
Langit sudah berubah warna menjadi oranye. Tapi warna merah muda masih memenuhi jalan dari sekolah menuju rumah ku. Pohon pohon sakura berbaris rapi di pinggir jalan. Kelopak bunga yang berjatuhan membuat sore ini semakin indah dan berwarna.
Aku berdiri di pinggir jalan dan menyandarkan punggungku di batang pohon sakura. Alasan ku berada di sini hanya satu, menunggu Ai untuk melewati jalan ini waktu pulang sekolah.
Entah kenapa aku merasa ingin memberitahu semua kejadian yang aku alami hari ini padanya. Beberapa saat kemudian aku melihat gadis dengan seragam lengan panjang warna putih, rambut hitam panjang yang terurai. Bola mata ungunya yang berkilauan.
"Kaito?" Dia terkejut saat melihatku berdiri di depan matanya.
"Ohh ... halo ... apa kamu denger aku?" Tanyaku menguji alat bantu dengar yang ada di telinganya itu.
"Iya aku denger ... tapi kok kamu ada di sini? ...," Ai menghampiriku dengan wajah penasarannya itu.
"Ohh ... panjang ceritanya ... mau minum dulu gak?"
"Dimana? ... di deket sini kan ga ada kafe ...," Ai memiringkan kepalanya dan memasang wajah bingungnya itu.
"Kan ada mini market sebelum perempatan jalan ...,"
"Oh .. iya ... ano ... tumben ngajak minum ...," pipinya yang sedikit mengeluarkan rona merah itu, pasti dia salah paham.
"Hmm ... ada masalah penting ... karena itulah aku gak masuk sekolah hari ini"
"Ohh .."
Kami berdua pun berjalan berdampingan ditemani bunga sakura yang berjatuhan karena tertiup angin musim semi. Jauh dari dalam lubuk hati ku, aku masih berharap gadis yangterpilih itu bukanlah Ai. Dan kuharap ramalan itu salah, soal peperangan maupun kematian gadis yang terpilih itu.
"Nee ... Kaito ... apa ini ada hubungannya dengan monster itu?" Tanya Ai menundukan kepalanya.
"Hmm ...," aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya itu.
Beberapa saat kemudian kami berdua sampai di minimarket yang ada di pinggir jalan. Di depan minimarket itu disediakan meja dan kursi untuk pengunjung yang ingin istirahat sembari menikmati makanan yang baru saja di beli.
__ADS_1
Aku meminta Ai untuk duduk di salah satu kursi itu dan menunggu ku. Aku masuk ke mini market itu dan membeli dua kaleng teh. Setelah membayarnya di kasir, aku kembali keluar dan menghampiri Ai.
"Nih ... buat kamu ...," aku meletakan dua kaleng teh itu di atas meja yang ada di depan kami berdua.
Aku duduk di seberangnya sembari menyeruput sekaleng teh milikku. Aku sedikit mengatur nafasku karena lelah berjalan. Aku juga menikmati udara segar di sore hari ini untuk sesaat. Karena aku tak akan bisa menghirup udara segar lagi malam ini, aku harus kembali menjalankan misi dari Demon Hunter itu.
"Ano ... apa yang pengen kamu omongin?" Tanya Ai menatapku dengan matanya yang berkilauan itu.
"Oh ... soal monster yang muncul belakangan ini ... aku minta kamu kurang kurangin keluar dari rumah mu ya?"
"Soal ... aku gak masuk hari ini ..."
"Aku sebenernya masuk ke kelompok rahasia dari Prancis yang tugasnya ngebunuh monster monster itu"
Aku pun menjelaskan semua tentang organisasi Demom Hunter itu pada Ai. Juga tentang Tenshi, kutukan iblis, dan Akame. Aku menceritakan semua yang aku tahu padanya. Dan juga aku memberi tahunya tentang misiku malam ini.
"Wahh ... Kaito keren!" Ai memujiku dengan kedua bola matanya yang berbinar itu.
"Pekerjaan ku ini bahaya tau ... jadi ku harap kamu gak ikut campur ..."
"Dan juga mungkin aku akan sering gak masuk ... maaf kalau kamu kesepian di ruang klub sendirian"
"Hmm ... gak apa apa kok ... yang penting kamu bisa selamat ... aku aja udah seneng," kata Ai dengan senyuman indah yang terpancar di wajahnya itu.
"O-ohh ... ya udah ... ayo pulang aja ..."
Aku pun mengantarkan Ai berjalan pulang ke rumahnya, atau kastil menurutku. Langit semakin gelap seiring berjalannya waktu. Kami pun sampai di depan gerbang besar yang terbuat dari besi itu.
"Kaito ... jangan maksain diri mu loh ...," kata katanya itu tanpa sadar sedikit membakar semangat ku untuk menghadapi malam ini.
Hoi ... kenapa dia kayak pacarku aja seh?!
__ADS_1
***** ... jangan terlalu berharap ...
"Hmm ... sampai besok ...," ucapku saat melihatnya melangkah masuk melewati gerbang yang sedikit terbuka itu.
"Oh iya Kaito ... besok kalo ada waktu mampir ke ruang klub ya? ... novelku udah selesai ...," tambahnya dari balik pagar rumahnya.
"Oh ... iya ..."
Aku berdiri di sini sejenak dan memperhatikannya sampai ia masuk ke rumahnya dengan selamat. Aku sedikit menghela nafasku untuk bersiap menjalani sisa hari ini.
"Hoi ... Kaito-kun ... siapa? ... pacar," Si rambut pirang berjubah aneh itu tiba tiba muncul di samping ku dan menepuk pundakku.
"Hmm ... kalo kamu gitu terus ... entar dimarahin sama Mio-chan mu loh," candaku dengan wajah datar.
"Bhuah ... pukulannya gak ada apa apanya ...," ujarnya terkekeh.
"Ngomong ngomong ... aku tau loh ... dia adalah gadis yang terpilih itu ... kamu gak ingin dia gabung supaya dia tetap aman kan?" Entah kenapa kata katanya itu sama sekali tak membuatku terkejut.
"Hmm ... udah lah ... jangan di omongin ...," aku melanjutkan langkahku untuk kembali ke markas Demon Hunter.
"By the way ... malam ini kamu dapet yang ena ena ... aku iri loh ..."
"Ena ena pala mu peang!"
"Coba aja aku jadi kamu ... si Haru pasti udah jadi pacar ku ..."
"Sebenernya kamu itu suka sama Haru atau Fumio seh?"
"Dua dua nya heheh ..."
"Playboy kampungan ..."
__ADS_1