
Pedang merah menyala ku yang tertancap ke dalam tanah yang di selimuti salju. Aku memegang gagang pedang ku untuk menjaga tubuh ku agar tidak roboh ke tanah. Sepertinya kali ini aku sedang tak beruntung.
Dingin, sunyi, rasa sakit dari pisau yang menembus punggung ku. Butiran salju putih yang berjatuhan ini seakan memberitahu ku aku sudah berakhir di sini. Aku sudah tak bisa bergerak, selesai sudah. Ternyata takdir jauh lebih kuat dari ku.
"Maaf ...", aku meneteskan air mata ku ke atas salju yang ada di depan kaki ku.
Aku memejamkan mata ku dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Aku pasti akan mati kali ini. Bukankah ini yang ku tunggu tunggu?
Kakak~
Tiba tiba suara Hanabi terngiang di kepala ku. Senyuman yang ada di wajahnya itu. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Hanabi, kakak minta maaf. Sepertinya kakak tidak akan pulang malam ini.
Maaf ...
Pulang nanti bawa oleh oleh ya? ... Hanabi tunggu loh~
Pesan Hanabi tepat sebelum aku berangkat ke tempat ini. Aku mengingatnya sekarang. Aku harus menepati janji ku untuk menjaga senyumannya itu tetap tertanam di wajahnya. Aku tidak boleh menyerah begitu saja.
Masih ada yang bisa ku lakukan. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Takdir, mungkin sekarang kau tersenyum karena melihat ku menyerah. Tapi, aku tarik semua kata kata ku tadi. Masih belum, aku akan terus berjuang.
Aku akan membuktikan bahwa aku lebih kuat dari mu. Jangan pikir luka kecil di punggung ku ini akan membuat hidup ku berakhir di sini. Maaf saja, tapi adik ku masih menunggu ku di rumah.
Dan aku yakin temn teman ku pun juga begitu. Ai, Raku, Mina, mereka semua pasti menunggu ku kembali. Dan jangan lupakan Kakume, Haru, dan juga Fumio. Aku tak akan membiarkan mereka kehilangan rekan satu timnya lagi.
Aku ... masih akan terus hidup!!
Aku menarik nafas ku dalam dalam. Aku membuka ke dua mata ku.
"Time ... Reverse ..."
Aku menggunakan Time Control ku untuk sedikit memundurkan waktu. Aku hanya memundurkan ke waktu beberapa detik lalu sebelum Akame itu menusuk ku dengan pisau di tangannya itu. Waktu pun mundur. Aku tak lagi merasakan sakit di punggung ku yang tertusuk tadi.
Sekarang aku tahu ada Akame yang berdiri di belakang ku. Aku menguatkan genggaman tangan ku ke gagang pedang.
Huff ...
"Mati kau sialan!!!!"
__ADS_1
Aku menarik pedang ku yang tertancap di tanah. Aku mengayunkan mata pedang ku ke arah Akame yang ada di belakang ku.
Jrat!!! Buk!!!
Aku memutus tangan kirinya yang memegang pisau itu sampai terjatuh ke tanah. Tak lama kemudian Akame itu mencair dan menyatu dengan tanah. Dan saat itu juga pedang yang ku genggam lenyap dan kembali menjadi butiran cahaya sebelum akhirnya menghilang.
Tubuh ku tak lagi bisa ku gerakan. Pandangan ku semakin kabur. Sepertinya ini adalah batas kekuatan ku. Aku sudah terkena Lock kali ini. Aku benar benar sudah tak bisa berbuat apa apa. Lengan kiri dan tubuh bagian kiri ku sudah kembali seperti semula. Aku memang benar benar mencapai batasan ku.
Tap! Tap! Tap! Tap!
Aku mendengar suara langkah kaki yang datang dan mendekat ke arah ku. Dari suara langkah kakinya di atas salju itu, aku tahu yang datang ke arah ku adalah sesuatu yang besar. Jangan bilang dia adalah Dark Knight itu.
