Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 72 •Pertarungan yang terlupakan


__ADS_3

Takumi


Di bawah ribuan bintang dan sinar terang rembulan. Kami berdua beradu kekuatan di atas langit. Malam ini aku sudah bertemu dengan lawan yang sepadan denganku. Setelah sekian lama, akhirnya. Aku bisa menguji hasil latihan kerasku ini.


Hana ... apa kekuatanku cukup?


Light Chaser melawan Dark Madness milikku. Dua kekuatan yang legendaris ini akhirnya bisa kembali beradu. Seperti ramalan sang nenek tua di Demon Hunter itu. Yang bisa menandingi kekuatan ku hanyalah Tenshi yang memiliki kemampuan Light Chaser.


Bocah itu ternyata juga adalah orang terpilih itu. Tenshi yang bisa menyatukan cahaya dan kegelapan. Di dalam dirinya terdapat kutukan iblis dan anugerah dewa sekaligus. Seharusnya kekuatannya jauh lebih kuat dariku. Dia hanya perlu menemukan alasan untuk menjadi lebih kuat.


"Takumi!!!"


Kaito membakar semangatnya dengan teriakannya itu. Dia melesat ke arahku dengan kecepatan cahayanya itu. Sebelum dia menyentuhku dengan tinjunya. Aku melakukan teleportasi menggunakan jurus Shadow Break milikku. Dengan kecepatan bayangan aku ada di belakangnya.


Sebelum dia menyadarinya, aku mengayunkan kakiku dari atas ke bawah dan membuatnya terjatuh ke tanah. Kaito menghantam tanah seperti apel yang jatuh dari pohonnya.


"Dark ball ..."


Aku menembakan bola kegelapanku ke arah asap tebal yang menyelimutinya itu. Ledakan besar pun terjadi. Aku yakin jurusku itu tidak akan menimbulkan efek besar pada pertarungan ini. Dia keluar dari asap tebal itu dan terbang kembali ke arahku.


Aku menyilangkan kedua tanganku ke depan dan menahan ratusan tinjuan yang dia lancarkan padaku. Kecepatannya bertambah pesat. Aku yakin dia sudah menemukan tujuan untuk tetap hidup. Pukulannya juga semakin kuat, ini dia yang sudah lama aku nantikan.


"Shadow Break ... Strike ...," gumamku santai sembari menangkis semua tinjuan yang ia lempar kepadaku.


Dalam sekejap aku kembali berada di belakang punggung Kaito. Aku menendangnya ke atas dan membuatnya melayang lebih tinggi. Aku kembali melakukan teleportasi dan menunggunya di atas. Aku mengayunkan kakiku dan membuat Kaito terpental ke samping.


Tubuh cahayanya itu terbang tak terkendali di atas awan malam ini. Sebelum dia berhenti dan bisa mengendalikan tubuhnya. Aku kembali melakukan teleportasi dan menunggu tubuhnya melesat ke arahku tanpa kendali.


"Shadow Spear!!!"


Aku mengeluarkan jurusku yang sudah lama tak kugunakan. Aku membentuk sebuah tombak dari kekuatan kegelapan ku dan melemparnya ke arah Kaito. Tapi bocah itu kembali mengejutkanku. Dia mengeluarkan aura cahaya di sekitar tubuh nya dan membuatnya bisa mengendalikan dirinya yang tadinya terbang tanpa kendali.


"Light Shield!!!" Teriaknya sembari mengarahkan kedua tangannya di depan.


Sebelum mata tombak ku menembus tubuhnya. Kaito membuat perisai cahaya dan membuat tombak kegelapanku meledak sebelum bisa menyentuhnya.


Swush!!!


Kaito tiba tiba melayang di belakangku dan membalas semua serangan ku tadi. Dia mengayunkan kedua tangannya dari atas ke bawah. Aku kembali jatuh menghantam tanah dari ketinggian ribuan meter. Aku melubangi tanah dan membuat pohon besar di sekitarku tumbang.


