
"Yuuta! Yuuta!"
Suara gadis asing yang memanggilku seperti Ai yang memanggilku semalam. Aku membuka kedua kelopak mataku perlahan. Tunggu, aku melihat gadis yang sama sekali tak kukenal berdiri di hadapanku. Rambut ungu yang terurai, pita merah yang ia pakai di pelipis kirinya. Manik mata dengan warna ungu sama seperti milik Ai dan juga Saika. Ia memakai gaun putih yang membuatnya terlihat cantik.
Siapa? Apa dia juga reingkarnasi Munmei?
"Yuuta, selamat tinggal," katanya sembari melempar senyum tipis padaku.
Jrak!!
Tepat satu detik setelah ia mengatakan itu. Seseorang tiba tiba memenggal kepalanya menggunakan sebilah pedang. Tebasan orang itu memutus leher gadis yang sepertinya adalah Munmei. Kepala Munmei jatuh ke tanah setelah beberapa detik melayang di udara. Aku hanya bisa diam dan mataku terbuka lebar melihat laki laki rambut putih, mata kecoklatan dan zirah warna merah yang ia kenakan.
Shinjiro! Dia Shinjiro!!
"Munmei!!!!!"
Duak!
"Aduh!" Aku terbangun dari alam mimpiku lagi. Aku melirik ke segala arah dan menyadari bahwa diriku sedang berada di dalam mobil bersama Takumi yang fokus mengemudi di samping kananku. Keningku sampai terantuk dashboard mobil karena mimpi buruk barusan.
"Oi? Sehat kah?" Tanya Takumi karena melihat kepalaku terantuk dashboard mobil.
"Hmm," aku mengangguk sembari memegang keningku sendiri.
"Ternyata benar, Kaito, kau jangan menggunakan kekuatanmu dulu sebelum perang dimulai."
"Entah itu Kensetsu atau semua kekuatan yang kau punya." Jelas Takumi.
"Ha? Kenapa?" Tanyaku bingung.
"Hee, masih tanya lagi ... peramal DH mengatakan kau harus mengumpulkan kekuatanmu untuk perang esok."
"Kau dan aku adalah kunci kemenangan, kalau kau lemah, aku juga yang repot tau." Takumi menjelaskan alasan dari larangan aku menggunakan kekuatanku.
"Jadi, apa kau akan menggunakan Hell Breaker?" Lanjutku bertanya.
"Hmm, kalau kondisi semakin buruk." Takumi mengangguk perlahan dan tetap fokus melihat ke jalan.
"Huff, jadi mulai sekarang aku harus terbiasa tanpa kekuatanku itu." Aku menghela nafas dan menikmati pemandangan di luar kaca jendela mobil.
__ADS_1
"Ya, lagipula setelah perang itu berakhir, kau akan kehilangan semua kekuatanmu itu kan?" Ujar Takumi.
"Hmm, aku harus lebih kuat," gumamku perlahan.
"Apa apaan itu?!" Tiba-tiba Takumi menghentikan laju mobil yang kami tumpangi seakan ada sesuatu di depan.
"Ha?! Monster itu lagi?"
Ternyata si Akame raksasa itu muncul di tengah jalan. Banyak orang yang lari terbirit birit menjauhinya. Beberapa mobil yang ada di depan berhenti, dan para pemiliknya segera keluar dan berlari meninggalkan mobilnya. Monster setinggi dua meter, kulit merah darah dan urat urat yang bersinar oranye. Taring tajam dan mata merah bersinar. Seperti biasa, ia memiliki batu kristal merah yang menancap di dahinya.
"Kaito! Aku yang atasi ini ...," sebelum Takumi keluar, satu lagi Akame raksasa muncul tepat di belakang mobil kami. Sontak kami berdua segera melompat keluar tepat sebelum Akame raksasa itu mengangkat mobil sedan yang kami tumpangi itu. Akame raksasa itu berlanjut membuang mobil yang ia angkat itu ke trotoar jalan. Untung saja para pejalan kaki sudah menjauh dari area ini.
Cih, kalau begini!?
"Takumi! Aku atasi yang di sebelah sana!" Teriakku sembari bersiap dengan pistol yang ada di genggaman tangan kananku.
"Oi!? Kau tak boleh pakai kekuatan loh!" Ujarnya.
"Jangan remehkan aku payah!" Aku langsung berlari dan melompati beberapa mobil yang memblokir jalan.
"Oi! Gendut!" Aku mengambil perhatiannya dan kami pun saling berhadapan.
"Woi!!" Aku berguling di tanah dan menghindari tiang lampu itu. Serangannya itu berhasil meremukan beberapa mobil yang ada di belakangku itu.
Duar! Duar!
Aku melesatkan dua buah peluru panas ke arah kepalanya. Tembakanku memang berhasil menembus kulitnya. Satu peluruku berhasil melubangi pipinya, satu peluruku berhasil menghancurkan giginya. Walaupun darah hitam sudah bercucuran keluar, dia sepertinya sama sekali tak merasakan sakit. Dia mirip seperti zombie raksasa yang sering kulihat di televisi. Akame raksasa itu pasti tak berhenti menyerangku sampai salah satu diantara kami mati.
