
Tok tok tok~
Setelah beberapa belas menit menunggu kedatangan asisten pribadiku itu, akhirnya terdengar suara seseorang mengetuk pintu depan rumahku. Aku segera bangkit dari kursi meja makan dan melangkah menuju ke pintu depan untuk segera mengetahui siapa orang yang mengetuk tadi. Aku kira yang datang adalah Sora, tapi aku salah.
Aku bingung saat aku membuka pintu rumahku. Gadis yang sepertinya setahun atau dua tahun lebih muda dariku, ia memakai hoodie warna hitam. Rambut hitam sebahu, dan rok pendek merah. Penampilannya itu bisa di bilang tomboy. Ia juga membawa kantong plastik besar yang entah apa isinya. Mungkin dia yang mengantar pesananku, kenapa Sora tak mengantarkannya langsung ya?
"Kaito? Kenapa bengong?" Suara Sora yang terdengar sangat dekat. Aku menoleh ke segala arah dan memastikan aku tak memakai T-Phone.
"He?! Dari mana suara itu tadi?" Aku tetap menengok ke kanan, kiri, depan, dan belakang karena penasaran.
"Kaito, ini aku Sora," Kata gadis di hadapanku yang mengaku dirinya adalah Sora, laki laki yang selalu aku telepon.
"He?! Heeeee?!!" Aku terperanga menyadari Sora ternyata seorang perempuan.
"Tu-tunggu ... kamu pikir aku laki laki ya?" Ucap Sora lirih tanpa menatapku sama sekali. Kalau dipikir pikir suara Sora memanglah sedikit lebih tinggi daripada laki laki pada umumnya. Tapi tetap saja untuk ukuran perempuan, suaranya itu sangat rendah.
"Emm, ya-ya udah ayo masuk dulu ...," aku mempersilahkan asisten pribadiku itu masuk ke dalam rumah.
"Woah, kakak bawa cewek lagi!!" Teriak Hanabi kegirangan.
"Hmm, ya, aku kira dia cowok sih ...," kataku jujur.
"Hmm, apa suaraku seburuk itu?" Pipinya sedikit mengeluarkan rona merah.
"Bukan gitu, ga ada yang bilang suaramu jelek juga."
"Oh ya, apa yang kau bawa?" Lanjutku bertanya..
"Ya bahan buat masak lah!?" Sora terlihat kesal saat meletakan kantong plastik itu ke atas meja makan.
"Hoi, ga perlu marah juga kali ... aku minta maaf deh." Aku nerasa tak enak karena ini saat kami pertama kali bertemu. Dan aku malah membuat pengalaman buruk.
"Ai, kenalin dia Sorachi Murakami, dia yang selalu membantuku lewat telepon." Ucapku memperkenalkan gadis tomboy itu.
"Ohh, salam kenal, namaku Mirai Ai!" Si tuli itu langsung berdiri lalu sedikit membungkukan badanya.
"Dan bocah itu namanya Hanabi." Ujarku dengan nada malas.
"Aku bukan bocah tau! Apa kakak belum liat dadaku?!" Lagi lagi dia mengeluarkan kata kata mesumnya.
"Emm," Sora juga menunduk melihat barang pribadinya yang datar itu.
Hadeh! Kenapa bahasannya jadi ke situ sih?!
"Sudah sudah! Hanabi, cepat ke kamar ... kakak mau ngomong sama kamu!" Kataku menunjuk ke arah kamar adikku itu.
"Ano, kalian masak aja duluan, aku ada sedikit masalah." Aku menepuk pundak Sora lalu menggandeng Hanabi untuk menyeretnya masuk ke kamar.
Glek!!
Aku langsung menutup pintu kamar Hanabi setelah kami berdua masuk ke dalam.
"Ka-kakak?! Kakak mau ngapain?!" Dia terlihat panik karena pikiran mesumnya sendiri itu.
"Ha-na-bi! apa kamu mau cerita sesuatu sama kakak?" Aku langsung berbaring di ranjangnya karena tubuhku masih terasa sedikit pegal.
"Ce-cerita?" Dia berdiri di depan pintu dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
"Hmm, di sekolah ada apa?" Tanyaku santai sembari memejamkan kedua mataku.
"Emm, ga ada apa apa kok." Dia langsung menunduk yang artinya kata katanya itu hanya omong kosong belaka.
"Hmm, gitu ya ...," aku kembali duduk di pinggiran ranjang. Aku terdiam dan menunggu reaksi selanjutnya dari adikku itu.
"Ya udah aku keluar dulu!!!" Dia mencoba kabur, tapi dia kira aku bodoh. Tentu tidak, aku sudah mengunci pintu kamarnya dan kuncinya ada di genggaman tanganku sekarang ini.
"Kakak memang *****, tapi kakak gak bodo juga." Aku tersenyum jahat sembari memamerkan kunci yang ada di tangan kananku ini. Aku juga melangkah mendekatinya membuat dirinya semakin kacau karena panik.
