Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 203 Tokoh Utama


__ADS_3

Kaito


Aku sudah melakukan perjalanan panjang, dan lihat apa yang kudapat. Tak ada, aku pulang tanpa membawa apa pun, dan sekarang aku malah kehilangan perempuan yang aku cintai.


Aku sudah lelah ...


Hangat, aku merasakan kehangatan yang telah lama hilang. Tangan kiriku digenggam oleh seseorang. Kecil, dan lemah, kelembutan ini. Hanabi, aku ingat, adik perempuanku itu pasti serang berada di sisiku. Aku sedikit merasakan kedamaian yang telah lama kulupakan.


"Kakak? Udah bangun?" Suara lembut nan kecil itu membuatku merasa ada di surga.


Dan alangkah terkejutnya aku ketika membuka kembali kedua kelopak mataku. Aku sedang tidur satu ranjang dengan adikku sendiri. Kami saling berhadapan dan wajah kami sangat dekat sampai hidung kami hampir bersentuhan. Gadis cantik dengan rambut hitam sebahu, bola mata hitam yang memusatkan pandangannya padaku.


"Hanabi, kenapa kamu di sini?" Tanyaku lirih karena tak punya tenaga sedikit pun.


"Nemenin kakak lah, aku kangen sama kakak!" Ia memelukku dengan sangat erat dan menempelkan kepalanya ke dadaku.


"Maaf, apa kakak buat kamu sedih?" Aku mengelus kepalanya dan memberinya kehangatan yang ia rindukan.


"Aku ga akan biarin kakak bertarung lagi! Dasar bodo! Ga punya otak!" Hanabi memukulku perlahan menggunakan tangan kecilnya itu.


"Hanabi, maaf, tapi aku harus tetap bertarung." Aku melepas pelukannya lalu duduk di ranjang ini. Aku menoleh ke segala arah dan menyadari tempat asing bagiku. Seluruh ruangan, mulai dari dinding, lantai, pintu, semua terbuat dari besi. Lampu di setiap sudut ruangan ini juga menambah kesan futuristik.


Sebenarnya dimana ini? ...


Dan tiba tiba pintu ruangan ini terbuka otomatis. Dan lihat siapa yang masuk ke ruangan ini. Saika dalam mode Cyber Shield, dilengkapi dengan luka goresan yang cukup banyak. Si mesum itu pasti habis bertarung, entah siapa lawannya.


"Senpai!!!" Ia berlari lalu memelukku erat sama seperti yang Hanabi lakukan.


"Sa-Saika?!" Aku terdiam karena kehabisan kata-kata.


"Maaf ... karenaku ... ini semua salahku!" Saika mengalirkan air matanya keluar dan membasahi kaos yang aku kenakan ini.


"Oi oi! Kamu ga salah kok, udah jangan nangis." Aku melepas pelukannya seraya mengusap air matanya menggunakan ibu jariku.


"Ekhem, maaf ganggu!" Seorang laki laki di depan pintu itu menarik perhatianku. Rambut pirang berkacamata. Ia memakai setelan jas putih yang membuatnya terlihat gagah. Dan alangkah terkejutnya aku saat ia membuka mata. Warna bola mata unik, seperti campuran warna acak yang membentuk lingkaran. Usianya sekitar dua atau tiga tahun lebih tua dariku.

__ADS_1


"Kak Tomoya?" Hanabi seperti gugup ketika melihat laki laki bernama Tomoya itu.


"Kaito, maaf mendadak, tapi ... aku menantangmu berduel." Pernyataan yang mengambil Hanabi dan Saika.


"Kak Tomoya!"


"Hanabi, maaf ... aku ada sedikit urusan dengan kakakmu." Kata Tomoya tanpa ekspresi di wajahnya itu.


"Ikutlah denganku!" Pintanya lalu melangkah pergi dari pintu ruangan ini.


"Ya, sepertinya aku akan bertarung lagi ...," aku bangkit berdiri dan sedikit meregangkan tubuhku yang kaku ini.


"Kakak, semangat!" Hanabi memberikan senyuman seindah kembang api di puncak festival musim panas.


"Senpai, apa setelah ini kau ada waktu?" Tanya Saika memancarkan sedikit rona merah di pipinya.


"Hmm, mungkin, apa kamu mau kencan?" Aku menggodanya dengan senyuman tipis.


"Bu-bukan! Ta-ta-tapi ...," wajahnya yang sepenuhnya memerah itu menjawab semua pertanyaanku.


"Kaito ... kamu pilih Ai atau Saika?" Tomoya menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu ruangan.


Apa?!


