Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 134


__ADS_3

Brroomm!!! Brromm!!!


Suara raungan mesin mobil sedan hitam yang menjadi tunggangan ku sekarang ini. Aku duduk di kursi pengemudi dan memasang sabuk pengaman. Taki duduk di samping kiriku dan pastinya juga memakai sabuk pengamannya. Walau aku tak pernah memegang setir mobil seumur hidup, tapi jangan pikir aku tak bisa mengemudikan mobil.


Sejak kecil dulu, selain hobi menulis, aku juga sering bermain simulasi balapan mobil di konputerku. Tentu saja aku tidak pakai keyboard atau joystick sebagai kontroler. Ayah ku dulu membelikan kontroler khusus untuk game simulasi mobil. Sampai sekarang aku masih menyimpan Setir, perseneling, dan ketiga pedal simulasi itu di kamarku.


"Kaito, jangan lupa pakai ini!" Taki mengambil dua T-Phone yang tadinya berada di atas dashboard mobil dan memberikan satu diataranya padaku. Aku memasang alat kecil seperti earphone tanpa kabel itu di telinga kananku.


"Sekarang kita harus ke sekolah adikmu dan meminta kepala sekolah untuk melakukan evakuasi!" Jelas Taki membuatku mengerti apa yang harus dilakukan pertama kali.


"Hmm, baiklah ...," aku segera menancap pedal gas dan melajukan mobil ini menuju ke SMP Senkou. Sekolahku dulu dan juga sekolah Hanabi sekarang ini. Arah dari sekolah Hanabi itu berlawanan dengan SMA ku. Dan karena jaraknya juga tak terlalu jauh dari rumahku ataupun markas rahasia timku, kami hanya butuh waktu kurang dari dua menit untuk sampai ke depan gerbang SMP itu.


Aku segera masuk dan memarkirkan mobil ini di tempat yang sudah disediakan. Kami berdua pun segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke gedung sekolah yang ramai akan murid murid SMP yang lalu lalang. Ini adalah jam istirahat, dan pastinya Hanabi ada di luar kelasnya.


"Kita ke kantor kepala sekolah kan?" Tanya ku saat kami menyusuri lorong sekolah yang amat sangay bising ini.


"Ya, dan kita harus tunjukan tanda pengenal kita di depannya." Jelas Taki memberi instruksi padaku.


"Wooohh?!! Kakak!?" Teriak Hanabi bingung saat dia melihatku yang hendak melewat kelasnya. Dia sedang berdiri di depan kelasnya dan berbicang dengan dua teman gadisnya itu.


"Dia kakakmu itu?" Tanya gadis rambut biru sebahu dan mata hitam itu.


"Woah kakak mu keren juga ...," ujar gadis pendek dengan rambut merah yang dikuncir itu.


Ya elah, pake liat aku segala ...,


"Kakak kakak! Kenapa kamu ke sini?" Hanabi mencegatku dan kami berdua terpaksa menghentikan langkah.


"Adik mu cantik juga Kaito," puji Taki merangkul pundak ku dengan senyuman tipisnya.


"Kakak ada urusan sama kepala sekolah mu," aku menjawabnya dengan jujur.


"He? Kok bisa?" Hanabi memiringkan kepalanya bingung.

__ADS_1


"Sudah ini rahasia, sekarang bilang ke temen mu itu buat beresin barang barang mereka ya?" Ujar Taki dengan keramah tamahan si culun itu.


"Denger ya Hanabi, kakak sekarang itu detektif loh," aku merunduk dan mengusap kepala Hanabi lembut.


"Woaahh ... kalau yang ini, apa aku boleh cerita sama temen temen ku?" Tanya Hanabi dengan matanya yang berbinar itu.


"Hmm, ya udah, kakak buru buru, tetep di sini, jangan pergi ke kamar mandi. Jangan pergi ke lantai dua, jangan masuk ke ruangan apapun oke?" Pesanku pada adikku satu satunya itu.


"Siap kak!" Seru Hanabi dengan senyuman imutnya itu.


"Ya udah, kakak pergi dulu ya ...," aku pun pamit dan segera melanjutkan langkah ku untuk menaiki tangga. Kami segera menuju ke kantor kepala sekolah yang ada di lantai dua gedung sekolah ini.


"Dibalik sifat dingin mu itu, kamu ternyata siscon ...," ejek Taki dengan wajah datarnya.


