
Entah apa yang terjadi sampai malam yang sangat aneh ini datang. Kami berempat makan bersama layaknya keluarga yang diselimuti kebahagiaan. Hari ini aku mengetahui sifat Takumi yang ia sembunyikan di dalam hati iblisnya itu. Dia begitu lembut dan murah senyum saat ada di sisi Hanabi. Tenshi terkuat di bumi sekarang berada di dalam rumahku. Iblis berhati malaikat itu sangat berbeda sepanjang hari ini.
Sepanjang hari kami hanya menghabiskan waktu dengan bermain dan memenuhi ruangan dengan canda tawa. Senyum Ai dan Hanabi yang indah itu membuatku sedikit merasa tenang. Malam ini kami berempat duduk mengelilingi meja makan rumahku. Hanabi duduk di seberang meja bersama Ai yang ada tepat di depanku.
Aku berada di samping Takumi dan menikmati makanan buatan para gadis itu bersama sama. Entah kenapa aku malah akrab dengan calon pembunuh ku sendiri. Dunia ini memang akan segera berakhir, hidupku mulai tidak beraturan sekarang. Mulai dari kekuatan aneh yang ku miliki, Demom Hunter, Enjeruhanta, Ai dan Saika, Fate stone. Semua kejutan itu datang menghujani kehidupan ku yang kering dan tandus.
"Ne, apa musim panas nanti kak Takumi mau ikut kami ke festival musim panas?" Tanya Hanabi dengan senyuman lebar di wajahnya itu.
"Whoa, bagus juga idenya. Apa aku boleh ajak beberapa orang lagi?" Takumi menanggapi ajakan Hanabi itu dengan sangat gembira.
"Boleh boleh!" Hanabi mengangguk sembari meminum segelas susu miliknya.
"Siapa yang kamu ajak?" Tanyaku cuek.
"Tentu saja tunanganku, ohh, mungkin pacar keduamu juga akan ikut." Kata kata Takumi yang membuat ku tersedak saat meneguk segelas air putih.
"Ukhuk! Ukhuk! ... Oi! Berapa kali kubilang dia bukan pacarku!" Sangkalku.
"Haha, jangan panik begitu kalau ada calon istri di depanmu!" Takumi menepuk bagian belakang kepalaku.
"Terserah ...," aku menyangga kepalaku dengan tangan kanan dan memalingkan wajahku.
"Ohh, iya, apa Hanabi mau Yukata baru?" Takumi berdiri dari kursinya.
"Haaa!! Mau mau mau!!!" Hanabi melompat kegirangan dengan matanya yang berbinar itu.
"Hoi? Mau nyogok adikku kah?" Aku memasang wajah malas.
"Haha ngga lah, kalian berdua sekalian ikut boleh kok." Takumi terkekeh dan mulai mengutak atik ponselnya.
"Hmm, Ai, apa kamu mau Yukata baru?" Aku menoleh padanya.
"He?! Yu-yukata? Apa gak masalah?" Rona merah kembali memancar di kedua belah pipinya itu.
"Biar aku yang beliin," ucapku santai.
"Hua, makasih Kaito!" Senyum dan bola matanya yang berbinar itu sangat menyejukkan hatiku.
"Apa kita pergi sekarang Takumi?" Tanya ku sembari bangkit berdiri dari kursi meja makan yang kududuki.
"Kalo enggak kapan lagi, aku sudah minta tim Demon Hunter mengatar mobil ke depan rumah, kalian siap siap aja dulu." Takumi kembali memasukan ponsel ke dalam saku jaketnya.
__ADS_1
"Woh, enak banget hidupmu yak." Sindirku lalu segera menaiki tangga dan kembali ke kamarku. Aku segera memakai jaket hitamku dan mengambil dompetku. Setelah kembali ke lantai bawah aku masuk ke kamar Hanabi untuk melihat Ai.
"Kai ...," saat aku sampai di depan pintu kamar, Ai menabrakku dan kepalanya membentur dadaku. Kami seakan berpelukan dan pasti Hanabi akan salah paham.
"Whoa! Belum belum udah pelukan aja! Apa kalian gak sabar mau nikah?" Ujar Hanabi yang sedang mengambil tas tangan merah mudanya itu.
"Berisik!" Aku melepas pelukan Ai dan melangkah keluar dari rumah.
