
-------------------
Keramaian kota, masyarakat yang lalu lalang dengan urusannya masing masing. Trotoar jalan dipenuhi dengan manusia yang bergerombol layaknya semut yang sedang berbaris. Berbagai jenis kendaraan melaju di atas aspal jalan. Ada juga yang berhenti di depan lampu lalu lintas yang masih menyala warna merah. Pesawat yang membelah awan putih. Sang surya bersinar terang dengan kekuatannya yang tak terbatas itu.
Gedung gedung pencakar langit berbaris rapi. Kaca jendela mereka memantulkan cahaya layaknya sebuah cermin. Natsu towerlah yang paling mencolok. Menara tertinggi di kota Natsu itu selalu saja banyak pengunjungnya. Yang kita sorot saat ini adalah salah satu gedung yang ada diantara banyak gedung lainnya. Gedung yang penuh dengan kaca yang menyelimutinya, gedung dengan tinggi total lima puluh lantai. Ini adalah gedung yang sering digunakan Tetsujo Dai, Mirai Kazuki, dan Takumi untuk sekedar bersantai.
Di dalam salah satu ruangan. Dai dan Kazuki sedang duduk bersantai di dua sofa hitam yang terpisahkan oleh meja bundar yang terbuat dari kayu. Dua teh hangat sudah tersaji di atas meja itu juga. Asap putih tipis masih mengepul keluar dari permukaan air teh itu. Ruangan kosong yang gelap, hanya ada dua kursi dan satu meja kecil. Cahaya masuk melalui kaca jendela ruangan itu.
"Ka-zu-ki ... sampai kapan kau harus menyembunyikan semua itu?" Kata Dai dengan seringai senyumnya itu.
"Hmm, hanya sampai Kaito membangkitkan kekuatannya ...," Kazuki menyeruput sedikit dari segelas teh hangat miliknya.
"Sang malaikat yang turun ke bumi ya ... rencanamu memang hebat, tapi ... apa tidak masalah bila kau dibenci?" Dai melipat tangannya di depan dada.
"Tak apa, aku sudah biasa seperti ini ... lagi pula, apapun akan kulakukan demi menyelamatkan dunia ini." Pria blasteran eropa asia itu memejamkan matanya dan menunduk.
"Ha, kau memang egois ... sejak dulu kamu memang seperti itu." Dai sangat mengenal sahabat lamanya itu. Dia tahu Kazuki tak segan segan mengorbankan nyawa seseorang untuk menyelamatkan banyak orang.
"Apa bedanya denganmu Dai, jika kau kehilangan sesuatu. Kau juga ingin orang lain merasakan kesedihan yang sama kan?" Kazuki juga sudah mengenal ketua Enjeruhanta itu dengan sangat baik. Ketika Dai kehilangan kekasihnya, dia juga ingin orang lain juga merasakan rasa sakit yang sama. Dai sudah menjadi korban karena kekejaman takdir. Dia tak ingin ada orang lain yang bisa menghindar dari takdir itu.
"Tak ada gunanya berdebat sekarang kan? Lagi pula kita sudah tahu masa depan akan seperti apa?" Dai tersenyum tipis sembari menikmati pemandangan kota Natsu dari kaca yang ada di hadapan mereka.
"Hmm, kita hanya tinggal menunggu Kaito untuk menentukan takdirnya." Kazuki berdiri dari tempat duduknya.
"Sepertinya kau akan butuh ini ...," lanjut Kazuki memberikan sebuah pistol kepada sahabat lamanya itu.
"Ohh, instingmu belum lenyap ya?" Dai tersenyum lebar dan menerima pistol dari sahabatnya itu.
"Huff, sampai kapan kita harus menghadapi mereka ya ...," Dai ikut berdiri dari tempat duduknya.
Duar!!!
Tiba tiba seseorang berhasil mendobrak pintu ruangan mereka. Bukan seseorang, sepuluh ninja Jonin mengepung dua petinggi organisasi itu. Sepuluh ninja itu berdiri melingkar dan masing masing dari mereka sudah bersiap dengan pedang tajam di genggaman tangan.
"Apa ini? Misi pembunuhan berantai?"
"Pertama Kaito dan Saika, sekarang kalian mengincar kami?" Ujar Dai sangat santai dengan seringai senyum lebarnya itu.
"Hmm ... harusnya kalian bawa lebih banyak teman kalian ...," Kazuki bersiap dengan satu pistol dan sebilah pisau di tangan kanan dan kirinya. Mereka berdua saling menempelkan punggung dan menghadap ke dua sisi yang berbeda.
