Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 215


__ADS_3

Karakter utama yang lemah, apa dia akan bertahan sampai akhir? Ataukah dia akan mati di akhir cerita? Kutukan ia emban di pudaknya. Rasa sakit ia lupakan demi cintanya. Kaito sudah paham resikonya, dia sudah mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika ia memaksakan dirinya, nyawanya akan melayang.


Tomoya juga sudah mengetahuinya, bahwa adik laki lakinya itu bisa saja mati. Tapi Tomoya berpura pura tak tahu. Menyembunyikan hal itu dari semua orang termasuk Hanabi. Ini adalah perang takdir, bukan hanya soal hidup dan mati, menang atau kalah. Perang untuk menyelamatkan cerita ini dari kekacauan.


Matahari kembali terbit dari timur, cahaya yang memulai hari baru. Ini adalah malam terakhir sebelum perang dimulai. Kaito kembali berdiri di tanah kelahirannya. Wilayah Chizu yang sudah rata dengan tanah. Katana bernama Kensetsu sudah siap di pinggangnya. Hari ini adalah uji coba Nightcurse untuk pertama kalinya.


Demi Ai, Kaito berlatih keras. Kemampuannya berkembang sangat pesat dibanding sebulan lalu. Latihan dari kakaknya itu memanglah sangat efektif.


"Kaito, apa kamu siap?" Suara Fumio yang Kaito dengar lewat T-Phone di telinga kanannya itu.


"Hmm, tentu!" Jawab Kaito penuh keyakinan.


"Nightcurse diaktifkan, Kaito, tak perlu memaksakan diri." Peringatan dari Fumio.


"Ai ... aku akan menyelamatkanmu!"


Srank!!


Kaito menarik Katana keluar dari sarungnya lalu menancapkannya ke tanah. Tubuhnya dikelilingi cahaya yang menyilaukan mata.


"Nightcurse!!!" Seru Kaito diiringi perubahan di tubuhnya.


Sebuah kilatan cahaya mengubahnya menjadi manusia dengan zirah samurai. Sekarang ia tak perlu khawatir akan apa pun. Zirahnya itu hampir sama kuatnya dengan perisai Saika. Nightcurse itu menutup seluruh bagian tubuh Kaito dengan baja silver nan berkilau itu. Wajahnya pun tertutup dengan topeng putih polos dengan mata kecil yang bersinar warna emas.


Kemampuan fisik Kaito meningkat tajam. Kekuatannya sekarang ini setara saat menggunakan Fate Breaker. Hal ini membuat Kaito tidak perlu menggunakan sihirnya lagi. Jantungnya sudah berada dalam bahaya. Sebentar lagi, Kaito akan berubah jadi iblis bila menggunakan kemampuannya lagi.


"Empat Yokukame, dua Tsukame, bunuh!"


Kaito mengangkat kembali pedangnya dan mengarahkannya pada enam iblis yang ada di depannya. Empat Akame raksasa dan dua Akame bersayap. Kaito berencana menghabisi mereka semua dalam satu tebasan. Ia menarik nafas dalam dalam sembari memejamkan matanya.


"Teknik angin: hembusan tak terlihat."


Kaito membuka kedua matanya, dan disaat yang sama ia sudah melewati keenam makhluk neraka itu. Tubuhnya bergerak seperti angin, menerobos keenam Akame itu. Tanpa sadar, satu per satu kepala iblis itu berjatuhan ke tanah. Darah hitam berbau busuk menggenang di sekitarnya.


"Hmm ... aku memancing sesuatu keluar." Gumam Kaito setelah merasakan energi sihir dalam jumlah besar mendekat.


Benar saja, kobaran api hitam muncul di hadapannya. Dan setelah angin membuat api itu padam. Kaito melihat Kurai Munmei berada di depan matanya.

__ADS_1


"Kurai, dimana Ai?" Pertanyaan yang langsung keluar dari mulut Kaito.


Kurai menunjukan seringai senyumnya. "Aku cuma kesini untuk memamerkan perhiasan baruku." kata Kurai sembari menunjukan pecahan batu permata warna biru di tangan kanannya.


"Ha?!"


Fumio bisa melihat apa yang Kaito lihat berkat zirah canggih yang Kaito kenakan. Kekasih Tomoya itu hanya diam tak bergerak memandang layar komputernya. Fate Stone, sudah jelas semua orang mengetahuinya.


"Apa kau membunuh ...," Kaito bahkan hanya bisa terpaku dan tak sanggup berkata-kata.


"Ya, aku memotong lehernya." Kurai bahkan memasang wajah datar saat mengatakan hal itu.