"Hoi!" Takumi yang sedang duduk di atas kap mobil sedan hitam itu melambaikan tangannya santai. Mobil sedan hitam itu terparkir di tengah jalan depan rumahku. Tak kusangka Takumi bisa dengan mudah memesan mobil dan langsung datang seketika. Itulah enaknya anggota DH yang sudah dewasa. Takumi lebih tua tiga atau dua tahun dariku. Dan hari ini dia berlagak seperti kakakku saja. Padahal, dia punya niatan untuk menghabisiku setelah musim panas ini selesai.
"Kaito, aku sangat berharap padamu." Takumi menengadahkan kepalanya dan menikmati langit malam penuh bintang.
"Berharap apa?" Aku mendekat ke mobil sedan itu dan menyandarkan punggungku ke pintu mobil.
"Selesai musim panas ini, kuharap kekuatan mu sudah jauh lebih kuat."
"Aku sebenarnya tak ingin membunuhmu, tapi aku harus melakukanya demi adik perempuanku."
"Aku harus lebih kuat dan terus lebih kuat."
"Dan, hari ini anggap saja aku sebagai kakakmu."
"Nikmati saat saat ini."
"Anggap saja malam ini sebagai hadiah sebelum kematianmu." Takumi menoleh dan menyunggingkan senyum.
"Hmm, aku juga tak akan kalah darimu, jadi jangan berharap terlalu tinggi." Kataku santai sembari melihat langit malam yang dihiasi ratusan kelap kelip bintang.
"Hmm, aku suka semangatmu itu."
"Dan juga, jika kau bisa mengimbangi kekuatan ku dalam pertarungan nanti."
"Aku tak akan mencoba untuk membunuhmu lagi."
"Orang yang bisa mengimbangi kekuatanku sangat layak untuk hidup."
"Satu lagi, aku boleh terus mengunjungi Hanabi kapan pun kan?" Takumi melompat turun dari atas kap mesin mobil.
"Hmm, terserah." Aku melipat tanganku di depan dada dan memejamkan mataku.
"Kakak!! Kami siap!!" Teriak Hanabi berlari keluar dari pintu rumah.
__ADS_1
"Wah! Ya sudah ayo berangkat!" Takumi langsung berlari masuk ke mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Ai menutup pintu rumahku terlebih dahulu. Si tuli itu melangkah ke arahku perlahan dengan sedikit rona merah yang memancar di pipinya. Hanabi sudah masuk ke mobil dan duduk di kursi depan samping Takumi. Aku membukakan pintu belakang mobil dan mempersilahkan Ai untuk masuk terlebih dahulu. Setelah memastikan Ai sudah masuk, sekaranglah giliran ku. Setelah kami berempat sudah duduk dengan nyaman, Takumi pun menancap gas dan mengendalikan laju mobil yang kami tumpangi ini.
"Kak Takumi, apa boleh nyalain radio?" Tanya Hanabi.
"Hmm, apapun untukmu!" Takumi mengangguk dengan senyuman sembari terus memegang roda kemudi dengan tangannya.
"Ini dia ketemu!" Ujar Hanabi setelah beberapa saat mengutak atik tombol radio yang ada di tengah dashboard mobil. Irama musik pun mulai mengisi telinga ku.
Step by step, lets us walk together ~
Kita akan berlari bersama menembus takdir ~
Jika memang itu tak bisa terwujud ~
Aku tetap tak akan melepaskan tangan mu ~
Kita akan bertarung sampai the last page ~
Walau buku cerita takdir sudah berkata kita berakhir ~
Aku yakin kita masih bisa merasakan kebahagiaan ~
Berharap bisa menerima keajaiban dari sang peri ~
Aku akan mempertahankan mimpi ini di tengah kegelapan yang menyelimutiku~
Langkah pertama di musim semi ~
Kita melangkah menyusuri jalanan yang penuh dengan Sakura ~
Kita menuliskan takdir kita di setiap langkah yang kita lakukan ~
First Page! Aku lewati bersamamu ~
"La-lagu ini?!" Gumamku terkejut ketika mendengar lagu yang baru saja dinyanyikan Ai tadi pagi. Perlahan aku menoleh ke arah Ai yang duduk di samping kananku. Dan alangkah terkejutnya aku saat bisa melihat ia mengalirkan air matanya dari pantulan kaca jendela mobil.
Okino Hanabi
__ADS_1