
Sinar mentari yang mulai mengubah langit menjadi kuning keemasan. Awan awan putih yang masih lalu lalang di langit. Udara sejuk dan warna merah muda yang menyelimuti taman ini. Kelopak bunga sakura yang berjatuhan ke tanah. Ramainya pengunjung lain yang lalu lalang di jalan setapak taman ini.
Pohon pohon yang berbaris rapi. Angin musim semi di sore hari bertiup dan membuat ratusan kelopak bunga warna merah muda itu jatuh ke tanah. Aku duduk di kursi taman yang terbuat dari kayu ini, aku ditemani gadis tuli yang hanya bisa mendengar suaraku itu. Kami berdua duduk di depan sebatang pohon sakura yang cukup besar.
Si tuli itu mengangkat wajahnya dan memandang ke atas. Ia seakan menikmati setiap kelopak bunga yang berguguran ke tanah. Paras cantiknya, matanya yang berkilauan, senyum tipis, pipi yang sedikit memancarkan rona merah. Berapa kalipun aku mengatakannya, dia selalu membuat ku terpana.
Aku memang sedang jatuh cinta ...
"Kaito, apa malam ini kamu pergi lagi?" Ai tetap memandang ke atas.
"Hmm, kayaknya sih ...," aku menyandarkan punggungku ke kursi dan memejamkan mataku.
"Yahh, gak bisa makan malem bareng dong." Ucap Ai lemas.
"Hmm, gitu lah ...," aku menghela nafasku dan menikmati udara segar yang ada di sini.
"Apa aku beneran gak boleh bantu?" Tanya Ai sedikit memiringkan kepalanya.
"Jangan, sekali aku bilang jangan ya jangan." Aku melarangnya dengan halus, mungkin hasilnya akan berbeda dari pada aku menolaknya dengan kasar.
"Ohh, oke ... Kaito, apa kamu takut aku terluka?" Aku senang dia mengetahui alasannya tanpa aku harus mengatakanya terlebih dahulu.
"Hmm," aku mengangguk perlahan.
"Atau kamu sebenernya cuma mau bertarung sama Saika?"
Teori dari mana itu?!
"Ai, cukup tunggu aku di rumah dan temani adikku. Aku tak ingin melihatmu terluka. Dan aku tak ingin melihat Hanabi kesepian." Pada akhirnya aku harus menjelaskannya sendiri.
"Kamu memang baik ya ...,"
"Pertama kamu mau menerima teman orang tuli sepertiku."
"Kamu juga sangat menyayangi Hanabi. Kamu itu kakak idaman tau?"
"Dan juga, kamu ... kamu adalah calon pahlawan di dunia ini kan?" Senyuman indah di tengah kelopak bunga sakura yang berjatuhan di sore hari ini.
Tuhan, apa aku memang jatuh cinta padanya?
__ADS_1
"Ai, apa kamu menyukai salah satu laki laki di sekolah?" Entah kenapa aku melempar pertanyaan aneh di saat saat seperti ini.
"He? Etto, kenapa?" Ai memalingkan wajahnya karena pipinya mulai memerah.
"Gak ada apa apa," aku memandang ke atas dan melihat jutaan bunga merah muda yang masih ada di ranting ranting pohon besar yang ada di belakang kami.
"Kaito, aku suka ...," Ai menyandarkan kepalanya ke pundak kananku.
"He? Su-suka apa?!" Jantungku malah berdebar kencang sekarang ini.
"Aku suka kamu mengajakku ke sini."
Huff ... aku kira dia akan bilang suka denganku ...
Untung saja ...
"Ne ... ne, kamu kan udah nurutin semua permintaanku ... sekarang kamu mau kemana?" Ai kembali duduk tegak dan terus memancarkan senyuman indahnya itu.
"Aku gak pengen kemana mana,"
"Ya udah, kalau gitu apa kita pulang aja?" Tanyaku.
"Ya, udah ...," aku pun mengambil kelopak bunga yang tersangkut di atas kepalanya itu dengan lembut.
Kedua mata kami bertemu lagi, hampir tak ada jarak di antara wajah kami berdua. Aku bisa merasakan nafas lembutnya, matanya yang berkilauan itu sangat indah. Pipinya mulai merah merona seiring berjalanya waktu. Entah kenapa tubuhku malah membeku, aku malah seolah olah sedang mengelus kepalanya.
Aku ingin menciumnya sekali lagi ...
Apa tak masalah?
Cih, *****!!
"Maaf, aku cuma mau ngambil ini." Aku menunjukan kelopak bunga yang baru saja aku ambil dari atas kepalanya.
"Ohh ... makasih," Kami saling memalingkan pandangan kami satu sama lain.
"Nee, Kaito ... apa aku boleh jatuh cinta pada mu?" Ai menundukan kepalanya dengan wajahnya yang memerah itu.
Ha?! Tu-tunggu?!
__ADS_1
"Apa?! kenapa?!" Aku malah kebingungan dan salah tingkah.
"Habisnya ... entah kenapa jantungku selalu berdebar kencang saat ada di dekatmu."
"Dan juga ... aku selalu merasa tenang saat ada di sisimu."
"Aku seakan melupakan semua masalah ku ketika bersamamu."
"Hidupku jadi lebih berwarna karena mu."
"Kamu, kamu selalu membuatku merasa senang saat ada di sisimu."
"Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya."
"Jadi apa ak-" Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya aku sudah memeluknya terlebih dahulu.
"Ai, udah cukup. Aku sudah cukup mendengar alasanmu."
"Maaf, aku tak ingin kamu mencintaiku."
"Karena, kutukan ini tak akan membiarkan aku merasakan kebahagiaan sama sekali."
"Percuma saja jika kau jatuh cinta padaku."
"Itu malah berbahaya buatmu."
"Aku tak ingin kalah dari takdir kali ini."
"Aku tak akan membiarkan kita berpisah lagi seperti dua kehidupan sebelumnya."
"Ai, aku berjanji untuk segera mengakhiri ini, aku ingin kamu tetap hidup normal."
"Aku gak akan biarin takdir merebutmu lagi dariku."
"Aku melakukan semua ini untukmu, supaya kamu tetap hidup di dunia ini."
"Jawabannya tidak, tidak boleh." Aku memeluknya dengan erat dan merasakan kehangatannya di tengah angin musim semi yang menerpa ini.
"Maaf, ini semua karena aku!" Ai membalas pelukan ku dan menangis di pelukanku lagi.
__ADS_1