Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 216 [End] Pintu ke Pertarungan Surga


__ADS_3

"Ahahahaha!!! Yang lemah akan kalah, dan yang kuat akan bertahan, kau tak bisa melawan hukum alam ini!" Kata Kurai diiringi api hitam menyala nyala di samping kirinya.


Zirah Saika seketika berevolusi ke Cyber Shield mark ll. Di tengah dadanya terdapat lampu yang bersinar terang. Begitu juga di punggungnya beberapa lampu muncul dan menghiasi zirahnya untuk terlihat lebih cantik. Saika juga memakai benda seperti VR yang menutupi kedua matanya.


"Aku akan melindungi semua yang aku punya!!" Teriakan pembakar semangat dari Saika.


"Kalau begitu, kau harus lindungi kakakmu!" Api hitam di samping kirinya itu padam dan terlihatlah Ai di samping Kurai.


"Kak Ai?!" Tentu saja Saika hanya bisa terpaku melihatnya.


"Karena Ai sudah mati, sekarang dia adalah bonekaku!!! Ahahahaha!" Kurai tertawa terbahak bahak lalu lenyap ditelan api hitam.


"Kakak mati?!" Hatinya yang semula siap untuk segala pertempuran, sekarang hancur berkeping keping mengetahui kakaknya sudah tiada.


"Saika, karenamu, Kaito bisa seperti ini!!" Seketika rambut Ai berubah jadi putih, ia juga memakai gaun warna putih yang anggun.


'Sadarlah, dia bukan kak Ai yang aku kenal! Dia adalah musuhku!'


Begitulah suara hati Saika, berkali kali ia mencoba untuk membulatkan tekad. Tapi pandangannya selalu saja sama, kakak perempuannya itu seakan masih hidup. Saika tak pernah membuat kakaknya bahagia, bahkan sampai ia tiada.


Air matanya bahkan tidak bisa terbendung lagi. Bahkan sudah mengalir deras menuruni pipi Saika. Walau begitu, Saika tetap akan bertarung, entah hatinya sanggup atau tidak.


"Kak, maafkan aku!"


Lampu lampu di punggung Saika ternyata adalah roket pendorong. Alat itu membuat Saika bisa melesat maju seperti sebuah peluru. Walau Ai membuat benteng kristal hampir puluhan lapis. Saika bisa menembus setiap lapisan itu dengan hanya menghantamnya menggunakan perisainya.


Penghalang demi penghalang ia lalui, walau hatinya sempat goyah. Tapi tekadnya itu sudah bulat, ia akan melindungi Ai sampai kapan pun. Saika sadar kakak perempuannya itu sudah meninggal. Maka dari itu dia akan membunuh boneka tiruannya.


Sejak kecil, Ai selalu unggul dalam hal pelajaran dan pekerjaan rumah. Diam diam, Saika mengamati kakaknya dari jauh. Kazuki sudah melarang Saika untuk berkunjung ke tempat tinggal Ai. Akan tetapi tetap saja Saika mengunjungi kakaknya saat liburan. Menghabiskan waktu bersama, tertawa, marah, kesal, sedih, dan berbagai pengalaman tak ternilai. Selain Kaito, Ai juga bisa mendengar suara Saika.


Jadi mereka tidak sulit berkomunikasi seperti orang lain yang menganggap Ai itu tuli. Sampai sekarang tidak ada yang tahu kenapa Ai hanya bisa mendengar suara Kaito dan Saika. Sepertinya itu sudah menjadi rahasia alam semesta ini.


"Saika! Dasar murahan!" Bentakan Ai yang menghentikan gerakan Saika.


Padahal tinggal selangkah lagi Saika bisa menusukan pisau di lengannya itu ke arah kepala Ai. Gerakannya membeku hanya karena satu kalimat yang menyerang tepat ke lubuk hatinya. Tapi, bukan berarti Saika lengah.


Matanya tetap fokus ke pertempuran ini. Tangan kanan Ai berubah menjadi kristal tajam dan hendak memenggal kepalanya. Dengan sigap perisai di lengan kanannya itu menahan serangan kakak perempuannya itu. Saika menapakan kaki kanannya ke tanah untuk bisa mengayunkan pisau di lengan kirinya.

__ADS_1


"Aaaaaaahhh!!!"


Saika merapatkan giginya sembari terus berusaha sekuat tenaga memanfaatkan pisau di lengan kirinya itu. Bukanlah hal mudah, sekarang kedua tangan Ai adalah batu kristal tajam. Peperangan jarak dekat pun terjadi. Kecepatan mereka berdua setara, walau Ai sedikit lebih unggul.


Latihan selama sebulan penuh, Saika berhasil membuat dirinya lebih kuat. Tetapi dia tahu Ai akan selalu melebihinya dalam hal apa pun. Karena itulah, kali ini Saika yakin bisa melebihi kakaknya. Untuk membuktikan bahwa dia bisa menerima Kaito sebagai masa depannya. Kejadian kali ini meyakinkan hati Saika bahwa kakak perempuannya itu memberikan Kaito untuknya.