"Oi, adikku tersayang? Apa kakak boleh tau masalahmu?" Aku membungkuk dan mengusap kepalanya lembut.
"A-aku ...," pipinya sangat memerah tanda ia sedang tersipu malu dengan sikap hangat yang sangat sangat jarang aku tunjukan padannya.
"Hanabi, kakak minta maaf ... belakangan ini aku jarang perhatiin kamu ...,"
"Tadi kakak mimpi tentang ayah loh." Aku duduk menyilakan kakiku di depan adik mesumku itu.
"Haa?! Siapa juga yang butuh perhatian dari kakak *****!?"
"Dan juga siapa yang peduli!" Ia menggelembungkan pipinya dan memasang ekspresi cemberutnya.
"Hhmm?" Aku hanya diam dan menatapnya sampai wajahnya begitu merah. Brocon, sepertinya dia benar benar menyukai kakaknya sendiri. Walaupun begitu, aku harus tetap menyayanginya bukan?
"Mana kuncinya kak!! Aku mau keluar!!!" Dia berusaha merebut kunci kamar yang ada di genggaman tangan kananku ini.
"Oi oi oi ...," dengan santai aku mengindar dari usahanya untuk merebut kunci ini dariku.
"Kakak!! Aaahh!" Hanabi terpeleset karena tingkahnya sendiri, dia pun jatuh ke pelukanku.
"Siapa juga yang mau meluk kakak!! Dasar mesum!!!" Pekik Hanabi berusaha melepas pelukanku.
"Hanabi, kakak gak akan lepas sebelum kamu cerita kenapa kepala sekolah sampai minta aku dateng ke sekolahmu." Aku terus memeluk adik perempuanku itu untuk membuat hatinya luluh.
"Aku ... aku cuma ...," sekarang Hanabi malah membalas pelukanku. Aku bisa merasakan nafas lembutnya karena kepalanya menempel di dadaku.
"Kangen sama ibu? Ayah?" Aku berusaha menebak isi hati adik perempuanku ini.
"Hmm," Air matanya mulai membasahi kaos yang aku kanakan ini.
"Cerita aja, ga apa apa kok ...," aku membelai rambutnya itu dan memberinya kesempatan untuk berpikir sejenak.
"Kakak *****!!!" Umpatnya lalu menangis dengan suara yang nyaring. Sekarang di dalam kamar ini hanya terdengar suara tangisan adik perempuanku ini.
Sebenarnya apa masalahnya?
"Aku, aku cuma pengen keluarga kita utuh!!"
"Ibu, ibu sudah jarang pulang!"
"Ayah udah ga ada!"
"Kakak juga udah jarang makan malem bareng!"
"Temen temen di sekolah cerita tentang ayah dan ibu mereka."
"Aku cuma bisa diem, mungkin kakak ga tau apa yang aku rasain."
__ADS_1
"Kakak sekarang malah ngebahayain nyawa demi tujuan yang gak jelas!"
"Kalau kakak ngikut ayah gimana?!" Dia sudah mengeluarkan semua isi hatinya, dan sudahku duga. Masalahnya cuma seperti itu, tapi aku tak akan menyepelekannya. Masalah sekecil apapun, tak akan kubiarkan senyuman adikku ini lenyap olehnya.
"Hanabi, mungkin keinginanmu itu mustahil."
"Keluarga kita sudah tak bisa kembali utuh."
"Ibu jarang pulang karena dia pasti sibuk, itu juga untuk hidup kita berdua kan?"
"Hanabi, sadarlah ... keluarga mu jauh lebih banyak dari milik teman temanmu."
"Ada Ai, Saika, Fumio, Takumi, dan masih banyak lagi ...,"
"Keluarga tak harus berhubungan darah ... keluarga ada karena cinta."
"Mereka semua menyayangimu ... mereka tersenyum karenamu ...,"
"Dan pastinya mereka menyayangimu ... mereka pasti juga sudah menganggapmu sebagai keluarga."
"Kakak menurutmu kakak berjuang tanpa tujuan?"
"Kakak selama ini berusaha untuk terus pulang hanya karenamu."
"Kakak berjuang untuk senyumanmu, kakak berjuang untuk memberi kebahagiaan kepada banyak orang."
"Biarkan kakak saja yang tak bisa merasakan yang namanya kebahagiaan." Aku melepas pelukanku dan mengusap air mata Hanabi dengan ibu jariku.
"Hanabi, kakak berjuang untuk melindungimu ..."
"Kakak berjuang untuk melindungi senyuman semua orang."
"Walau kakak sebenarnya sudah gagal menjaga senyuman Mina."
"Apa kakak boleh menyerah sekarang?"
"Hanabi, jika kau memintaku untuk berhenti, maka aku akan melakukannya."
"Kakak ... jangan berhenti!" Hanabi kembali memelukku dengan erat.
"Hanabi, mulai sekarang, kakak akan lebih memperhatikanmu, kakak janji." Ucapku perlahan.
"Siapa juga yang butuh perhatian kakak *****!!!" Pekiknya melepas pelukannya.
"Ne, