
Tomoya
Pagi yang sangat cerah, sang surya bersinar seperti biasanya dan itulah tanda hari ini dimulai. Awan-awan di langit juga berenang riang gembira di birunya cakrawala. Walau ini adalah musim panas, tapi pepohonan dan aliran sungai Mabuta itu membuat udara pagi ini jadi sejuk. Suara kicauan burung dan deru aliran sungai itu membuat pagi ini terasa sangat damai.
Aku duduk di kursi kayu panjang di samping lampu taman yang ada di pinggir aliran sungai ini. Di sisi kananku duduk seorang gadis berkacamata yang masih mengenakan seragam SMP. Rambut kuning yang bergerak kesana kemari mengikuti arah angin. Dan sorot mata tajam yang memancar dari bola mata hitamnya. Sakurako Fumio, dia adalah penyelamat hidupku sekaligus mantan adik kelasku sewaktu SMP.
"Kak Tomoya!!! Yakin ga mau ikut mancing?!" Pekik Hanabi yang sedang duduk di depan aliran sungai bersama Hikaru, Ai, dan Saika.
"Hmm, kalian duluan saja," jawabku dengan suara yang sedikit keras karena jarak kami yang lumayan jauh.
"Aaahh, Kak Tomoya sama aja kaya Kak Kaito!" Ujar Hanabi sedikit kesal.
"Mau gimana lagi, mereka kan saudara," kata Hikaru yang sibuk memasang umpan di kail pancingnya.
"Hanabi pasti sangat senang setelah mendengar ceritamu kan? Senpai?" Ucapan Fumio yang mengambil perhatianku.
"Hmm, begitulah," aku memejamkan kedua mataku dan menikmati udara segar di pagi hari ini.
Biar aku jelaskan sedikit tentang kemampuan sebenarnya yang Kaito miliki. Adik laki-lakiku itu sebenarnya hanya memiliki satu kenampuan yang sudah ada sejak ia lahir. 'Steal' atau mencuri kekuatan milik orang lain. Sebenarnya ayah pun tak tahu mengenai hal ini, hanya aku dan Arin yang mengetahuinya. Saat menghapus ingatan adik-adikku, aku sempat memberikan kemampuan Time Control pada Kaito. Itu karena aku yakin pasti akan berguna di masa depannya.
Kemampuan yang aku miliki adalah Transfer. Yaitu kekuatan yang bisa memindahkan kemampuan spesial dari satu Tenshi ke tubuhku atau ke orang lain. Sebelum ayah kami meninggal, tepat saat di rumah sakit, ia memberiku pesan agar memindahkan kekuatannya ke tubuh Kaito. Dan itu juga aku lakukan saat proses menghapus ingatan para adikku itu.
Itulah kenapa Kaito juga bisa menyegel kekuatan orang lain. Beberapa tahun kemudian aku sangat terkejut ketika Arin bilang bahwa Kaito adalah sang terpilih yang akan menyelamatkan dunia ini. Ia mendapat kekuatan yang entah datang dari mana. Adik laki-lakiku itu bisa mengendalikan cahaya dan kegelapan dalam dirinya di satu waktu.
Kaito, aku sangat bangga mendapati adikku itu akan menjadi penyelamat. Tapi aku tak tahu harus bagaimana soal Saika dan Ai. Salah satu dari mereka harus mati supaya Kaito bisa menggunakan Fate Stone. Dan sepertinya dia sudah memilih salah seorang dari mereka. Aku merasa kasihan pada Hikaru yang harus kehilangan salah seorang dari kedua adik yang sangat ia sayangi itu.
"Nee Senpai ... aku bisa melihat dirimu yang dulu dalam Kaito sekarang ini." Kata Fumio tanpa menatapku sama sekali.
"Aku tau," aku menyandarkan punggungku ke kursi dan menengadahkan kepalaku.
"Apa kau yakin dia tak butuh Ai? Atau Saika?" Fumio pasti sangat khawatir karena sudah tahu kemungkinan terburuk yang bisa menimpa Kaito.
__ADS_1
"Tenanglah, aku akan menjemputnya di saat yang tepat." Ujarku Santai.
