
Sial!!!
Aku sama sekali tidak bisa berbuat sesuatu. Tubuh ku di injak oleh Takumi dan membuat ku tak berdaya. Sepertinya aku memang berakhir di sini saja. Aku sama sekali tidak punya kesempatan untuk melawan Tenshi terkuat.
Apa yang ku pikirkan? ...
Untuk apa aku melawannya?
Aku hanya membuang nyawa ku saja ...
Sesaat kemudian cahaya tubuh ku memudar. Perlahan tapi pasti cahaya tubuh ku lenyap dan pakaian ku mulai terlihat kembali. Lengan dan kaki ku kembali seperti sedia kala. Aku sudah terkena Lock kali ini. Itu juga pertanda bahwa hidup ku berakhir di sini.
"Kaito ... apa ada pesan terakhir untuk adik mu?", tanya Takumi seraya memandang ke atas langit.
Apa?
-----
"Kakak! ... tunggu dulu! ... aku mau bilang sesuatu ...", teriak Hanabi seraya berlari keluar dari dalam kamarnya.
Aku pun menghentikan langkah ku yang ingin keluar dari pintu depan rumah. Malam ini aku hendak menuju ke markas rahasia tim Demon Hunter. Walau aku masih terluka, tapi aku masih sanggup untuk bertarung.
"Ano ... pulang nanti ..."
"Bawain jajanan?", aku menebak apa yang ingin dia katakan.
"Hehe ... bukan itu aja ... ano ini ...", Hanabi terkekeh dan pipinya mulai mengeluarkan rona merah.
"Apa? ..."
"Bawa ini dong kak ...", Hanabi memberikan sesuatu pada ku.
"He? ... buat apa ini?", tanya ku bingung saat menerima kertas yang sudah dilipat menjadi kecil.
__ADS_1
"Jangan di buka sekarang ... buka waktu perjalanan pulang ... ya udah gitu aja ...", Hanabi kembali berlari masuk ke kamarnya dan tak memberi ku penjelasan tentang isi dari kertas yang ia berikan pada ku.
------
Seketika aku mengingat kejadian sebelum aku berangkat ke markas malam ini. Hanabi memberi ku kertas yang sudah dilipat dengan tulisannya yang ada di dalamnya. Dan aku meletakannya di saku celana ku.
Mungkin sebelum aku mati, aku akan membaca tulisan terakhirnya malam ini. Aku mengambil kesempatan ini untuk merogoh saku celana ku dan mengambil lembaran kertas yang sudah dilipat itu.
'Kaito, ini bukan surat dari adik mu. Ini adalah aku, Ai.
Aku menulis ini karena adik mu tak berani mengatakan ini pada mu. Hanabi akan berulang tahun musim panas ini kan?, dia minta supaya kita bertiga pergi ke festival musim panas bersama.
Aku yakin kamu pasti mau kan?
Hanabi terlalu malu untuk mengatakan semua itu pada mu, bahkan dia tak berani menulis surat ini sendirian. Dia meminta bantuan ku untuk menuliskan keinginannya itu.
Dan aku minta kamu jangan pulang terlalu malam ya. Kami ingin makan malam bersama mu hari ini', isi dari surat yang Hanabi berikan pada ku tadi.
Hanabi, kenapa kau harus malu bocah?!
Kenapa harus pakai surat?, yang nulis Ai pula ...
Tanpa sadar aku meneteskan air mata ku. Aku meremas kertas yang ada di tangan kiri ku ini. Aku memejamkan mata ku dan merasakan kekuatan kembali mengalir di tubuh ku.
"Aku masih belum ingin mati ..."
Tahun lalu aku sudah mengabaikan hari ulang tahun adik ku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tak melakukan itu lagi. Aku hanyalah orang payah yang gagal dalam meraih tujuan ku. Dan aku malah melampiaskan kemarahan ku pada Hanabi.
Tahun lalu, aku sudah membuat adik ku satu satunya itu menangis. Aku tak akan membiarkan Hanabi meneteskan air matanya lagi kali ini. Aku akan menjaga senyuman di wajahnya itu. Kebahagiaan nya itu, aku akan selalu menjaganya.
Hanabi, tunggu aku ...
Di saat yang sama kertas yang ada di genggaman tangan ku hangus terbakar. Tubuh ku kembali menjadi cahaya yang bersinar terang. Rambut ku kembali berubah warna menjadi putih. Aku kembali bisa menggunakan Light Chaser ku walau sudah terkena Lock.
__ADS_1
"Takumi ... maaf ... tapi aku belum bisa mati sekarang!"
Aku mengeluarkan jurus Light Speed ku. Aku membebaskan diri ku dari kakinya yang mengunci gerakan ku. Dengan sekejap mata aku sudah berdiri di belakangnya.
"Takumi!!!"
Aku melancarkan tinjuan ku ke arah Takumi. Tapi, Takumi berbalik dengan cepat dan memukul ku terlebih dahulu. Serangannya itu kembali membuat ku terpental mundur beberapa meter. Aku kembali menahan gerakan ku dengan kedua kaki ku. Aku pun berhenti dan berdiri dengan tegap. Pertarungan malam ini masih belum selesai.
Maaf Hanabi ... kakak akan terlambat pulang malam ini ...
Tapi itu lebih baik dari pada aku tak bisa pulang sama sekali kan?
"Hua ... masih bisa bertarung ya?", Takumi tersenyum lebar ke pada ku.
"Cih ... sekuat apapun diri mu ... aku tak akan menyerah"
"Kalau begitu ... tunjukan kekuatan mu!!!", Takumi melesat ke arah ku dan bersiap meninju ku.
"Kau akan melihatnya!!!", aku melesat ke arahnya.
Tinjuan kami saling beradu dan kembali menghancurkan tanah yang ada di sekitar kami. Amukan angin kembali menyebar ke seluruh hutan di sekitar padang rumput ini.
Kami saling beradu pukulan satu sama lain. Pukulan kami sangatlah cepat, tapi perbedaan kakuatan ku dan Takumi cukup jauh. Aku beberapa kali membuat celah yang membuatnya bisa menyerang ku.
Pukul ... pukul ... tangkis ... lompat ... tendang ...
Beribu ribu usaha sudah aku lakukan untuk melukainya. Tapi Takumi bisa menangkis dan menghindari setiap serangan ku. Sedangkan aku, aku selalu menerima pukulan dan tendangannya tanpa bisa menandinginya.
Aku ... aku pasti akan pulang malam ini ...
Tunggu saja ... Hanabi ...
__ADS_1
Okino Kaito: Light Chaser