Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 65


__ADS_3

Kaito


Kami bertiga berdiri di pinggiran tanah lapang yang ada di tengah hutan Hagume. Bau darah hitam Akame langsung menusuk hidungku. Pemandangan yang tak mengenakan ini juga langsung terlihat.


Tanah lapang yang dikelilingi hutan lebat ini sudah berubah menjadi tempat pembantaian Akame. Rumput rumput di tanah sudah berubah menjadi hitam. Sebagian cairan hitam itu masih menggenang, sedangkan sebagian lagi sudah diserap oleh tanah dan membuat warna hitam mengambil alih tanah itu.


Dan yang lebih mengerikan dari semua itu adalah. Dalang di balik semua yang terjadi ini ternyata adalah.


"Takumi ... dia ... dia di sini ...," Haru terbelalak ketakutan melihat Takumi.


"Cih ... Tenshi terkuat ada di sini rupanya ...," kata Kakume kesal.


Laki laki dengan jaket hitam dan celana panjang warna hitam pula. Sepatu olahraga warna putihnya itu sudah basah karena darah Akame dan mengubah sol sepatu itu menjadi hitam.


Rambut oranye dengan poni yang menutup mata kanannya. Ia memandang ke langit dengan bekas darah Akame yang ada di wajahnya itu. Dia menyembunyikan kedua tangannya di dalam sakunya. Takumi adalah Tenshi terkuat yang tak pernah serius dalam pertarungannya ya?


"Ohh ... kalian sangat terlambat ...," kata Takumi menatap kami dengan senyuman kejamnya itu.


"Kalian semua ... batalkan misi!!" teriakan Fumio yang terdengar dari alat komunikasi kami.


"Ekhem ... kalian boleh lari ... kecuali laki laki rambut hitam yang berdiri paling depan itu," ucap Takumi.


"Kalian berdua lebih baik pergi dari sini ... ini adalah urusanku ..."


"Kaito?! ... jangan sok kuat lagi kamu ya!!!" Teriak Haru kesal padaku.


"Haru ... ayo ... biarkan mereka bertarung ...," Kakume menarik tangan Haru memaksanya untuk kembali masuk ke hutan yang ada di belakangku.


"Payah!!! *****!!!" Teriak Haru tak bisa menolak tarikan Kakume yang kuat itu.


Setelah mereka kembali masuk ke hutan, tak ada suara sama sekali. Hanya suara angin musim semi yang berhembus dan bau darah Akame di sini. Sejujurnya, aku berterima kasih kepadanya karena sudah meringankan pekerjaan kami dengan membantai Akame yang ada di sini.


"Hehe ... temanmu itu ternyata tidaklah setia kawan ya?" Takumi terkekeh dengan senyuman tipis.


"Apa urusanmu denganku?", tanyaku walau aku sudah tahu akan tujuannya bertemu denganku.

__ADS_1


"Ha? ... sudah jelas ... untuk membunuhmu kan?" Takumi memiringkan kepalanya sembari meringis dengan wajahnya yang kejam itu.


"Ya sudah lah ... tak ada gunanya bicara padamu," aku memejamkan mataku dan menarik nafas dalam dalam.


Ten Kara No Ken~


Aku memanggil pisauku dan menggenggam gagangnya dengan sangat kuat.


"Dengan cahaya aku menghukummu ... dengan kegelapan aku membuatmu menderita ..."


"Dark Beast!"


Bilah pisauku memanjang dan bersinar terang. Tak lama kemudian aku sudah memegang pedang iblis dengan bilah warna merah darah yang bersinar ini. Tubuh bagian kiriku sudah berubah menjadi tubuh iblis. Aku melepas perban yang menutupi mata kiriku dan sekarang aku melihat dengan mata iblisku.


"Ini dia yang ku tunggu ... tunjukan kemampuan mu bocah!" Ujarnya dengan wajah santainya itu.


"Tenshi ... tidak seharusnya membunuh satu sama lain," kataku melangkah maju perlahan.


"He? ... dengar ya bocah ... kamu harus bisa membuatku serius dulu ... baru aku mau mengatakan alasanku ...", Takumi melakukan gerakan pemanasan di pergelangan kakinya.


Aku melesat cepat ke arahnya dan bersiap menebas kepalanya itu. Dia malah menatap ku dengan tatapan tajam dan senyuman kejamnya itu tepat sebelum aku bisa mengayunkan pedang ku.


Swush!!! Srat!!!


Tepat saat aku mengayunkan pedangku. Takumi melompat sangat tinggi menghindari tebasanku. Tak ku sangka gerakannya bisa secepat itu. Takumi mendarat tepat di belakangku.


Bruak!!!


Dia menendangku sangat keras sampai aku terpental beberapa meter. Aku sempat berguling guling di tanah sebelum aku bisa berhenti. Jadi ini kekuatan sang Tenshi terkuat itu. Jujur saja, rasanya sangat sakit. Aku tak tahu apakah aku bisa menerima serangannya lagi atau tidak.


Aku bangkit berdiri dan mengambil pedangku yang tergeletak di tanah. Inilah saat yang tepat untuk menjalankan rencana kami.


"Kakume ... sekarang," bisikku.


"Mati kau payah!!!" Dengan kekuatan Stealth nya itu aku memintanya untuk menyerang Takumi dari belakang.

__ADS_1


Kakume, aku mengandalkanmu. Jika ini gagal, bahaya bisa menimpamu. Aku mohon, jangan sampai gagal.


Kakume mengayunkan pedangnya ke arah Takumi yang mulai menyadari keberadaannya. Tepat sebelum mata pedang Kakume menyentuhnya. Takumi membalik badannya dan menendang tangan kanan Kakume dan membuat Kakume menjatuhkan pedangnya.


Sial!!!


"Hmm ... rencana bodoh ..."


"Aku sudah tau ... para Tenshi tak akan semudah itu meninggalkan temannya ...," ucap Takumi tetap berdiri tegak dan menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku jaket.


Dia kuat, sangat kuat, hanya saja hatinya sudah membeku karena kehilangan arah hidupnya. Mata itu, aku juga pernah mengalaminya.


"Takumi!!!"


Aku kembali berlari ke arahnya dan berusaha menyerangnya menggunakan pedangku.


Trank!!!


Takumi mengambil pedang Kakume yang terjatuhke tanah dan menangkis serangan pedangku.


"Kaki ku sedikit lelah ... aku coba pakai tangan kananku lah ..."


Takumi menahan seranganku hanya dengan menggunakan tangan kanannya. Tangan kirinya tetap ia sembunyikan di balik saku jaket hitamnya itu. Senyuman kejamnya itu selalu membuatku semakin kesal.


"Kaito ... itu nama mu kan? ... aku rasa kau juga belum terlalu serius melawan ku ..."


Dia melangkah mundur lalu mulai menyerang ku dengan pedang milik Kakume itu.


Tang!!! Treng!!! Trank!!!


Aku berusaha menangkis setiap sabitan pedang yang ia berikan ke padaku. Percikan api sampai keluar setiap bilah pedang kami saling berbenturan. Tak kusangka Takumi juga ahli dalam berpedang. Setiap serangannya itu berhasil membuatku bergerak mundur.


"Hahahaha!!! apa hanya itu saja?", tawa kencangnya sembari terus mengayunkan pedang ke arahku.


Ayunan pedangnya begitu cepat. Aku sampai kualahan menangkis setiap serangan yang ia berikan padaku. Perlahan tapi pasti, kami berdua menuju ke tengah tengah tanah lapang ini. Tanganku mulai kelelahan menangkis semua serangannya itu.

__ADS_1


__ADS_2