"Etto, Kazuki-chan ... lebih baik kau pakai kekuatanmu saja ... aku lupa meminum obatku ...," dengan santainya Dai merogoh saku kemeja di balik jubah hitamnya itu.
__ADS_1
"Huff, baiklah ...," Kazuki menghela nafas dan memejamkan kedua matanya.
Bwush!!!
Kilatan cahaya yang membutakan mata keluar setelah Dai membanting sebuah benda berbentuk bola kecil ke permukaan lantai. Dan tepat saat kilatan cahaya itu menghilang. Kesepuluh ninja itu sudah tergeletak di tanah dan ada luka tembak di masing masing kepala mereka. Anehnya, Kazuki dan Dai tidak bergerak sama sekali dari tempat mereka berdiri dari awal.
"Cih," Kazuki terlihat menahan sakit di dadanya, walau begitu pria itu masih bisa dengan santainya duduk di atas sofa hitam yang ia tempati sebelumnya. Dai mengambil sebuah ponsel untuk menelepon seseorang.
"Bereskan mayat mayat ini ...," ucap Dai lalu langsung mengembalikan ponselnya ke dalan saku celana. Tak lama kemudian lima orang dengan setelan jas hitam dan juga kaca mata hitam segera menyeret mayat mayat ninja itu keluar dari ruangan. Setelah tak ada satupun tubuh yang tergeletak, seseorang dari mereka mengepel lantai untuk membersihkan bercak bercak darah.
"Tak kusangka kau masih bisa memakai kekuatan itu," Dai kembali duduk dan menyeruput sedikit teh hangat miliknya.
"Hmm, kenapa aku terus saja mengikuti perintahmu ...," kata Kazuki, dan disaat yang sama orang yang mengepel lantai tadi keluar dan menutup pintu ruangan itu dengan sangat rapat.
"Mau melihat pertunjukan mereka?" Dai mengambil sebuah remote dari bawah sofa tempat ia duduk sekarang ini.
"Tak ada salahnya ...," Kazuki meletakan pistolnya di samping gelas teh miliknya.
Jlek!!!
Tepat saat Dai menekan suatu tombol di remote itu. Kaca ruang gedung di depan mereka perlahan tertutup oleh dinding besi yang turun dari atas. Ruangan menjadi gelap gulita sejenak. Tidak sampai kaca yang sekarang sudah jadi dinding besi itu menyala dan menampilkan pertarungan Kaito dan teman temanya di atas langit.
"Kita lihat seberapa kuat calon suami anakmu itu." Lanjut Dai melempar remote tadi ke sembarang arah.
Kaito
Duar!!!!
"Sial!!! Sudah kubilang aku bukan pilot yang handal!!!" Teriakku menyadari bagian belakang pesawat ini sudah terlalap oleh kobaran api.
"Fumio!!! Aku akan pakai mode Light Chaser!!!" Aku menekan suatu tombol di samping kursinya dan secara otomatis diriku terlempar keluar dari kokpit pesawat tempur yang kutumpangi.
"Konfirmasi! Silahkan gunakan kekuatanmu itu!!" Suara Fumio yang kudengar dari T-Phone yang kupakai.
"Baiklah, pertama tama aku akan menghancurkan nyamuk itu dulu!!!" Tubuhku langsung bersinar terang dan rambut ku berubah jadi putih. Dengan ini aku bebas bergerak di udara karena aku bisa terbang. Aku segera melesat maju mengejar ekor pesawat tempur milik Shogun itu. Tanpa basa basi aku menembakan bola cahaya ke arah jet pendorongnya. Pesawat itu meledak setelah bola energiku itu menghantam bagian belakang pesawat tempur itu.
"Kaito! Di belakang!" Suara Taki memperingatkanku.
"Light Speed!!!" Dengan kecepatan cahaya aku menembus pesawat di belakangku dan membuatnya hancur berkeping keping. Aku menoleh ke segala arah dan melihat pesawat yang Taki terbangkan sedang dikejar oleh tiga pesawat musuh. Tapi sebelum aku menolong Taki, aku merasakan kekuatan besar ada di dalam Flying Fortres itu. Aku menoleh dan melihat cahaya merah memancar keluar dari celah yang ada di pesawat super besar itu.
Swouush!!! Booomm!!!