"Light Spear!!!" Teriaknya melempar tombak cahayanya dari ketinggian.


Jraatt!!!!


Tombak itu menembus dadaku dan membuat ledakan yang sangat besar. Kaito belum selesai di situ saja, dia kembali menembak ku dengan bola cahayanya. Ledakan besar pun terjadi. Pohon pohon di sekitar ku hangus menjadi abu. Tak kusangka dia masih bisa menyerangku.


Dia menjatuhkan diri dari angkasa dan menghantam ku. Dia menginjak tubuhku dengan kaki kanannya. Tak kusangka dia bisa mengembalikan keadaan setelah semua serangan yang kulempar padanya.


"Takumi ... sudah berakhir ...," ucap Kaito sembari menggenggam gagang tombak cahayanya yang masih menancap di tubuhku.


"Hahahaha ... kamu memang hebat Kaito ...," aku tertawa terbahak bahak karena senang bisa bertemu dengan lawan yang seimbang.


"Dengan ini ... aku masih bisa hidup dan pergi ke festival musim panas bersama Hanabi ...," gumamnya memandang ke atas langit.

__ADS_1


Hanabi?! ... apa itu nama adiknya?


Ternyata alasannya berjuang selama ini masih serendah itu. Hanya untuk pergi ke festival bersama adiknya? Dasar bodoh. Dia butuh alasan yang lebih kuat untuk bisa mengalahkanku.


"Kakak ... kalau aku sembuh ... bawa aku ke festival musim panas ya?"


Rambut hitam panjang yang terurai. Ia duduk di atas ranjang rumah sakit memandang ke arah jendela yang terbuka lebar. Hana, aku kembali mengingatnya. Aku kembali mengingat adik ku, tidak. Aku tak ingin mengingatnya. Itu membuat hati ku sangat sakit. Aku mohon ...


"Hana!!!!!"


Aku berteriak dan meledakan aura kegelapanku. Aku membuat tombak cahaya yang menancap di tubuhku lenyap. Aku juga membuat Kaito terpental jauh karena ledakan aura kegelapan ku. Aku kembali bangkit berdiri dan mengusap darah yang keluar dari mulutku.


"Kaito!!! ... aku akan membunuhmu sekarang juga!!!"


Aura kegelapan mulai menyelimutiku. Angin di sekitarku juga ikut mengamuk dan membuat daun daun di pohon pohon beterbangan. Aku akan segera mengakhiri pertarungan ini, aku sudah puas bermain main dengan bocah cahaya itu.


Aku akan menggunakan jurus paling berbahaya di dunia ini. Jurus pamungkas yang ku miliki. Dengan ini, hidupnya pasti akan berakhir di sini. Aku melangkah maju perlahan dan melihat Kaito keluar dari kepulan asap.


"Deadly End"


Aku memejamkan mataku dan mulai merasakan seluruh kekuatanku yang keluar. Kedua mataku berubah menjadi mata iblis. Mulut sampai hidungku seolah tertutup dengan masker hitam. Kegelapan mulai mengambil alih seluruh tubuhku. Ini adalah pertama kalinya aku menggunakan jurus ini setelah beberapa tahun. Kakiku tak lagi menapak di tanah. Aku sedikit melayang di udara. Aura kegelapan yang kuat sudah menyelimuti tubuhku ini.


"Takumi!!!" Kaito kembali berlari ke arahku.


Dan itulah yang ku harapkan. Sebelum dia mendekat dia sudah menerima serangan tak terlihat milikku.


Buak!!!


"Apa ini?!" Kaito menghentikan langkahnya ketika merasakan pukulan bayangan milikku.


Slash! Buak!!! Duar!!!


Aku terus menyerang Kaito dengan serangan bayanganku. Dia hanya bisa diam dan menerima semua seranganku. Tak akan ada yang bisa menangkis seranganku ini sehebat apapun dia. Aku terus menyerangnya, Kaito menerima pukulan, tusukan, tikaman, serangan tak terlihatku. Mulutnya itu mulai menumpahkan darah merah yang segar. Dan saat itu juga aku membuka kedua mataku.