"Aku bisa membuktikannya kak!"


Setelah teriakanya itu, gerakan Saika menjadi lebih bersemangat. Memaksakan seluruh otot yang ada di tubuhnya. Keringat dari pelipisnya mulai berjatuhan ke tanah. Saling menyerang dan menangkis. Tidak ada yang mau mengalah, mereka terus mengimbangi satu sama lain.


"Saika! Kau sama sekali tak layak!" Ai menggertakan giginya terus berusaha menangkis semua serangan dari Saika.


"Aku tau! Makanya! Aku disini untuk bertarung denganmu, bukan! Bertarung bersamamu!" Seketika pertahan Ai terbongkar dengan begitu mudahnya.


Jrak!!


Cairan merah menyebar ke segala penjuru, pisau di lengan kiri Saika menembus jantung Ai. Pertarungan mereka terhenti, kesunyian menguasai dalam sekejap mata.


"Jangan senang dulu ya?" Ujar Ai setelah memuntahkan darah keluar dari mulutnya.


Saika baru sadar Ai juga berhasil menusukan tangan kanannya yang sudah berubah jadi kristal tajam itu. Ai berhasil melubangi perut Saika tepat saat jantungnya tertusuk.


"Selamat, kakak sudah kalah." Senyuman manis sebelum ajal menjemputnya. Ai terjatuh ke tanah setelah berhasil melubangi perut adik perempuannya.


Bruk!!


Bukan hanya Ai, Saika ikut tersungkur tepat di samping mayat kakak perempuannya itu.


"Saikaaaaa!!!!" Teriakan Fuyuka diiringi mayat Ai berubah jadi abu.


Fuyuka datang disaat yang tepat, ia menghampiri Saika dan meletakan kepala Saika di pangkuannya. Ternyata Fuyuka datang bersama sang dewa kematian, Shinjiro. Zirah hitam dilengkapi jubah merahnya itu sangat cocok dengan karakternya. Dan di sampingnya berdiri seorang gadis pendek rambut hitam yang dikuncir dua. Bola mata hijau padam. Hanami Hika, ia mengenakan pakaian merah dan rok pendek warna hitam.


"Nami, obati Saika dan Kaito!" Perintah Shinjiro tegas.


"Huff ... Sukanya merintah terus!" Nami menggelembungkan pipinya seraya memejamkan matanya.


Lingkaran mantra sihir besar muncul di bawah kaki mereka berlima. Secara otomatis luka Saika dan Kaito terobati karena sihir Nami yang begitu hebat.

__ADS_1


"Saika!!!" Kaito tersadar dari alam mimpinya. Ia langsung bangkt berdiri menyadari ada sesuatu yang aneh.


"Kaito ... tenang, aku bukan musuh." Ucap Shinjiro agar selamat dari serangan Kaito.


"Senpai?" Saika juga tersadar, Kaito serta Fuyuka sangat lega mendengar panggilan itu lagi.


"Aku disini untuk menjelaskan sesuatu! Mulai hari ini, aku akan masuk ke Underworld. Membantu kalian dari dalam sana. Ai sudah mati, itu artinya dia akan terlahir kembali. Tapi bukan di Earth, melainkan Underworld, karena disanalah tempat ia mati. Tidak menutup kemungkinan bila akan ad Kaito lain yang terlahir juga di sana."


"Jadi, Kaito ... bertahanlah disini, perang ini akan berlanjut sampai belasan, bahkan puluhan tahun. Aku dan Nami akan membantumu sebisa mungkin. Kami akan mengamati ceritamu yang lain, cerita yang mungkin akan bisa mengubah takdirmu. Kita mungkin akan bertemu di saat perang terakhir, aku akan membawakan setengah dari Fate Stone untukmu."


"Tutup mulutmu! Apa kau pikir aku paham apa yang kamu maksud?!" Sela Kaito dengan emosi yang membara.


"Huff, Fuyuka, jelaskan pada Kaito sisanya. Nami, kita pergi ke Underworld!" Shinjiro menghela nafas seakan tahu akan seperti apa reaksi Kaito.


Nami mendekat ke arah Shinjiro lalu menggandengnya. "Saika, sampai ketemu nanti ya!" Nami pamit sembari melambaikan tangannya.


Swush!


Mereka berdua lenyap ditelan Magic Circle. Kaito, Saika, dan Fuyuka hanya terdiam tak mengerti. Meski Fuyuka sudah menerima penjelasan Shinjiro, kepalanya tak sanggup menerima kenyataan yang keluar dari mulut Shinjiro.


---------------------


-BERSAMBUNG-


Unmei to Shiawase: Second Fate adalah lanjutan dari kisah ini.


-Unmei no Underworld- adalah seri baru yang sudah rilis.


Total Unmei Series:


- Ai no Koe [Tamat]


- Unmei to Shiawase [Tamat]


- Penjelajah takdir [Paused]


- Unmei no Underworld [Ongoing]

__ADS_1


__ADS_2