Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 70


__ADS_3

Aku kehilangan kesadaran ku dan tak bisa lagi merasakan tubuh ku. Hanya kegelapan yang bisa ku lihat sekarang. Aku sama sekali tak mengingat apa pun yang terjadi sebelum aku kehilangan kesadaran ku. Yang ku ingat terakhir kali aku sedang bertarung dengan Takumi.


Apa aku mati?


Kalau iya ... berarti aku tak bisa pulang malam ini ...


"Kakak? ... kakak udah sadar kah?"


He? ... Hanabi?


Aku mulai bisa merasakan rasa sakit di sekujur tubuh ku. Aku membuka mata ku perlahan. Langit langit ini, lampu kamar yang bersinar terang ini. Lemari dan meja belajar ku, tembok warna putih. Tak salah lagi ini adalah kamar ku.


Kenapa aku tiba tiba bisa ada di atas ranjang?


Aku langsung terduduk dan melihat ke segala arah. Aku melihat Hanabi yang duduk di kursi samping ranjang ku. Dan yang lebih mengejutkan adalah aku melihat Takumi bersandar di pintu kamar ku yang tertutup.


Takumi melipat tangannya di depan dadanya dan dengan santainya dia berdiri di kamar ku seolah tak terjadi apa apa.


"Takumi?! ... kenapa?!"


"Sssttt ... tubuh mu masih terluka parah ... jangan berisik", kata Takumi menyembunyikan semua kejadian tadi di depan Hanabi.


"Kakak gak apa apa kan? ... kak Takumi yang bawa kakak ke sini ... katanya kakak pingsan waktu melawan Akame ...", jelas Hanabi.


"Ohh ... gitu ...", aku memegang bahu kanan ku yang terasa sakit ini.


"Eh ... Hanabi ... maaf nih ... tapi ka Takumi boleh gak bicara berdua sama kakak mu sebentar aja?", sikap Takumi itu jauh berbeda dengan yang ku lihat sebelumnya.


"Ohh oke lah ... aku keluar dulu ya ...", Hanabi pun keluar dari kamar dan meninggalkan ku berdua dengan Takumi.


"Kaito ... kau ini masih terlalu lemah untuk melindungi Hanabi ...", Takumi kembali menutup pintu kamar ku dan menyandarkan punggungnya kembali.


"Jangan salah paham ... aku melepaskan mu hanya sampai musim panas nanti selesai ...",


Kata katanya itu, dia sepertinya mengetahui permintaan Hanabi di hari ulang tahunya besok. Aku sama sekali tak ingat sisa pertarungan ku dengannya tadi. Mungkin saja hal yang penting sudah ku lupakan.


"Sekarang ... Hanabi menganggap ku sebagai teman satu tim mu ..."


"Ya ... aku tak akan mau bilang ke adik mu itu bahwa aku ingin membunuh mu kan?", ucap Takumi tersenyum tipis.

__ADS_1


"Aku tak ingin cerita pada mu ..."


"Tapi aku hanya akan bilang ... Hanabi sangat mirip dengan adik perempuan ku yang sudah meninggal"


"Ya sudahlah ... aku pulang dulu ya ... pastikan kamu lebih kuat setelah musim panas ini ..."


"Kau tak ingin melihat adik mu menangis lagi kan?",


"Oh ya ... pacar dan adik mu menunggu mu di bawah ...", kata kata terakhir Takumi sebelum ia keluar dari kamar ku.


Pacar?


Aku baru ingat sekarang Ai menginap di rumah ku. Aku duduk diatas ranjang dan menyandarkan punggung ku ke dinding. Aku merenung sejenak sembari memejamkan mata ku. Pada akhirnya aku berhasil melewati malam yang mengerikan ini. Walaupun aku sepertinya kalah dari Takumi, yang penting aku masih bisa pulang ke rumah.


"Oh iya!!! ... Haru dan Kakume!", aku baru ingat aku meninggalkan mereka berdua di tengah hutan.