Aku hanya berhenti di sampingnya tanpa menjawab sepatah kata pun. Dan beberapa detik kemudian pintu ruangan di hadapan kami itu bergeser dengan sendirinya. Cahaya lampu terang yang menerobos keluar, kami berdua melangkah masuk ke ruangan luas tanpa ada apa pun di dalam sini. Ruangan ini sangat luas, bahkan hampir menyamai ukuran lapangan sepak bola.


Ruangan putih dengan dinding dan lantai baja. Lampu yang bebaris di langit-langit. Tempat seluas ini tanpa ada barang apa pun, ini pasti adalah tempat pertarungan. Selain pintu masuk tadi, ada satu pintu kecil samping kaca di sisi kanan ruangan ini. Alangkah terkejutnya aku karena ada Saika dan Hanabi yang melihatku dari sisi lain ruangan ini.


"Sebelumnya, perkenalkan namaku ...," Tomoya melangkah maju menjauhiku lalu berbalik untuk berhadapan denganku.


"Okino Tomoya."


Tentu, aku terbelalak dan kehabisan kata kata. Ya, karena hidupku sudah dipenuhi kejutan. Aku terlalu lelah untuk terkejut. Sekarang aku hanya akan menerima kenyataan apa adanya. Kalau begitu, artinya dia adalah kakakku.


"Jadi, kenapa kita berduel kakak?" Tanyaku tanpa basa basi lagi.

__ADS_1


"Woah, cepat sekali menyimpulkan." Ujarnya tersenyum tipis.


"Tentu untuk mengukur seberapa jauh perjuangan adikku ini." Ia berlajut memancarkan tatapan tajam dari dalam kacamatanya itu.


"Hanya pengukuran kekuatan ...,"


"Jangan anggap remeh! Aku tidak akan menahan diri dan bisa saja membunuhmu!" Tomoya membuatku terdiam karena keseriusannya itu.


Kalau begitu akan aku tunjukan hasil perjalananku dan perjuanganku selama ini. Aku akan membuktikan kemampuanku pada kakakku yang pergi entah kemana. Lalu datang dan mengajakku bertarung seperti ini.


"Kalau begitu, seranglah aku Kaito!" Perintahnya dengan nada tegas.


"Kalau gitu!" Aku mengarahkan tangan kananku padanya untuk mengeluarkan sihir pengendali gravitasi.


"Apa?!" Aku hanya bisa menyadari bahwa kekuatan curianku itu sudah hilang. Aku tak bisa lagi menggunakan sihir pengendali gravitasi.


"Kamu cari ini?" Kata Tomoya diiringi tubuhku yang melayang entah karena apa.


Tunggu?! Jangan jangan?!


"Benar sekali, aku sudah mengambil kembali kekuatan curianmu!" Ucap Tomoya dengan santainya tanpa sedikit pun ekspresi.


Itu artinya?! Dia punya kekuatan Steal?! Sama sepertiku?!


"Kalau begitu!" Aku memanggil Ten Kara No Ken atau pedang dari surga yang masih berwujud sebuah pisau. Setelah menggenggamnya di tangan kananku erat. Saudaraku itu sama sekali tak mambiarkan aku berpikir. Ia langsung menghaantamku dengan kekuatan penuh dan membuat punggungku terantuk langit langit ruangan ini.


Setelah membuat retakan kecil, gaya gravitasi membuat badanku kembali menghantam tanah. Darah merah segar langsung keluar dari mulutku setelah terjatuh dari ketinggian hampir sepuluh meter itu. Aku berusaha bangkit dan menyimpulkan bahwa kakakku itu memang tidak menahan diri.


"Ukhuk! Dark Beast!"


Seruku lalu tubuhku bertranformasi ke mode Dark Beast. Tubuh bagian kiriku dipenuhi retakan aneh dan pengelihatanku memerah. Bukan hanya mata kiriku yang jadi mata iblis, melainkan mata kananku juga. Pisau di tangan kananku ini juga sudah berubah jadi pedang cahaya merah darah.


"Iblis! Kau tak layak menjadi pahlawan terpilih yang menyelamatkan dunia ini!" Teriak Tomoya mengacungkan jari telunjuknya padaku.


Trank!!!

__ADS_1


Serangan mendadak datang dari belakang. Aku yang lengah ini hanya bisa menerima kenyataan punggungku dihantam besi sekuat tenaga. Aku terpental maju tapi aku berhasil mendarat menggunakan kedua kakiku. Dan lihat siapa yang menyerangku dari helakang. Laki laki seumuran dengan Tomoya. Rambut putih dengan poni menutup mata kirinya. Sekilas ia mirip Saika hanya saja bola matanya berwarna emas. Dia juga memakai zirah baja hitam seperti jenis zirah Saika. Bisa dibilang dia adalah Saika versi laki laki. Dan aku yakin dia pasti kakak dari si mesum itu.


__ADS_2