"Graaaarrkk!!"
Dia berlari mendekat padaku dan berusaha meninjuku dengan tangan besar berototnya itu. Aku melompat ke belakang untuk menghindari serangannya. Ia berlanjut mengayunkan tinjuan kanannya. Tentu aku hanya bisa menghindar sekarang ini, aku berguling melewati celah antara kedua kakinya itu. Beberapa tembakan langsung aku lancarkan ke kepala bagian belakangnya. Tapi sia-sia saja, dia berbalik dan berhasil menyerangku dengan ayunan tangan besarnya itu.
Aku terpental ke belakang sampai tubuhku menembus kaca jendela sebuah minimarket yang ada di pinggir jalan. Gerakanku terhenti karena punggungku terantuk dinding. Aku sadar betapa lemahnya diriku tanpa kekuatan sihir dan Kensetsu, setelah perang nanti kemungkinan besar kekuatanku akan lenyap.
Lalu dengan apa aku harus melindungi Ai dan yang lain?!
Tentu saja dengan kekuatanku sendiri!!!!
"Cih,"
__ADS_1
Aku bangkit berdiri dan melangkah keluar dari minimarket pinggir jalan itu. Perlahan aku berjalan mendekati Akame raksasa itu, tentu sembari menembakinya dengan pistol yang masih ada di tanganku ini. Total lima peluru sudah aku tembakan dan tepat mengenai kepala monster besar itu. Aku sadar kalau peluru di dalam pistolku sekarang sudah habis. Sebelum aku meraih satu magazine yang ada di saku kiri celanaku.
Monster itu melesat ke arahku, dengan tubuh manusia biasaku ini. Aku pasti tak sempat menghindari serangannya itu. Aku hanya diam dan menerima serangannya itu. Ia menancapkan kelima kuku jarinya yang tajam itu ke perutku. Kemeja putihku ini mulai dibasahi oleh darah segar yang bercucuran keluar.
Sakit?! Tidak!! Aku jauh lebih kuat dari yang selama ini kubayangkan!
Dengan santainya aku mengisi ulang peluru pistolku ini dan menatap monster itu setelah selesai dengan urusan pistolku ini.
"Apa kau menungguku berteriak?" Ujarku tersenyum tipis.
"Kau memang kuat, tapi kau tak bisa membunuhku sekarang!!" Aku melompat ke belakang dan untuk membebaskan diriku dari semua kuku yang menancap di perutku ini. Tak sampai di situ saja, aku menggunakan tangan Akame raksasa itu sebagai sarana untuk memanjat badannya. Aku mencengkeram rambut merahnya untuk berpegangan. Sekarang aku berdiri di atas pundaknya dan dengan begini aku leluasa menyerang kepalanya.
"Matiiiii!!!!"
Aku menempelkan moncong pistolku ini ke kepala monster itu dan menembakan ketujuh peluru yang ada di dalam senjataku ini. Setelah senjataku ini tak berguna lagi, aku melemparnya dan berganti ke pisau yang aku sembunyikan di pergelangan tanganku. Aku langsung menusukannya ke batu kristal merah yang bersinar itu.
Krak!! Pyar!!!
Setelah berhasil memecah batu kristal itu, aku langsung melompat turun dari pundaknya itu. Beberapa saat kemudian Akame raksasa itu tersungkur di tanah lalu berubah jadi cairan hitam pekat yang berbau busuk.
"Huff, akhirnya," aku mengambil pistolku yang tergeletak di trotoar jalan dan kembali menyelipkannya di ikat pinggangku. Aku juga menyembunyikan pisauku ini dibalik lengan panjang long coat coklat yang aku pakai ini.
"Hoi hoi? Apa kau sehat?" Tanya Takumi dengan seringai senyum kejamnya itu.
"Hmm, hanya luka kecil." Jawabku santai.
"Musuh selemah itu, haha, kenapa kau sampai terluka." Takumi terkekeh mengejekku.
"Terserah," aku menyandarkan punggungku ke tiang lampu jalan untuk beristirahat.
"Lebih baik kita batalkan misi itu, aku mau bertanya pada Fumio tentang monster barusan." Takumi mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya lalu menelepon seseorang.
"Ya sudah, aku pulang dulu." Aku melanjutkan langkahku meninggalkan Takumi.
"Hoi? Yakin ga mau tunggu mobil?" Suara Takumi yang kudengar.
"Gak perlu, aku ingin menemui seseorang," jawabku terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun.
"Ooo, hati hati oi!"
__ADS_1
Aku terus berjalan tanpa mempedulikan lukaku yang masih mengeluarkan sedikit darah ini. Raku mengirim pesan padaku, tiba tiba ia ingin bertemu denganku di suatu tempat. Dan tempat itulah yang membuatku teekejut. Raku sudah menungguku di sebuah kafe yang ada di sekitar sini. Aku terkejut karena ia pasti sedang dikejar oleh para angota Shogun. Dan kenapa sekarang ia malah berada di kafe?!