
Boom!!!
Ratusan misil yang menghantamku itu meledak dan membuat asap hitam tebal menyelimutiku. Tanpa basa basi aku melompat ke langit dan keluar dari kepulan asap hitam itu. Inilah saatnya aku membalas semua serangan murahannya itu. Aku melempar tombak kegelapanku ke arah bahu robot raksasa itu dan membuat lengan kirinya terlepas lalu terjatuh ke tanah.
Tidak berhenti sampai di situ saja, aku kembali melempar tombak yang ada di tangan kiriku. Tombak kegelapanku menancap di tubuh mainan raksasa itu sebelum akhirnya meledak. Tak kusangka ledakanku hanya menggores baja tebal robot raksasa itu. Tapi, itulah yang sebenarnya aku harapkan. Semakin kuat musuh yang kuhadapi, aku juga akan semakin kuat bila mengalahkannya nanti.
Tapi robot itu masih memiliki Machine Gun di lengan kanannya. Dia tak kunjung menyerah dan kembali menghujaniku dengan ratusan pelurunya. Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dan menahan semua seranganya. Aku yang masih melayang di udara ini terdorong mundur karena serangan tanpa hentinya itu.
Aku sengaja tak menghindarinya untuk menguji batas kemampuan mainan raksasa itu. Dan saat yang kutunggu pun tiba. Moncong Machine Gun itu berhenti berputar dan tak lagi memuntahkan peluru, hanya tersisa asap yang keluar dari lubang senjata itu. Ternyata memang mainan itu tak lebih dari sampah yang dibuat untuk membuat dunia ini lebih buruk.
"Dasar kaleng mainan!!!" Aku menggunakan jurus Shadow Break-ku dan dalam sekejap mata aku kembali ada di belakang punggung kaleng raksasa itu. Aku segera meninjunya dan membuatnya melayang ke atas langit seperti bola voli. Tak sampai di situ saja, aku kembali berteleportasi ke atas langit dan menunggu robot itu terbang ke arahku.
"Rocket Atack!" Hal yang tak terduga terjadi, telapak kaki robot itu mengeluarkan api pendorong dan membuatnya melesat lebih cepat dari yang kubayangkan.
Dar!!!
__ADS_1
"Hua? Mainan yang bisa terbang?" Ucapku santai sembari menyilangkan tangan di depan untuk menahan benturan dari kepala botaknya itu.
"Apa pemilik mu akan marah kalau kamu kugores sedikit?" Aku mengayunkan kakiku dari atas ke bawah dan mengembalikan robot raksasa itu ke tanah dengan sangat keras.
"Shadow Spear!!" Aku memanggil tombak dan menggenggamnya di tangan kiriku. Dengan cepat aku melesat ke bawah dan menancapkan mata tombakku ke tubuh robot raksasa yang tergeletak tak berdaya itu.
"Bocah! Saatnya kamu keluar dari mainanmu ini!!" Aku meledakan tombak kegelapan ku dan membuat mainan kaleng itu hancur berkeping keping. Aku melompat ke belakang untuk keluar dari asap hitam yang menyelimutiku. Pertarungan ini masih belum selesai, mainan besarnya itu memang sudah hancur. Sekarang aku hanya perlu menghadapi sang pemiliknya. Dan di saat yang sama Detroit itu keluar dari asap dan langsung melancarkan ratusan pukulannya padaku. Tanpaku sadari kekuatannya sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Dia terus melancarkan tinjuan tangan besinya itu padaku. Perlahan tapi pasti aku terdorong mundur ke belakang karena menerima setiap seranganya. Aku tak menghindar sama sekali, aku malah tersenyum santai walau tujuannya itu menghantam tubuhku.
Dank!!!
"Whoah? gak sakit ya?" Aku memiringkan kepalaku dan menyunggingkan senyum kejamku.
Detroit itu kembali berlari ke arahku tanpa rasa takut sedikit pun. Sekarang dia menggunakan kedua kakinya untuk berusaha melukaiku. Dengan santai aku menghindari setiap tendangannya itu. Aku terus menghindar dan menunggu sedikit celah yang dia buat. Dan saat itu pun tiba, aku menangkis tendangannya dengan lengan kananku dan melempat tinjuan tangan kiriku ke wajahnya. Dia kembali terlempar jauh ke depanku dan membentur batang pohon besar lagi. Detroit itu kembali bangkit berdiri dengan goresan yang ada di seluruh bagian tubuh besinya itu. Dia pasti tak merasakan sakit, takut, lelah, atau ragu. Dia sudah berubah menjadi mesin seutuhnya. Dan lawan seperti itulah yang aku butuhkan. Aku akan membunuhnya tanpa harus memikirkan rasa sakit yang akan dia alami.
"Hahaha!!! Apa kamu masih kuat berdiri?!" Aku berlari ke padanya dengan cepat. Aku melayangkan tendanganku dan membuatnya terbang tinggi ke atas langit. Tak berhenti sampai di situ saja, aku menembakan bola energi kegelapan ku padanya. Ledakan besar pun terjadi di atas langit. Asap putih tebal menyelimuti Detroit itu. Dan hal yang tak terduga akhirnya terjadi. Bocah besi iti tiba tiba ada di belakang punggung ku dan meninjuku hingga aku terdorong ke depan dan berguling guling di tanah. Pada akhirnya jaket ku kotor juga, lagi lagi aku harus mencucinya malam ini.
__ADS_1
Bam!!!
Si kaleng itu tak memberiku waktu untuk bernafas. Dia kembali melesat ke arah ku dan membuat ku melayang layang ke udara tanpa kendali karena tendangannya yang cukup kuat itu. Aku bisa melihat bulan dan bintang yang menghiasi langit malam ini. Aku sedikit menghirup udara segar dan memejamkan mataku.
"Kak ... Kak ... Lihat! Bintangnya indah ya?" Lagi lagi suara indah adik perempuanku itu terdengar dan seakan menusuk hatiku ini.
Hana, sampai kapan kamu menyiksa kakak seperti ini?
Entah kenapa aku sekarang merasa sangat damai. Aku berpindah tempat ke suatu tempat yang tak ku kenal. Lantai putih bersih yang memantulkan cahaya dari sinar sinar yang ada di langit langit ruangan ini. Aku hanya bisa melihat warna putih sejauh mata memandang. Dan yang lebih mengejutkan, aku melihat gadis SMP rambut hitam panjang yang terurai. Dia memakai Yukata warna merah muda motif bunga yang indah. Dia memakai jepit rambut yang membuat poninya tak menutupi indahnya wajahnya itu. Dia berdiri dan menyembunyikan kedua tangannya di belakang pinggangnya. Senyuman indahnya itu tak pernah ku lupakan. Dia adalah Akiba Hana, adikku tersayang yang meninggalkanku sendirian di dunia ini.
"Hana?!" Aku terpaku dan tak bisa bergerak ketika melihat adik perempuanku yang cantik berdiri di hadapanku sekarang ini.
Akiba Hana
__ADS_1