Aku memanggil tombak kegelapan dan menggenggam gagangnya dengan kuat di tangan kananku. Aku melesat cepat dan menusukan tombakku ke dada Kaito.


"Last Dream ..."


Booom!!!


Sesaat setelah itu ledakan besar terjadi. Pepohonan besar yang ada di sekitar kami hangus tak tersisa. Ledakan besar ku membuat hutan dengan radius satu kilometer ini lenyap dan hanya menyisakan tanah yang hancur berkeping keping. Setelah asap yang menyelimuti kami menghilang, aku bisa melihat Kaito terlentang di hadapan ku dan tak sadarkan diri.


Tubuh cahayanya itu lenyap. Sekarang dia hanyalah manusia biasa yang mengenakan kemeja putih dan celana panjang warna hitam. Aku akan mengakhiri hidupnya sekarang.


"Shadow Spear"


Aku kembali menggenggam tombak kegelapanku dan hendak menancapkan mata tombak ku ke padanya. Dan hal yang tak ku duga terjadi. Ponsel Kaito yang terjatuh di depan kaki ku berbunyi tanda telepon masuk.


'Hanabi'


Nama yang tertulis itu mengingatkanku pada adik perempuanku lagi. Saat itu juga aku membeku dan tak bisa menggerakkan tubuhku.


Kakak sudah bertambah kuat~

__ADS_1


Suara adikku yang kembali terngiang. Dan kata katanya itu membuatku mengalami Lock untuk yang pertama kalinya dalam hidupku. Tubuhku kembali ke bentuk semula tombak yang ada di genggamanku pun ikut lenyap.


Entah apa yang aku pikirkan, aku mengambil ponsel Kaito yang tergeletak di depan kakiku dan mengangkat telepon dari adiknya.


"Halo?"


"Loh ... ini siapa? Kok suaranya beda?" suara Hanabi, adik perempuan Kaito itu pun hampir mirip dengan suara Hana, adikku.


Brak!!!


Aku berlutut dan meneteskan air mataku. Aku lagi lagi menangis karena mengingat Hana. Walau aku memang kuat, tapi hatiku begitu rapuh. Aku bahkan tak sanggup membuka mulutku setelah mendengar suara Hanabi.


"Halo? ... apa kakakku masih sibuk?"


"Oh ... kakakmu sudah berjuang sangat keras ..."


"He? Apa kakakku terluka?! Apa terjadi sesuatu?!"


"Bukan ... dia hanya perlu istirahat, dia kelelahan dan pingsan"


"Ohh ... Kalo boleh tau nama kakak siapa ya?"


"Takumi ... Akiba Takumi"


"Ohh ... makasih ya kak Takumi ... udah jagain kakakku ..."


"Ano gini ... aku cuma mau tanya kenapa dia pulangnya lama banget ... tadinya aku mau makan malam ... cuma kalo kakak ku gak bisa ya udah"


"Ohh ... gitu ..."


"Bentar lagi kakakmu pulang kok ... aku yang anter ke rumahmu ... tolong kasih tau alamatnya ya?"


"Oke!"


Aku pun menutup teleponnya dan mengusap sisa air mata di wajahku. Kaito, kamu memang beruntung. Adikmu sangat perhatian, dan juga dia masih ada di sisimu.


"Aghh!!! Sial!!!" Aku memukul tanah dengan tanganku.


************


Halo halo ... Okino Kazura di sini ...


makasih buat kalian yang udah baca sampai sini. Cuma mau ingetin lagi ya hehe ...


buat kalian yang udah like setiap chapter aku ucapin makasih banyak ya ...


tapi buat kalian yang kelewatan atau lupa nge klik tombol likenya, aku mohon buat sempetin dong waktunya buat like setiap chapter ...


aku butuh banget dukungan dari kalian soalnya hehe ... Maaf kalo kayak ngemis banget ...


udah gitu aja


__ADS_1


Akiba Takumi


See you next chapter guys ...


__ADS_2