Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 173


__ADS_3

"Ai? Apa yang kau lakukan?"


Semalam, telah terjadi hal yang tak layak untuk aku jelaskan. Ai tiba tiba memaksaku untuk berbuat yang tidak senonoh tengah malam tadi. Dan laki laki mana yang tahan dengan godaan itu. Ai sepertinya bukanlah dirinya lagi. Ingatannya sudah campur aduk, kepribadiannya juga. Tadi malam ia terus saja menyebutku dengan nama Yuuta.


Pagi ini, aku membuka mata dengan rasa penyesalan yang menumpuk. Saat membuka mata dan melihat Ai dalam keadaan telanjang bulat. Dan begitu juga denganku. Cahaya sang mentari yang menerobos masuk melalui jendela yang terbuka lebar. Tirai yang sedikit bergerak karena tiupan angin musim panas.


Tadi malam ...


Aaaaaaaghhh!!! Bodo amat!


"Kaito ... aku takut, ingatanku semakin kacau." Ucap Ai lirih dengan air mata yang mulai membasahi bantalnya.


"Ai, mungkin kita sudah bertemu jutaan kali."


"Tapi ingat satu hal, hidupmu yang sekarang adalah dirimu."


"Aku juga bingung harus berbuat apa." Aku bangun dan terduduk di atas ranjang.


"Apa kita gunakan saja Fate Stone?!" Aku menunduk dan memegang kepalaku sendiri.


"Sudahlah ... lebih baik kamu ganti baju." Aku langsung melangkah ke depan pintu kamar mandi lalu masuk ke dalam.


Pikiranku semakin kacau saja. Mulai dari fakta bahwa aku adalah dewa keabadian. Dan lagi, tadi malam aku malah berbuat mesum dengan Ai. Aku sudah tak bisa berpikir dengan jernih. Aku berdiri dibawah shower yang sedang memancurkan air dan terus merenung mencoba menerima kenyataan.


"Aaahhh ... duniaku semakin kacau ...," gumamku kesal.


Hampir setengah jam aku menghabiskan waktu di kamar mandiku untuk sekedar merenung. Setelah genap satu jam, aku menyelesaikan urusanku di kamar mandi dan segera memakai pakaianku. Kemeja putih dan celana panjang warna hitam, tak lupa aku memakai long coat warna coklat seperti milik mendiang ayahku ini.


Setelah keluar dari pintu kamar mandi, aku dikejutkan dengan Ai yang tiba tiba ada di depanku. Untung saja dia sudah mengenakan pakaiannya. Ia mengenakan kaos putih dan celana pendek dengan warna yang sama seperti bola matanya.


Entah kenapa dia menungguku tepat di depan pintu kamar mandi. Dan lagi, raut wajahnya itu jauh berbeda dengan Ai yang aku kenal sebelumnya. Kehangatan yang ia pancarkan melalui bola matanya itu sudah tiada. Ai benar benar berubah, apa ini karena kejadian tadi malam? Aaaaaghh! Sudahlah aku tak ingin memikirkan itu lagi.


"Kaito, aku sudah mengingat semuanya ...," Kata Ai sembari menundukan kepalanya.


"Kita akan terus mati,"


"Shinjiro akan selalu membunuh kita."


"Setiap kehidupan yang kita jalani."


"Dia akan datang dan membunuh kita." Ai menggenggam tangan kananku dengan kelembutannya.

__ADS_1


"Ai, kenapa kamu berubah?" Tanyaku langsung karena tak biasa dengan sikapnya ini.


"Maksudmu?" Dia mengangkat wajahnya dan menatapku dengan senyuman manisnya seperti biasa.


Eh? Sebenarnya apa yang terjadi?


"Ga jadi, ya sudah, aku mau keluar untuk ketemu paman Dai." Aku menepuk pundaknya dengan tangan kananku.


"Ngapain ke sana?"


"Ada yang mau aku tanyakan." Kami berdua berjalan keluar dari kamarku. Seingatku, di koridor lantai dua rumah ini ada lemari senjata rahasia. Aku pun berhentu di depan suatu lukisan dan menekan tombol yang ada di bingkai kayu itu. Lalu secara otomatis lukisan itu terangkat ke atas perlahan. Dan terlihatlah beberapa jenis senjata yant dipajang di lemari rahasia itu.


Lemari itu memiliki tiga tingkatan rak. Rak paling bawah terdapat belasan pisau yang di tata rapi seperti buku yang ada di perpustakaan. Rak ke dua berisi lima pistol, rak paling atas terpajang senapan laras panjang dan satu sniper. Aku hanya mrngambil satu pistol dan beberapa magazine atau tempat peluru pistol ini.


"Kenapa ada ginian di rumahku?" Ucap Ai tak percaya akan apa yang ia lihat saat ini. Dan itu artinya hanya Ema yang mengetahui lemari rahasia ini.


"Mungkin kamu bisa tanya Ema." Ujarku sembari menyelipkan pistolku ini di ikat pinggang celanaku.


"Oh iya, gimana Kai?" Aku kembali menekan tombol rahasia itu dan lukisan itu otomatis menutupi lemari rahasia.


"Dia masih tidur sama Hanabi," jawabnya tanpa menatapku sama sekali.


