Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 101


__ADS_3

Langit langit ruangan yang penuh dengan lampu yang berbaris rapi. Meja besar yang ada di tengah ruangan. Meja komputer yang berbaris di sisi ruangan. Logo Demon Hunter yang terpajang di belakang tempat duduk Fumio. Aku kembali berada di dalam ruang rahasia di markas timku ini. Aku duduk di seberang Fumio bersama Saika yang ada di samping kananku.


Malam ini hanya kami bertiga yang ada di sini. Dan tanpa alasan yang jelas, Kakume dan Haru diliburkan dari misi hari ini. Entah apa alasan Fumio melakukanya, tapi pasti itulah yang terbaik untuk tim ini. Dan di atas meja besar itu terdapat kotak dengan panjang satu setengah meter kali tiga puluh sentimeter. Aku tebak isi dari kotak itu adalah pedang. Jika tidak, apa yang bisa ada di dalam kotak seperti itu di saat seperti ini.


"Kaito, aku ingin memberikan hadiah untukmu." Fumio melipat tangannya di depan dada dan memejamkan matanya.


"Woah, kenapa tiba tiba?"


"Aku mendapat fakta baru dari kekuatan mu itu." Fumio menatapku tajam.


Ternyata arti dari tatapannya itu memanglah sangat serius. Fumio mendapat informasi dari petinggi Demon Hunter yang meneliti kekuatan ku. Kata Fumio kekuatanku ini tak akan bertahan selamanya. Suatu saat nanti aku bisa saja terkena Batas. Maksud dari Batas itu adalah aku benar benar kehilangan kekuatanku dan membuat diriku lumpuh dan buta sekaligus. Itu menakutkan, sangat menakutkan bagiku. Karena kekuatanku yang luar biasa ini bisa saja membunuhku kapan saja.


Sekarang aku yakin, takdir memang serius dengan kutukanya itu. Aku memang benar benar tak akan merasakan yang namanya kebahagiaan. Fumio tak ingin aku mencapai Batas itu sebelum aku bisa benar benar menyelamatkan dunia ini dari The Key itu. Aku adalah sang terpilih yang akan mengalahkan The Key. Tapi pasti sebelum saat itu datang, aku akan menghadapi berbagai tembok kesulitan yang akan menghalangiku. Dan jika aku mencapai Batas sebelum saatnya. Maka dunia ini akan hancur, walau memang aku tak peduli dengan dunia ini.


Tapi jika itu terjadi, perjuangan ku akan sia sia, takdir akan kembali memenangkan pertarungan ini. Adikku dan si tuli itu akan kehilangan senyumannya. Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Aku pasti akn bertarung sampai akhir. Aku akan menyelesaikan ini dan memenangkan pertarunganku dengan sang takdir. Aku tak akan membiarkan Ai terluka lagi di kehidupan yang ini. Aku akan membuktikan pada sang takdir bahwa aku bisa lebih kuat darinya kali ini. Kesempatan terakhirku, aku tak akan menyia-nyiakannya kali ini.


"Karena itulah, aku memberikan ini kepada mu." Fumio mendorong kotak warna hitam itu hingga berhenti di depanku.


"Ini pasti pedang kan?" Ucapku menebaknya sembari membuka kotak itu.


"Ya, Katana itu punya namanya sendiri, Kensetsu. Itulah namanya." Jelas Fumio.


"Hmm," aku mengambil Katana itu yang masih lengkap dengan sarung pedang yang menutup bilah Katana itu.

__ADS_1


"Woah keren," kata Saika mendekatkan wajahnya ke pedang baruku ini.


"Kensetsu itu sama seperti Ten Kara No Ken milikmu."


"Hanya saja, Kensetsu ini menyerap kekuatan dari hatimu."


"Jika kau mempunyai keinginan untuk membuat pedang ini jadi tajam atau kuat, maka itulah yang terjadi." Jelas Fumio.


"Ohh, jadi Kensetsu namanya ...," aku menggenggam gagang warna putih ini dan sedikit menarik pedang ini keluar dari sarungnya agar terlihat pantulan sinar bilah besinya itu.