"Hmm, bodo amat ...," aku terus melangkah maju menyusuri koridor yang sepi ini. Kami menuju kenujung koridor dan berhenti di depan ruangan. Ruang Kepala Sekolah, itulah yang tertulis di papan penunjuk ruangan atas pintu.


Tok tok tok!


"Permisi, apa kami boleh masuk?" Ucapku.


"Ano ...," aku membuka pintu dan masuk ke dalam perlahan. Ruangan yang sedikit besar, lemari lemari yang penuh dengan buku dan piala yang terpajang di sisi ruangan. Wanita tua dengan warna rambut yang sudah tertutup oleh uban. Kacamata dan tatapan tajamnya itu masih sama seperti dulu. Dia duduk di depan meja membelakangi jendela dengan tirai yang terbuka lebar.


"Wah wah, lihat siapa yang datang ... Kaito kenapa kamu kembali ke sini?" Ujarnya setelah melihat ku masuk bersama Taki.


"Silahkan duduk ...," lanjutnya mempersilahkan kami duduk sembari menunjuk ke arah dua kursi yang ada di depan kami berdua. Aku dan Taki pun duduk di kursi yang telah disediakan itu. Nama ibu kepala sekolah itu adalah Sachi, aku tak tahu nama lengkapnya, lagi pula tak penting juga aku mengetahuinya.


"Gini bu ...,"


"Kami dari Detektif Demon Hunter, ingin menjelaskan situasi yang sangat genting pada anda!" Taki menyela ku dan menunjukan T-Card nya pada mantan ibu kepala sekolahku itu. Ya, sudahlah aku serahkan semuanya pada sang ahli.


"Ohh, silahkan jelaskan apa yang kalian ingin jelaskan ...," Tatapan Bu Sachi langsung berubah kembali menatap kami tajam.


Taki pun menjelaskan semua yang kami ketahui pada ibu kepala sekolah Hanabi. Mulai dari pesawat yang menuju kemari sampai sisa waktu yang kami miliki.

__ADS_1


"Jadi, apa yang harus ku lakukan?" Tanya Bu Sachi tetap tenang walau mengatahui kondisi ini.


"Evakuasi ... Tolong selamatkan semua murid dan guru di sini sebelum terlambat." Jelas ku singkat.


"Baiklah, lalu apa yang akan kalian lakukan?" Lanjut ibu kepala sekolah itu bertanya kembali.


"Kaito akan mengurus pesawat itu dengan kekuatannya ...," kata kata Taki yang membuat ku menoleh ke arahnya.


"Hmm, baiklah ... tak ku sangka alumni sekolah ini adalah salah satu Tenshi terkuat." Bu Sachi memuji ku seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Kaito, besok siang, apa kamu bisa ke sini lagi?" Pertanyaan yang tak ku duga keluar dari mulut Bu Sachi.


"Kenapa? Apa ada masalah dengan Hanabi?" Tanya ku curiga dan bingung sekaligus.


"Hmm, besok kau akan tau, jadi hancurkan nyamuk itu! Jangan sampai dia membuat goresan sedikit pun dinsekolah ini!" Sergah Bu Sachi menghentakan meja dengan kedua tangannya.


"Hmm, ya sudah, kami pergi dulu." Ucap Taki pamit dan kami berdua pun keluar dari ruang kepala sekolah ini.


-Mohon perhatian, darurat! Darurat! Semua staf, guru, dan murid murid diminta untuk meninggalkan sekolah ini segera!-


Suara pengumuman yang berkumandang dari speaker yang terpajang di setiap sudut sekolah ini. Suara itu terus berulang dan pastinya menumbulkan kepanikan besar.


"Gimana caranya aku ngancurin pesawat itu?" Tanyaku bingung saat kami berdua menuruni tangga.


"Kau lupa kita tidak sendiri?" Taki mengambil ponsel dari saku seragam sekolahnya itu dan menelepon seseorang.


-----------------------


Hehe ... gimana ceritanya? seru gak?


kalu suka jangan lupa like setiap chapternya ya ... soalnya aku yakin pasti ada nih para readers yang keasyikan baca ampe lupa klik tombol likenya ...


Buat kalian yang udah like setiap chapter aku ucapin banyak terima kasih loh ... soalnya satu aja like itu berharga buatku loh ...

__ADS_1


ya udah see you next chapter!!


__ADS_2