
"Hahahaha!!! Kau sudah lelah!!"
Aku berhadapan dengan lawan yang lebih kuat, jauh lebih kuat dariku. Walau aku sudah menggunakan mode Fate Breaker dan memakai kedua senjata andalanku bersamaan. Aku tetap tak bisa menggores kulitnya sama sekali. Dan sekarang aku malah yang berdiri terengah engah. Nafasku tak beraturan karena staminaku terkuras habis. Saika dan Ai juga sudah tak bisa mengeluarkan serangan mereka lagi, energi sihir mereka juga pasti terkuras habis. Hampir satu jam aku beradu kekuatan dengan si raja setan itu. Tapi aku sama sekali tak membuahkan hasil. Sisik di kedua tangannya itu memang semakin meluas, tapi aku pasti tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
Aku sudah bertarung sampai batas maksimal kekuatanku. Aku bukan pahlawan, aku juga pasti tidak akan menang di setiap pertarungan. Tapi, pertarungan kali ini bukan hanya mempertaruhkan nyawaku saja. Ai, Saika, Yume, mereka bertiga bergantung padaku.
Apa aku bisa mengalahkannya?
"Kaito, kau belum bertarung dengan semua kekuatanmu ...,"
"Kemana kekuatan sang legenda itu?"
"Dasar makhluk rendahan yang mencoba melawan takdir!"
"Sudah berapa kali kau mati di tanganku ha?" Ucap King dengan seringai senyum menyebalkannya itu.
Sial! Aku harus bagaimana?!
"Kau bingung? Biar aku tunjukan sesuatu kepadamu!" King melesat maju, dia tidak menyerangku, dia hanya melewatiku begitu saja. Dan aku sadar dia bukan lagi mengincarku tapi dua gadis yang ada di belakangku.
"Hahaha!!!" Ia melepas tawa jahatnya dan membongkar pertahanan perisai Saika itu dengan satu tendangan kuatnya. Ia berlanjut dengan memukul Saika hingga si mesum itu terlempar jauh, tak sampai disitu. Dia juga memukul Ai dan hal yang sama terjadi. Tentu aku tak diam saja, aku mengerahkan semua sisa tenagaku untuk melancarkan serangan padanya.
Trank!!!
Dia menangkis ayunan Kensetsu ku dan membuatku melepaskan genggamanku pada Katana itu. King menangkap pedangku dan berbalik menusuk bahu kananku.
Jrak!!!
"Aaaaghh!!!" Aku meringis kesakitan merasakan sebilah pedang yang menembus bahuku. King masih belun berhenti, dia masih menendangku dan mambuatku kembali terlempar mundur kebelakang. Sekarang aku hanya bisa teersungkur dan tak bisa bergerak sama sekali. Aku merasa inilah akhir dari takdirku. Mati di tangan raja iblis itu, lagi. Bukan hanya aku, Ai dan Saika juga sudah tersungkur karena serangan kuat raja setan itu. Ini semua salahku, aku masih terlalu lemah untuk melindungi mereka.
"Cih, ternyata cuma begini, aku menunggu ratusan tahun hanya untuk ini?"
"Tunggu, siapa itu?" King nampak terbelalak, dia sepertinya menyadari ada seseorang yang datang.
"Ekhem, Devil King, lama tak bertemu." Ujar seorang pria disertai suara langkah kaki yang menyertainya.
__ADS_1
"Kaito, ternyata kamu belum sekuat yang kukira," pria itu membantuku untuk bangkit dan duduk. Aku tak punya tenaga lagi untuk berdiri, aku benar benar sudah kalah. Aku bisa melihatnya, walau pandangan mataku sedikit kabur. Pria blasteran eropa dengan rambut putih, ia memiliki mata ungu yang sama dengan kedua gadis terpilih itu.
"Ayo berdiri!" Pria itu menbantuku untuk berdiri dan merangkulkan tangan kirikuke bahunya agar tubuhku bisa tertopang dengan baik.
