Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 118


__ADS_3

Hampir satu jam aku duduk diam di mobil dan melihat ke luar jendela. Takumi membawa kami ke pusat kota Natsu untuk membeli Yukata. Entah apa yang ada di pikiran si iblis itu. Tapi, baguslah, adik ku jadi senang karena bisa memakai Yukata baru musim panas ini. Kelap kelip ribuan bintang yang menghiasi langit malam ini sungguh menarik perhatian ku. Aku hanya duduk diam dan mendengar lantunan musik yang keluar dari speaker radio mobil ini.


Bau pendingin udara yang menusuk hidung. Gemerlap lampu lampu gedung mulai terlihat. Setelah melaju beberapa jam, kami akhirnya sampai di pusat kota Natsu.


"Kaito, di musim panas nanti kamu pakai pakaian apa?" Tanya Takumi tetap memusatkan pandangannya ke depan.


"Hmm, paling jaket sama celana panjang ... males pakai yang ribet ribet." Jawabku jujur dari dalam hati yang paling dalam.


"Hua, sama dong ... males juga pake Yukata kaya yang lain." Takumi tersenyum lebar sembari tetap meletakan kedua tangannya di roda kemudi.


"Hee, gak seru ah kalian, musim panas itu cuma setahun sekali loh!" Ujar Hanabi menggelembungkan pipinya.


"Apa, mungkin aku pake jas aja kali ya?" Takumi meletakan jari telunjuk tangan kirinya di depan dagu.


"Serius kah? Musim panas pakai jas?" Tanyaku memasang wajah malas.


"Bener juga ... nah, kita dah sampe nih!" Seru Takumi dan kami pun menepi ke pinggir jalan. Kami berhenti tepat di dapan gedung dengan cat merah muda dan beberapa Yukata yang terpajang di dalam kaca toko itu. 'Zenkai Fashion' tulisan besar yang terpampang di gedung toko itu.


"Hwoah!!" Hanabi menempelkan wajahnya ke kaca jendela pintu mobil di sampingnya.


"Tu-tunggu, ini bukanya, agak mahal?" Zenkai adalah merek pakaian ternama yang sering di beli oleh orang orang kelas atas. Mana mungkin uang di dompetku cukup untuk membeli satu Yukata.


"Hehe ... hari ini aku yang bayar!" Takumi menunjuk dirinya sendiri dengan tampang sombongnya itu.


"Ya udah tunggu apa lagi ayo turun!" Takumi keluar dari mobil mendahului kami.

__ADS_1


Aku pun ikut keluar dari mobil dan menginjakan kaki di atas trotoar. Tak lama kemudian Ai dan Hanabi menyusul aku dan Takumi yang sudah berdiri berdampingan. Tubuh kurus Takumi itu membuat ia terlihat lebih muda, dia malah seperti satu angkatan denganku. Tinggi ku bahkan setara dengannya. Mungkin beberapa tahun lagi aku akan lebih tinggi darinya.


Aku sedikit terganggu karena mata kiriku yang masih tertutup dengan perban sedari kemarin. Sebenarnya aku tak ingin dilihat banyak orang di saat seperti ini. Tapi ya sudahlah, lagi pula malam ini tak akan bisa terulang lagi. Seperti biasa, Takumi memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Gayanya itu malah membuatku bosan.


"Kaito, aku merasa ada yang tak beres di sekitar sini." Ucap Takumi dengan raut wajah serius dan tatapan tajamnya.


"Huff ... udahlah aku serahkan semua padamu Tenshi terkuat." Candaku santai.


"Hoi? Mau ku bunuh sekarang kah?" Takumi mendekatkan wajahnya padaku dengan muka menyeramkannya itu.


"Kalian tunggu apa?" Hanabi menarik jeket Takumi perlahan.


"Ohhh, gak ada apa apa kok ... Ayo masuk!!" Seru Takumi merubah raut wajahnya seratus delapan puluh derajat. Mereka berdua pun masuk ke dalam toko itu terlebih dahulu dan meninggalkanku bersama Ai.


Ting tung~


{Jika kau masih belum bisa bertarung}


{Cek di bagasi mobil!} Chatnya itu menbuat ku sedikit penasaran apa yang ada di dalam bagasi mobil sedan hitam yang baru saja kami tumpangi itu.


"Ai, tunggu bentar ya?" Ucapku lalu menuju ke bagian belakang mobil.


Glek!


Aku membuka bagasi dan melihat koper hitam besar yang tergeletak di dalam sana. Aku membukanya dan terkejut saat melihat bermacam macam senjata api ada di dalam koper itu. Mulai dari pistol, Senapan laras panjang, bahkan Peluncur roket. Semua itu lengkap dengan amunisinya. Aku mengangkat alisku tinggi dan bingung kenapa benda seperti ini boleh di bawa ke manapun.

__ADS_1


"Ka-kaito? Ke-kenapa ada senjata?" Ai panik saat menghampiriku dan melihat apa yang ada di depan mataku ini.


"Udah santai aja," Ujarku lalu mengambil sebuah pistol warna hitam. Aku menyelipkan pistol itu ke ikat pinggangku dan menutupinya dengan jaketku. Aku kembali menutup bagasi mobil dan menggandeng Ai untuk masuk ke toko pakaian.


Aroma pendingin udara yang khas, suara keramaian yang tak terhindarkan. Banyak jenis jenis pakaian yang di pajang di dalam ruangan toko yang sangat besar ini. Sisi kiri ruangan ini dipenuhi kaos, celana panjang, gaun wanita, dan bahkan setelan jas mahal. Dan sisi kanan toko ini dipenuhi dengan pakaian khas musim panas. Seperti Yukata dan baju renang untuk laki laki maupun perempuan. Kami berdua segera menyusul Takumi dan Hanabi menuju tempat di pajangnya Yukata.


Banyak manekin yang berbaris rapi dan memakai Yukata dengan model dan warna yang berbeda beda. Hanabi terlihat bahagia dengan Takumi yang ada di sisinya. Ya, dia memang selalu tersenyum setiap saat sih. Adikku itu melihat lihat Yukata yang terpajang di sekitarnya.


"Kak kakak! Sini deh!" Hanabi melambai ke arah ku dan seakan ingin menunjukan sesuatu. Tanpa pikir panjang aku menghampirinya bersama Ai yang ada bersamaku.


"Apa?"


"Kira kira cocok gak kalo ini ku pake?" Hanabi menarik ujung lengan Yukata yang dipakai salah satu manekin. Aku pun menyipitkan mataku dan membayangkan adik perempuanku memakai Yukata warna putih itu.


"Hmm, coba tanya kak Takumi." Aku melirik ke pada Takumi dan tetap menyipitkan mataku.


"He? aku?" Takumi mengeryit heran.


"Heeemm" Hanabi menatap Takumi dengan matanya yang berbinar itu. Aku yakin Takumi tak akan tahan melihat wajah imut Hanabi itu.


"Iya iya ... co-cocok kok!" Takumi memalingkan pandangannya dan pipinya memerah.


"Awas kau Kaito ...," ancam Takumi memasang wajah seramnya itu.


"Hehe, maap maap," ucap ku santai menyatukan kedua telapak tangan ku di depan wajah.

__ADS_1



Mirai Ai


__ADS_2