Aku memiliki masa lalu yang sangat panjang bersama Fumio. Ceritanya terlalu panjang jika aku harus menjelaskannya sekarang. Kemampuan Steal Kaito tentu memiliki satu resiko kecil, tapi itu bisa jadi besar jika Kaito menggunakan kemampuannya itu terlalu sering. Semakin banyak ia memiliki kekuatan, ia bisa saja kehilangan sisi kemanusiaannya. Dia bisa saja jadi mesin pembunuh tanpa otak, tidak seperti Takumi si mesin pembunuh yang hidup. Jika hal itu sudah terjadi, akan sulit menyadarkannya kembali karena mendekatinya saja sedikit mustahil.
Kami mengetahui resiko itu karena aku sendirilah yang hampir jadi monster pembunuh. Sebelum aku ditemani Hikaru, aku sempat menjalani misi Hunter atau membunuh para Tenshi yang jahat sendirian. Bukannya membunuh, aku malah mengambil kemampuan para targetku dan membuatnya jadi milikku. Karena kemampuanku ini mirip seperti milik Kaito, selain memindahkan kekuatan, aku juga bisa mencurinya untuk diriku sendiri.
Saat aku hampir kehilangan kewarasanku. Fumio datang menyelamatkanku dengan hangatnya pelukannya. Sejak saat itu aku jatuh hati kepadanya. Sampai sekarang, ia sama sekali tak berubah, paras imut dan seragam SMP yang masih melekat di kepalaku. Dan biar aku beri tahu satu hal, ia sebenarnya umurnya satu tahun di atas Kaito. Artinya sekarang Fumio sudah berada di kelas 3 SMA.
"Fumio, kenapa kau masih pakai seragam SMP?" Tanyaku memasang wajah datar.
Plak!!
"Berisik!! Dasar ga punya otak!" Fumio menghantam pipiku dengan telapak tangannya itu.
"Ha? Emangnya aku salah?" Lanjutku bertanya sembari mengelus pipiku yang rasanya baru saja terbakar ini.
"La-lagian masih cocok kan?" Ia memalingkan wajahnya dariku dengan rona merah yang memancar di kedua belah pipinya itu.
"Hmm? Cocok?" Aku tersenyum tipis karena geli dengan pernyataannya.
"Bodo!! Dasar bodo!" Fumio melancarkan tinjuan tangannya padaku.
"Fumio," dengan santai aku menahan tinjuan tangan kecilnya itu dengan tangan kananku.
"Iya iya, kamu masih imut," ujarku melempar senyumku padanya.
"Hikaru, tolong jagain mereka ya?"
"He?! Mau kemana?!"
Tanpa basa-basi aku membawa Fumio teleportasi bersamaku. Dalam sekejap mata, kami berdua berpindah tempat sejauh beberapa kilometer.
__ADS_1
"Tu-tunggu Senpai?! Kemana ...," Fumio kehabisan kata-kata saat sadar kami berada di puncak menara Natsu.
"Kau sudah lama ingin ke sini kan?" Aku menggenggam tangan kirinya perlahan.
"Senpai ...," Fumio membendung air matanya yang hendak keluar itu.
"Oi oi, jangan nangis, aku mengajakmu kesini bukan untuk membuatmu sedih dasar bocah!" Aku mengusap kepalanya dengan tangan kiriku.
"Bodo! Dasar ga punya otak!" Umpatnya seraya memelukku dengan sangat erat.
"Hmm, terserah," aku membelainya lembut sembari menikmati angin kencang yang berhembus ini. Kami sedikit mengambil perhatian para pengunjung lain yang juga sedang ada di puncak Natsu Tower ini.
"Apa ini artinya ...," Fumio membasahi jubah hitamku ini dengan air matanya.
"Hmm," aku melepas pelukanku, lalu melepas kacamatanya perlahan.
"Aku menerimamu!" Aku mengusap air matanya dengan ibu jari tangan kiriku.
"Senpai!!" Fumio kembali memelukku karena tak bisa menahan air matanya yang terus mengalir deras.
"Fumio, setelah semua berakhir, kita pasti akan hidup bahagia. Aku mencintaimu."
---------
Unmei Series
•Ai No Koe
>Umei To Shiawase
• Penjelajah Takdir
__ADS_1
(Masih banyak yang belum rilis)
Jangan lupa like-nya ya!