"Siapa kau?! Kenapa bisa masuk ke duniaku?!" Devil King itu nampak sangat terkejut dan tak percaya akan apa yang ia lihat sekarang ini.
"Kaito, sebenarnya kau tak perlu bertarung untuk menyegel gerbang neraka ...,"
"Kau punya kekuatan spesial yang lebih spesial dari yang kau miliki sekarang ini." Kata Pria itu sembari mencabut Kensetsu yang menancap di tubuhku.
"Si-siapa namamu?" Tanyaku lemas.
"Kazuki, Mirai Kazuki ...," saat ia menyebutkan nama depannya, aku tak lagi bisa berpikir dengan jernih. Mirai adalah nama keluarga Ai, yang di sampingku ini berhubungan darah dengan gadis yang kucintai.
"Kau tau Kaito, ayahmu adalah orang yang baik." Lanjutan kalimatnya itu lebih membuatku terkejut dan tak bisa lagi berpikir denhan jernih.
"Beliau meninggalkan benda ini," Kazuki memberiku sebuah batu permata kecil berwarna biru muda yang berkilauan.
"Apa ini?" Aku menengadahkan tangan kananku dan menerima benda yang katanya peninggalan ayahku yang sudah meninggal dunia.
"Ayahmu memintaku memberikan benda ini padamu di saat seperti ini." Kazuki menjatuhkan batu permata itu ke atas telapak tanganku.
"Apa ini?" Kesadaranku mulai menghilang, pandanganku semakin buram. Tapi sebelum aku memejamkan mata, hal yang luar biasa terjadi. Batu permata kecil ini melayang dan masuk ke dalam tubuh Devil King itu. Beberapa saat setelah itu ia perlahan lenyap menjadi abu yang tertiup angin. Tak lama kemudian kami kembali ke dunia nyata. Aku tak lagi berada di dalam ruangan putih itu. Kami kembali berada di atas gedung Mall tempat aku mendarat beberapa waktu lalu. Suara bising dari kendaraan dan suara keramaian itu entah kenapa malah membuatku sedikit tenang. Dan tak lama kemudian terdengan suara gemuruh, bukan itu suara helikopter yang menjemput kami.
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi barusan?
Di saat yang sama aku kehilangan kesadaranku sepenuhnya. Hanya hitam dan ketenangan abadi yang aku rasakan sekarang ini. Sebenarnya, aku tak puas melihat akhir dari pertarungan tadi. Dan juga aku sangat penasaean dengan pria yang menyelamatkan kami bertiga. Mungkin, mungkin dia adalah ayah dari Ai. Matanya, dan nama keluarganya juga sama. Dia juga kenal ayahku, kejutan yang mungkin saja menungguku adalah, ayahku juga seorang Tenshi.
Aku sudah terlalu bosan menerima kejutan, sampai sampai aku bisa menebaknya ...
"Kaito?" Suara yang tak asing membuatku kembali tersadar dan kembali ke dunia nyata.
"Hmm?" Aku membuka mataku perlahan dan melihat Mirai, gadis dengan rambut pirang keemasan yang terurai. Mata birunya yang seperti berlian itu menarik perhatianku. Dia disini, apa dia baru saja menyembuhkanku?
Aku melirik ke segala arah mencoba mengenali tempat diamana aku berada sekarang ini. Langit langit itu, meja belajar yang berantakan itu, meja komputer yang tepat berada di samping meja belajarku. Ini adalah kamarku sendiri. Mirai duduk di kursi yang ada di samping ranjangku. Aku selamat dari takdir, apa ini artinya aku berhasil?
__ADS_1
"Kaito! Syukurlah!!!" Tiba tiba gadis yang ada di sampingku ini berubah jadi si tuli. Entah kenapa dia malah seenaknya berubah dari satu orang ke orang yang lain. Dia memelukku yang sedang terbaring lemas ini dengan kehangatannya itu. Dia sepertinya sangat senang melihat aku baik baik saja.