Aku mengambil ponsel yang ada di atas meja samping ranjang ku dan menelepon Fumio.


"Ka-kaito?! ... apa kamu gak apa apa?! ... apa kamu sehat?!", Fumio nampak terkejut ketika menerima telepon dari ku.


"Hmm ... aku gak apa apa ... ceritanya panjang ... gimana Haru dan Kakume?"


"Dan kamu sekarang di mana?"


"Aku di rumah"


"Ha? ... gimana bisa?"


"Udah ... ceritanya panjang ... besok malam akan aku katakan semuanya ... sudah dulu ya ...", ucap ku lalu memutuskan sambungan telepon ku.


Aku meletakan ponsel ku di samping bantal dan keluar dari kamar ku. Aku masih terpincang pincang karena kaki ku terluka bekas pertarungan tadi. Walau bagitu aku tetap berusaha menuruni tangga untuk segera bertemu dengan Hanabi. Aku khawatir karena dia belum juga tidur selarut ini.


"Loh ... kakak kenapa turun?", Hanabi langsung berlari ke arah ku ketika melihat ku turun dari tangga.


"Ai dimana?", tanya ku saat tak melihat batang hidungnya di sini.


"Udah tidur di kamar ku ... apa kakak mau tidur bareng dia?", pertanyaan yang membuat pikiran ku semakin kacau.


"Hoi ... bocah, jaga pikiran mu itu", ujar ku lalu memukul kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


"Ya udah ... kamu tidur aja sana ...", aku kembali menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar ku.


"Iya iya ...", Hanabi menggandeng ku dan menuntun langkah ku untuk kembali ke kamar.


Aku pun kembali duduk di ranjang ku. Hanabi malah menutup pintu kamar dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang ku.


"Hanabi ... ngapain di sini?", tanya ku dengan wajah datar.


"Pokoknya malem ini aku tidur sama kakak!", Hanabi memasang wajah marahnya itu.


"Haa?!", aku terkejut bukan kepalang mendengar kata katanya barusan.


"Kakak Tolol!!!", Hanabi nak ke atas ranjang ku dan mendorong ku hingga aku terbaring.


Hanabi duduk di atas perut ku dan membuat ku sama sekali tak bisa bergerak. Entah kenapa jantung ku berdebar kencang sekarang.


"Dasar tolol!!!", Hanabi memukul dada ku berulang kali dan mulai meneteskan air mata nya.


"Hanabi ... kamu kenapa?!"


"Tolol tolol!!!", Hanabi menarik kerah kemeja ku dan terus membasahi ku dengan air mata nya yang berjatuhan di dada ku.


"Apa kakak gak sayang lagi sama aku!!!", teriak Hanabi menatap ku dengan pipi nya yang basah karena air mata.


Wajah kami hanya berjarak sekitar tiga sentimeter. Aku bisa merasakan nafasnya, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku kembali membuat adik ku menangis tepat di depan mata ku.


"Kakak bisa aja mati kan malam ini?! ... untung aja ada kak Takumi yang bisa nolong kakak!!"


"Aku takut ... aku takut besok tak ada lagi yang bisa nolong kakak",


"Hanabi", aku memeluk adik perempuan ku ini.


Aku membiarkan dia menangis di dalam dekapan ku. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan air matanya keluar. Aku tak menyangka Hanabi bisa berbuat seperti ini. Aku yakin dia selalu mengkhawatirkan ku setiap malam.


"Dasar kakak tolol!!! Siscon!!! Mesum!!! Pikun!!! Sok kuat!!!", Hanabi terus membasahi kemeja ku dengan air matanya itu.


"Hmm ... terserah kamu ...", aku terus memeluknya sembari memejamkan mata ku.


"Apa pun yang terjadi ... kakak gak akan mati sebelum kamu tumbuh jadi gadis cantik ..."

__ADS_1


"Dasar Siscon!!! ... Mesum!!! Payah!!!", umpatnya terus menangis di pelukan ku.


__ADS_2