
Setelah keluar dari kafe yang ada di pinggir jalan itu. Aku menggandeng Ema dan menuntunnya untuk melangkah maju. Kami menerobos keramaian kota di tengah hari yang cerah ini. Kami berdua melangkah di tengah pejalan kaki lain yang lalu lalang. Paras cantik Ema itu selalu mengambil perhatian para pejalan kaki yang berpapasan dengan kami.
"Okino-sama, aku ingin ke taman sakura." Ucapan Ema yang mengejutkanku.
Sakura?
Aku yakin itu adalah keinginan Ai. Mana mungkin Ema ingin ke taman Sakura sedangkan dirinya sendiri tak bisa melihat indahnya bunga di sana. Ya, kali ini aku akan berkencan dengan Ai yang sebenarnya. Tiga gadis dalam satu hari, sepertinya aku memecahkan rekor pribadiku.
"Hmm, apa Ai yang memintanya?" Tanyaku tetap melangkah maju.
"Iya, apa aku boleh berubah sekarang?"
"Janga-," Sebelum aku menyelesaikan kalimatku Ema sudah berubah kembali menjadi Ai.
Aaanghh!!! Kenapa mereka selalu merepotkan seeh?!
"Eh? Apa kencanmu dengan Ema sudah selesai?" Ai memasang wajah bingungnya.
"Hmm, terserah." Aku melepas tanganku dari Ai dan terus melangkah maju.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Ai sembari menarik lengan seragamku berkali kali.
"Taman Sakura," jawabku.
"Bukannya itu agak jauh ya?" Ai sedikit memiringkan kepalanya.
"Kita kan masih punya banyak waktu, santai aja."
__ADS_1
"Lagipula itu keinginanmu sendiri kan?"
"Kamu sudah memberikan Mirai dan Ema kesempatan, sekarang adalah giliranmu." Kami pun berhenti di halte bus di pinggir jalan raya.
Kami berdua menunggu bus yang akan membawa kami ke taman Sakura yang sedikit jauh dari pusat kota. Ai hanya diam dan berdiri di samping kananku. Paras cantiknya itu selalu membuatku mengalihkan seluruh perhatianku padanya.
Apa aku sudah jatuh cinta padanya?
"Ne, ngomong ngomong ... apa Kaito ingin pergi ke suatu tempat?" Pertanyaan yang tiba tiba keluar dari mulutnya.
"Oh ... hmm ...,"
Suatu tempat ya?
"Gak ada," aku memang tidak memiliki tempat yang ingin kutuju selama ini. Lagi pula di dunia ini tak ada tempat yang bagus menurutku.
"Hmm ...,' aku memalingkan wajah lku karena jantungku mulai berdebar kencang.
Di saat yang sama bus besar warna putih berhenti di depan kami berdua. Saat pintu otomatis terbuka beberapa orang keluar dari dalam bus. Setelah memastikan tak ada orang yang ingin keluar dari bus, aku menggandeng Ai dan kami masuk ke dalam bus bersama sama. Aku duduk di kursi yang ada di samping jendela bus, Ai duduk di sampingku tanpa bersuara sedikitpun.
Bus kota yang kami tumpangi ini pun mulai melaju di jalan raya perkotaan yang ramai ini. Tempat yang inginku tuju, jika ada satu satunya tempat yang ingin ku tuju adalah. Rumahku sendiri, aku sudah tak memiliki tujuan untuk kemanapun. Aku hanya bisa merasakan ketenangan di rumah, duduk di meja makan bersama Ai dan Hanabi itu sudah cukup bagiku. Lagi pula sang dewa tak akan memberiku kebahagiaan di manapun aku berada.
"Ne, Kaito? kalau besok novelku menang lomba. Apa kamu bakal beneran buatin novel untukku?" Ai kembali menarik lengan seragamku dan mendekatkan wajahnya padaku.
Astaga, dia masih ingat dong?!
"Hmm, iya iya ...," aku memalingkan pandanganku ke luar jendela bus yang sedang melaju ini. Aku menyerah menolak permintaannya itu, ya sudahlah lagi pula cuma nulis novel. Kalau jelek dia pasti tak akan berkomentar.
__ADS_1
"Ne ... ne, apa gak masalah kita bolos hari ini?" Pertanyaan yang sungguh terlambat untuk aku jawab sekakarang.
"Menurutmu?" Aku tetap memperhatikan gedung gedung yang kami lewati dengan cepat.
"Waahh!!! Kaito, lihat itu!" Ai mendesak ku hingga wajahku menempel di kaca jendela bus, aku bisa melihat paras cantik dengan senyuman lebarnya itu dengan jelas. Kami sama sekali tak terpisahkan oleh jarak. Wajah kami hanya berjarak lima sentimeter. Ai ternyata melihat pohon sakura yang berbaris rapi di pinggir jalan.
"Indahnya!!" Melihat bola mata ungunya yang berkilauan itu, aku sama sekali tak bisa mengalihkan pandanganku dirinya.
"Ai"
"Apa? Eh?! Maaf maaf ...," Ai terperanjat dan kembali duduk ke tempatnya semula.
"Maaf Kaito ... aku cuma ...,"Ai menunduk dengan wajahnya yang memerah tanda ia sedang tersipu malu.
"Ohh, gak apa apa kok." Aku malah ikut salah tingkah saat melihatnya seperti itu.
Sesaat kemudian bus yang kami tumpangi berhenti di samping halte taman Sakura. Kami berdua pun turun bersama para penumpang lain. Aku menggenggam tangan Ai supaya ia tak tersesat karena keramaian ini. Saat kami sampai di depan gerbang taman yang terbuka lebar itu. Warna merah muda mulai mengambil alih sore ini.
Taman Sakura yang ada di pinggir kota Natsu ini memang indah saat musim semi tiba. Taman yang luas dengan pohon pohon sakura yang tertata rapi di pinggir jalan setapak. Orang orang yang lalu lalang dengan pacar atau keluarganya. Pengunjung yang memotret satu sama lain. Langit yang mulai berubah menjadi oranye ini menambah suasana jadi sempurna.
"Waahh!!!"
"Kaito?! apa aku boleh masuk?" Ai bertanya dengan senyuman yang menyeringai.
"Kenapa kita ke sini kalau kamu gak boleh masuk?"
"Hore!!" Ai bergantian menarik tangan ku dan memaksaku mengikuti langkahnya itu.
__ADS_1