"Ai, yang tadi itu, apa dia adalah ayahmu?" Tanyaku lirih tanpa tenaga sama sekali.
"He? Enm, iya." Ai langsung mengangkat kepalanya dan menjawabku dengan sedikit gugup.
"Makasih," ucapku menyadari luka di bahuku sudah sembuh seketika.
"Ekhem, apa kau sudah sembuh?" Kazuki masuk ke dalam kamarku menghampiri kani berdua. Pria rambut putih, mata ungu. Tubuh tinggi nan gagah, dari penampilannya saja dia terlihat sangat kuat. Apakah dia juga seorang Tenshi?
"Hmm," aku bangkit dan duduk di atas ranjangku. Kazuki menghentikan langkahnya di samping putrinya itu.
"Maaf, sebelumnya aku harus memperkenalkan diriku terlebiu dahulu."
"Aku Mirai Kazuki pemimpin tertinggi di DH." Kata Kazuki memperkenalkan dirinya. Tentu aku tekejut, tapi aku sudah terlalu lelah untuk terkejut.
"Aku minta maaf sudah mengirim kalian ke misi yang seharusnya tidak kalian jalani," Ucap Kazuki.
"Yang lebih penting, apa anda mengenal mendiang ayahku?" Aku langsung saja bertanya karena tak bisa menahan rasa penasaran di hatiku lebih lama lagi.
"Ceritanya panjang, jika tidak keberatan, tanya saja ke Tetsujo Dai yang menghampirimu beberapa waktu lalu ...," kata kata Kazuki yang benar benar membuatku kembali terbelalak walau aku sudah lelah mendapat kejutan kejutan itu. Ketua DH berteman dengan ketua Enjeruhanta?!
"Aku tau kamu pasti bingung, aku tak punya banyak waktu jadi ...,"
"Datanglah ke Dai jika ada pertanyaan."
"Dia selalu punya banyak waktu luang." Kazuki mulai berbalik dan melangkah perlahan keluar dari kamarku.
"Oh ya, berterima kasihlah pada Yamato ... dia sudah mengubah takdirmu." Kata kata terakhirnya sebelum dia benar benar keluar dari kamarku. Sunyi, aku merenung sejenak. Okino Yamato, itulah nama ayahku yang sudah meninggalkan dunia ini. Ternyata benar, dari kata kata Kazuki, ayahku memang seorang Tenshi. Aku punya banyak pertanyaan, sangat banyak. Mungkin aku akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi ketua Enjeruhanta itu. Sepertinya dia bukanlah orang yang jahat. Dunia ini semakin rumit saja.
"Kaito, maaf, aku tahu kau masih pusing, tapi apa boleh aku menjelaskan tentang kekuatan Ai?" Ai sekarang berbicara dengan suara Yume, entah kenapa si tuli itu menjadi wadah bagi banyak roh.
"Hmm, terserah ...," jawabku sembari menundukan kepalaku.
Mirai Ai, adalah gadis terpilih yang memiliki kekuatan sihir untuk mengendalikan batu kristal. Kekuatanya bukanlah milik Yume, tapi murni dari dalam diri Ai. Hanya saja, kekuatan Ai memiliki efek samping yang cukup berbahaya. Ternyata yang menyebabkan Ai tuli adalah ketika ia mengeluarkan kekuatannya itu tanpa sengaja. Singkatnya Ai bisa saja mati jika menggunakan kekuatannya. Tapi, jika Yume merasuki tubuh Ai dan mengendalikan kakuatannya, maka Ai tidak akan kehilangan apa pun.
__ADS_1
"Hmm, cukup ... aku mengerti sekarang ...,"
"Yume, aku meminta penjelasan tentang dirimu sendiri lain waktu." Aku kembali berbaring dan memejamkan mataku untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah ini.