"Hati hati di jalan sayang." Tanpa basa basi, si tuli itu langsung mengecup bibirku dan membuatku terkejut bukan kepalang.


Heeeeeeeee?!!!!! Dia kesurupan setan apa woi!?


"Ai?!" Pipiku memerah karena melihat senyumannya setelah menciumku.


"Maaf, apa kamu belum terbiasa dengan ciumanku?" Pertanyaan yang keluar dari mulutnya.


Ha? Apa apaan pertanyaan itu?!


"Kau benar benar berubah ...," gumamku berbalik lalu berjalan menuruni tangga untuk segera keluar dari rumah mewah milik keluarga Ai ini.


"Kaito," Ai kembali memanggilku tepat saat aku membuka pintu keluar rumah.


"Hmm?"


"Aku tak ingin kehilanganmu ... lagi." Lanjutnya lirih, sepertinya dia benar benar mengingat kehidupan sebelumnya. Entah yang mana itu, tapi dia sangat khawatir akan kehilangan diriku.


"Hmm, aku akan mengalahkan Shinjiro kali ini, aku yakin, dan kita akan hidup bahagia bersama ... selamanya." Ucapan terakhirku lalu keluar dan kambali menutup pintu rumah. Aku melanjutkan langkah menuju mobil sedan hitam yang terparkir di depan teras rumah mewah ini. Aku meminjamnya sejak kemarin malam dan menggunakannya untuk pergi ke festival bersama Saika.

__ADS_1


Setelah masuk dan duduk di kursi pengemudi. Aku menyalakan mesin mobil lalu memasang sabuk pengaman. Perlahan aku melajukan mobil ini di jalan kecil yang membelah taman di halaman rumah Ai. Gerbang secara otomatis terbuka dan membiarkanku keluar dengan mudah. Selama beberapa belas menit aku hanya diam dan mengemudikan mobil. Akhirnya ponsel di saku kemejaku berdering tanda ada telepon yang masuk. Tanpa pikir panjang lagi aku segera menerima telepon dari Sora.


"Ada apa?" Kataku membuka percakapan telepon ini.


"Sebaiknya kau temui Hayato dan Taki di kafe." Ucap Sora dengan suara seriusnya.


"Memangnya ada apa?" Tanyaku bingung.


"Ada masalah penting, nanti kau akan mengerti setelah bertemu dengan mereka." Jelasnya lalu memutus sambungan telepon kami.


Ada apa lagi ini? Ya sudahlah.


Setelah sampai di kota Natsu, aku segera menuju ke kafe Wasterland yang terletak di gang sempit yang tercipta karena adanya jarak antara dua gedung besar. Aku memarkirkan mobilku di pinggir jalan dan segera berjalan masuk menuju kafe itu. Suara bel bergemerincing yang khas terdengar tepat saat aku membuka pintu. Perhatianku langsung tertuju pada Taki dan Hayato yang sedang duduk di depan meja yang berada tepat di samping kaca jendela itu.


Karena tak ingin membuang waktu, aku langsung menghampiri mereka dan ikut bergabung duduk di kursi yang kosong. Untuk kedua kalinya kami bertiga duduk mengelilingi meja bundar kayu warna hitam ini. Kafe yang dipenuhi barang barang klasik ini membuatku ingat akan film film detektif.


Setelah memesan dua teh hangat dan satu jus apel. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami bertiga. Dan seorang pekerja kafe pun datang dan meletakan pesanan kami di atas meja. Sesaat setelah pelayan itu melangkah pergi. Taki pun memulai pembicaraan yang sepertinya akan jadi serius ini.


"Ya, jadi kita mulai hari ini dengan."


"Kazuki dan Dai yang tiba tiba menghilang." Ucap Taki dengan santainya sembari menyeruput jus apel pesanannya itu.


"Ha? Gimana bisa?" Tanyaku bingung.


"Kata penerawang DH, mereka berdua dibawa kedalam alam ilusi milik The Key." Tambah Hayato melipat tangannya di depan dada lalu menghela nafasnya.


The Key, apa mungkin dia adalah Shinjiro?


"Lalu? Apa yang harus kita lakukan?" Lanjutku bertanya.


"Aku sudah menemukan persembunyian The Key, tapi itu baru kemungkinannya saja." Taki memegang dagunya sendiri seolah tak yakin dengan perkataannya.


"Hmm, dimana itu?" Hanya pertanyaan sajalah yang keluar dari mulutku, ya memang karena aku masih pemula.


"Ada dua, yang satu di pelabuhan, yang satu lagi ada di gudang sekitar sini." Ujar Taki sembari mengutak-atik ponselnya.


"Hmm, jadi kita bertiga berpencar?" Hayato menyeruput teh hangatnya.


"Kita bagi jadi dua tim, sebentar lagi ada satu orang yang gabung." Jawab si kacamata itu.


"Halo halo!" Sapa si iblis rambut oranye yang baru saja masuk melalui pintu depan kafe. Ya, Takumi, tentu saja aku tak terkejut. The Key adalah musuh yang sangat berbahaya, sudah jelas Takumi ikut ambil bagian di misi ini.

__ADS_1


__ADS_2