__ADS_1
Tak lama kemudian ledakan yang amat sangat besar terjadi. Yang kupikirkan hanyalah keselamatan Taki, tapi itu sudah terlambat, api ledakan itu sudah memakan semua yang ada di sekitarku tak terkecuali tubuhku. Aku memang tidak merasakan apa apa, tapi aku juga tak bisa berbuat apa apa karena api dan asap yang menyelimutiku ini. Kuharap Taki baik baik saja, hanya itu yang kupikirkan sekarang ini. Tak lama setelah kemudian api hasil ledakan itu mereda dan pandanganku perlahan membaik.
"Senpai!!!" Suara si mesum yang membuatku menoleh kebelakang.
"Saika?!" Aku terbelalak saat melihatnya sedang menggendong tubuh Taki yang sedang pingsan itu. Saika sudah berubah ke mode Cyber Shield, dia memakai zirah besi warna hitam dengan lampu yang bersinar di tengah dadanya. Dia juga punya sepasang sayap berteknologi tinggi yang menempel di belakang punggungnya. Sayapnya itu terlihat seperti beberapa bilah pedang yang disusun rapi.
Nah, kalau begitu, ini dia tugas terakhir ku!
Aku melesat maju dan menembus awan. Tak lama kemudian terlihatlah Takumi dengan matanya yang sudah berubah jadi putih. Tato oranye menyala ada di sekujur tubuhnya. Dan yang menjadi targetku ialah bola warna merah yang bersinar di tengah dadanya itu.
"Takumi!!!!" Dengan sangat cepat aku terbang dan bersiap memukul jantung iblis itu dengan tinjuan tangan kananku.
Duar!!! Krak!!!
Tanpa perlawanan, Takumi hanya terdiam dan membiarkanku untuk menghancurkan jantung iblisnya itu dengan mudah. Mata Takumi langsung berubah seperti semula. Dan tato disekujur tubuhnya itu lenyap entah kemana. Dan tanpa ku sadari Takumi terjatuh kebawah karena ia sudah tak sadarkan diri. Sebelum aku sempat mengejarnya, Saika sudah terlebih dulu meraih jaket Takumi. Sekarang Saika membawa tubuh Taki dan Takumi seperti sedang membawa dua kantong plastik di kedua tangannya.
"Kerja bagus Saika!" Seru ku mengacungkan ibu jariku kepada si mesum itu. Kami berdua melayang di ketinggian lebih dari enam ribu meter dari atas permukaan laut. Dan aku baru pertama kali lihat kekuatan Takumi yang sebenarnya itu. Hell Breaker, tak ku sangka dia bisa meledakan pesawat raksasa itu dalam hitungan detik.
"Ya sudah Senpai ... ayo kembali ke bandara!" Saika terlebih dulu terbang ke arah jalan pulang. Tapu hal yang tak terduga kembali terjadi. Tiba tiba tubuhku kembali menjadi manusia biasa. Cahaya yang memancar di tubuhku ini sudah sirna. Alhasil aku pun terjun ke bawah tanpa ada hal yang bisa kulakukan.
"Senpai!!!" Teriak Saika saat menyadari aku terjatuh dari ketinggian.
"Saika, jangan pikirkan aku, bawa saja mereka!" Ucapku pada Saika melalui T-Phone milikku.
"Mana mungkin!!!" Saika tetap berusaha terbang mengejarku. Tapi kedua tangannya sudah penuh dan pasti tak ada cara baginya untuk menyelamatkanku. Pandanganku mulai buram, aku hanya bisa pasrah terjun dengan posisi punggung menghadap ke tanah. Aku bisa melihat Saika yang mengalirkan air matanya keluar sembari terus berusaha mengejarku.
"Saika! Selamatkan mereka!" Teriakku mengingatkannya lagi.
"Tidak!!! Senpai!!! Aku harus menyelamatkanmu juga!!" Keras kepala, dia terus saja mengejarku.
Sepertinya ... cara ini akan berhasil ...
"Saika, turuti saja permintaan ku kali ini."
"Kumohon, aku akan menerima cintamu jika kau bersedia menuruti permintaanku ini."
"Selamatkan mereka, lupakan aku ...," ucapku lirih lalu kehilangan kesadaranku. Aku tak lagi bisa menahan kelopak mataku yang ingin tertutup rapat ini. Jadi aku akan mati disini, sudahlah, takdir pasti akan membuatku tetap hidup di dunia busuk ini. Dia pasti senang jika melihatku merasakan rasa sakit di sini.
Takdir, aku pasrahkan semuanya padamu ...
------------------
__ADS_1
Hehehe ... Jangan lupa likenya ya!!
See You Next Chapter Guys!!!