Iblis yang mempunyai tubuh seperti manusia tapi kulitnya berwarna merah darah. Wajah menyeramkan dan tanduk yang patah di dahinya. Ia mengenakan baju zirah layaknya pejuang di masa lalu. iblis itu tingginya lebih dari dua meter. Tubuhnya kekar berotot, matanya merah menyala. Ia juga punya taring yang tajam. Kukunya berwarna hitam, panjang dan runcing. Iblis itu membawa pedang besi dengan panjang hampir dua meter.
Tepat seperti yang di ceritakan Fumio. Dari kejauhan Dark Knight itu melangkah perlahan ke arah ku dengan pedang besarnya yang ia seret itu. Ia menatap ku dengan mata iblis yang penuh dengan hasrat membunuh itu.
"Ohh ... kamu ya ...", dengan tubuh ku yang tak berdaya ini aku mengambil sebilah pisau yang tadi di bawa oleh Akame yang ku bunuh.
"Fumio ... apa kamu bisa melakukan itu sekarang", aku kembali mengaktifkan alat seperti earphone tanpa kabel yang ku pakai ini.
"Halo ... siapa ini?", itu adalah suara Hanabi. Fumio pasti sudah memindah saluran komunikasi ku dan menghubungkan nya dengan telepon.
"Lagi mau tidur sama kak Ai ..."
"Ohh ... bisa kasih teleponnya ke kak Ai?"
"Ohh ... iya iya ... nih kak ... kakak ku mau ngomong", Hanabi memberikan ponselnya pada Ai yang ada di sampingnya.
"Halo? ... Kaito? ada apa?", tanya Ai bingung.
"Bisa kamu keluar dari kamar adik ku sebentar ... ini penting ..."
"Ya udah ...",
Setelah menunggu beberapa detik. Suara Ai kembali terdengar.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Kamu denger aku kan?"
"Iya ... alat bantu dengar ku masih oke"
"Denger baik baik ... aku gak punya banyak waktu ... tapi aku bakal ceritain semuanya"
Dengan singkat aku menceriakan semua yang ku alami sampai aku bisa berdiri di sini dan meneleponnya. Aku bisa mendengarnya menangis saat aku berkata kata. Dia pasti sangat terkejut dan khawatir dengan ku.
"Sekarang iblis itu makin dekat ... mungkin ini adalah akhir dari ku ..."
"Aku pikir dengan menelepon mu ... akan terjadi sesuatu ... tapi ternyata tidak.", aku jatuh berlutut di atas salju yang dingin ini.
"Kaito!!! ... aku tak bisa mendengar mu!!!"
"Yang penting malam ini kamu harus pulang ya?"
"Kamu harus janji sama aku!"
"Aku cuma cewek tuli yang gak bisa apa apa ..."
"Aku hidup dengan meminta bantuan orang lain"
"Jadi sekarang aku minta ... kamu harus pulang dengan selamat!!"
"Aku takut aku tak bisa Ai ...", aku mengalirkan air mata di pipi ku dan mengangkat kepala ku. Aku memandang langit malam yang penuh bintang ini.
"Denger!!! bukan cuma aku yang meminta mu pulang hari ini"
"Ema bilang dia juga menunggu mu ... dia berbisik pada ku untuk mengatakan hal ini pada mu."
"Okino-sama ... jangan menyerah ... jangan berubah menjadi iblis lagi ... aku mohon ..."
"Aku tak tahu maksudnya ... tapi sudah dulu ya ... aku gak akan bisa denger kamu lagi ... alat bantu dengar ku rusak!", kata kata terakhir Ai sebelum dia menutup sembungan teleponnya.
"Dasar cewek tuli gak guna ...", gumam ku sembari tersenyum tipis.
"Dan aku juga gak bisa berubah jadi iblis lagi Ema ... aku bahkan tak bisa berbuat apa apa lagi sekarang."
__ADS_1
Dark Knight itu semakin dekat. Aku hanya bisa berlutut di sini dan menunggunya memenggal kepala ku.
Apa aku akan berakhir di sini?