"Hari ini, ada misi hanya untukmu. Saika kamu tetap di sini bersamaku." Kata Fumio berdiri dari tempat duduknya.


"Ohh, misi solo ya?" Aku senang mendengarnya, malam ini saatnya aku mencoba mainan baruku ini.


"Lagi pula siapa yang butuh kamu." Candaku karena dia selalu membuatku kesal.


"Senpai jahat!" Saika menggelembunkan pipinya dan itulah satu satunya ekspresi yang dimilikinya.


"Kaito, pakai ini!" Fumio melempar sebuah jubah warna cokelat kepada ku.


"Ha? kenapa harus pake ini?" Tanyaku bingung.


"Orang akan curiga kalau kau bawa pedang malem malem kan?" Fumio melepas kacamatanya.

__ADS_1


"Oh, iya juga," aku berdiri dari kursiku dan memakai jubah ini. Aku juga memasang Kensetsu-ku ini di pinggang kiriku.


"Senpai keren!" Ujar Saika dengan matanya yang berbinar.


"Kaito, penggal semua kepala Akame yang berkeliaran malam ini!"


"Dengan ini misi dimulai!!!" Seru Fumio dengan tegas.


Aku pun keluar dari markas dan berjalan di sekitar pemukiman yang kutinggali ini. Aku berharap bertemu dengan Akame yang sudah lama tak kuhadapi lagi. Aku melangkah menyusuri sunyinya malam ini. Tak ada seorang pun yang lalu lalang di luar rumah. Hanya ada sorot lampu jalan yang menemani langkahku. Bulan sabit yang ditemani jutaan kilauan bintang itu membuat langit malam ini nampak sangat indah.


Dan saat saat yang kutunggu akhirnya tiba. Aku melihat satu Akame yang berdiri di tengah jalan dan mencari mangsa yang tak akan ia temukan. Aku menghentikan langkah dan menggenggam gagang Katana ku yang ku sembunyikan di balik jubahku ini. Aku memejamkan mataku dan menarik nafas panjang.


"Aku akan menebasmu dan membuatmu kembali ke neraka." Gumamku sembari memejamkan kedua mataku.


Crang!!! Slash!!!


Aku menarik Katana ku keluar dari sarungnya dan disaat yang sama aku melesat ke arah Akame itu dengan sangat cepat. Dan sebelum aku membuka mata ku aku sudah berada di belakang Akame tadi dan bilah pedang ku sudah penuh dengan darah hitam Akame itu. Aku kembali memasukan Katanaku kedalam sarungnya dan membuka mataku.


Aku berbalik dan melihat Akame itu berdiri tanpa kepala. Tak lama kemudian kepalanya jatuh di depan kakiku dan mulai mencari menjadi cairan hitam. Aku sampai bergidik melihat hal menjijikkan itu. Mulai sekarang, aku tak harus menggunakan kekuatan dari dewa ataupun iblis. Aku bisa menggunakan kekuatanku sendiri untuk melawan takdir. Aku hanya perlu memperkuat keinginan hidup dan impianku itu. Malam ini terus berlanjut, aku terus berkeliling mencari para Akame yang berkeliaran di sekitar pemukiman.


Aku terus menebas mereka tanpa ampun menggunakan Kensetsu-ku ini. Mainan baru ku ini ternyata sangat kuat, kekuatannya bisa dibilang hampir setara dengan pedang dari surga milikku. Saat aku menariknya keluar dari sarung pedang, tubuhku rasanya sangat ringan. Aku bisa bergerak dengan kecepatan Light Speed tanpa harus menggunakan kekuatanku.


Dengan ini aku bisa lebih kuat ...

__ADS_1


Aku bisa mengalahkan Takumi di penghujung musim panas nanti. Aku akan memastikan tak ada yang bisa merebut senyuman adik perempuanku itu. Entah itu Hanabi atau bahkan Ai sekalipun. Mereka adalah orang yang selalu akan aku lindungi seumur hidup ku.


__ADS_2