha?! Serius?" Taki mengernyit tak percaya.
"Jadi begitu ... dengan begini penyelidikan sukses." Hayato menghela nafas dan meneguk segelas jus lemonnya.
"Hmm aku paham ... Raku punya konflik internal dengan Shogun."
"Dan itulah yang membuat Mina diserang oleh beberapa ninja."
"Hufff, untung dia masih hidup." Aku memegang kepalaku sendiri menyadari duniaku menjadi semakin rumit.
Graaanghhh!!!
Tiba tiba ada Akame yang menbuka pintu masuk kafe ini dan menimbulkan kepanikan kepada pengunjung lain. Aku yang melihat ada sebuah pistol di pinggang Hayato pun segera bergerak cepat. Aku merebut pistol Hayato dan berdiri dari tempat dudukku. Aku segera memuntahkan peluru keluar dari moncong senjata ini. Tiga tembakan kulancarkan dan semua peluru itu mengarah tepat ke jantungnya. Ketika melihat Akame itu belum mati, aku kembali menarik pelatuk dengan jari telunjuk.
Duar!! dor!! dar!!! Krak!!!
Pada tembakan keenam aku berhasil memecah jantung Akame itu dan membuatnya tersungkur di tanah. Tak lama kemudian dia kembali meleleh menjadi cairan hitam yang menjijikan. Sontak semua perhatian pengunjung dan para pelayan terpaku padaku.
"Ekhem ... tenang ... kami polisi!"
"Jangan panik, kami akan melindungi kalian bila ada zombie yang muncul!" Pekik Hayato berdiri dari tempat duduknya dan menunjukan lencana kepolisiannya.
__ADS_1
"Apa apaan ini!?"
"Jadi itu zombie yang di maksud?!"
"Apa kiamat sudah dekat?!"
"Aku pergi saja dari sini!"
Tentu saja pengunjung yang tak tahu apa apa tetap saja panik. Tapi karena Hayato aku sedikit terbantu. Aku mengembalikan pistolnya dan kembali duduk di tempatku. Aku segera meneguk segelas lemon dingin milikku sampai habis.
"Kaito, tenangkan dirimu." Hayato menepuk pundakku seraya kembali duduk dia atas kursinya.
"Entah apa yang akan aku jelaskan pada Mina," aku merogoh saku celana dan mengambil ponselku.
"Lebih baik kamu tidak katakan ini kepadanya, buatlah dia tenang terlebih dulu." Saran Hayato.
"Hmm, ya sudah aku pergi dulu ...," aku kembali berdiri dan melangkah meninggalkan kedua temanku itu. Perjalananku hari ini belum selesai, aku kembali ke pemukiman Chizu untuk pergi ke markas tim Fumio. Setelah beberapa belas menit perjalanan. Aku akhirnya sampai di depan rumah tim Fumio. Aku segera turun dari mobil dan membiarkannya berlalu begitu saja. Sungguh mudahnya hidupku sekarang, aku bisa pergi kemanapun dengan fasilitas yang disediakan DH untukku.
"Halo selamat datang ... Eeh?!" Sudah kuduga Kakume juga terkejut melihat penampilan baruku ini.
"Hmm, apa aku boleh masuk?"
"Woo tentu!" Kakume mempersilahkanku masuk ke dalam.
"Aku mau ketemu Fumio dulu ya, maaf ngerepotin." Aku langsung menaiki tangga menuju ke lantai dua.
"Hee? Dasar playboy, dateng dateng langsung ketemu cewek." Ujaran Kakume yang terdengar.
"Terserah ...," jawabku santai.
__ADS_1