Kekacauan mulai terjadi di dalam pikiran Kaito. Orang yang selama ini dia cintai, si tuli yang selama ini bersamanya, sekarang ia sudah tiada. Hati Kaito terasa sangat sakit. Kenangan yang ia bangun bersama Ai, semuanya berakhir di sini. Tentu saja Kaito menyalahkan dirinya sendiri. Dia tidak ada di sisi Ai saat ia pergi. Kaito merasa sangat tak berguna.


"Kaito! Kembali ke markas!" Suara Fumio terdengar dari T-Phone di telinga Kaito.


"Mundur ya? Setelah semua ini kau minta aku mundur!?"


Air mata Kaito mengalir deras, walau kesedihannya tertutup topeng. Ia tidak berniat menutupinya, Kaito ingin membunuh Kurai saat ini juga.


"Bodo amat!!!"


Tanpa pikir panjang Kaito berlari hendak mengayunkan pedangnya untuk melukai Kurai. Tapi hasilnya ia terhenti di tengah jalan. Keadaan seketika hening tak bersuara, baik Kurai maupun Kaito sama sekali tidak bergerak.


"Kaito, kau tak bisa melindungi apa pun!" Teriak Kurai disertai topeng Kaito retak lalu terjatuh ke tanah.


"He?!"


Rasa sakit mulai terasa di mata kiri Kaito. Darah merah mengalir keluar dari kelopak mata sebelah kirinya. Katana Kaito tertarik gravitasi ke tanah. Karena tak bisa menahan rasa sakit, Kaito jatuh berlutut sembari menutupi mata kirinya.


"Aku bunuh saja kau sekalian" Kurai mengarahkan tangan kirinya pada Kaito.


Mata kiri Kaito sudah hancur karena pisau tak terlihat milik Kurai. Serangan yang tak bisa dilihat, dan tanpa ampun. Kemampuan Kurai memang diluar nalar.


"Ai, aku akan menyusulmu ...," Gumam Kaito putus asa.


Swush!!!

__ADS_1


Suara benda tak terlihat membelah angin menuju ke arah Kaito. Takdir masih belum menginginkan Kaito berakhir di sini. Dalam sekejap mata Saika jatuh dari atas udara dan mendarat tepat di depan Kaito.


Trank!!!


Tameng baja Saika menepis serangan tak terlihat dari Kurai. Tanpa gentar sedikitpun Saika berdiri tegak menghadap ke arah Kurai. Kaito yang ia lindungi hanya bisa terpaku menyadari mata kirinya sudah tidak bisa digunakan.


"Hoo? Mau menjemput Maut?" Tentu saja Kurai senang mendapati Saika ada di haadapannya sekarang ini. Pasalnya ia membutuhkan batu yang ada di dalam tubuhnya.


Saika mengeluarkan pisau yang menempel pada lengan zirahnya. Di atas kepalan tangannya terdapat bilah pisau panjang. Ternyata Saika juga belajar untuk menyerang lebih agresif.


"Aku akan melindungi Senpai sampai kapan pun!"


Ia berlari maju tanpa gemetar, Saika bahkan menangkis beberapa serangan senjata transparan Kurai. Saika sudah melatih instingnya, berkat kakaknya sekarang Saika bisa bertarung meskipun matanya tertutup. Mengandalkan pendengaran dan insting, Saika bisa menangkis semua serangan Kurai.


"Ahahaha! Hebat juga kau!" Kurai tertawa terbahak bahak menyadari serangan demi serangan berhasil ditepis oleh baja di lengan Saika.


Setiap langkah yang Saika buat, setiap serangan yang ia hindari. Adik kelas Kaito itu semakin dekat kepada Kurai. Dan akhirnya saat yang ditunggu tiba, Saika mendaratkan kaki kirinya di tanah. Jarak mereka hanya sekitar satu meter saja.


"Ha, kena kau!"


Bruak!!!


Sekuat tenaga Kurai melayangkan tinjuannya ke perut Saika. Adik kelas mesum itu terlempar jauh ke belakang. Meski melayang di udara beberapa saat, Saika berhasil mendarat menggunakan kedua kakinya. Saika berhenti tepat di samping kanan kakak kelasnya itu.


"Ukhuk!!"


Cairan merah kental ia muntahkan ke tanah. Pukulan telak Kurai benar benar sangat kuat sehingga Saika memuntahkan darah. Kaito yang melihat hal itu tersadar dari lamunannya.


"Kalau begini aku bisa mengambil setengah dari batu itu!"


Kaito bisa merasakan sesuatu yang bergerak cepat ke arah adik dari Ai di sampingnya itu. Tanpa basa basi Kaito memeluk Saika dan menerima serangan Kurai.


Jrak!!!


Walau sudah mengenakan zirah, senjata transparan Kurai berhasil melubangi punggung Kaito. Darah kembali tercurah, kesadaran Kaito perlahan memudar. Saika hanya bisa diam terbelalak menyadari Kaito tersungkur karenanya.


"Senpai!!!!"

__ADS_1


__ADS_2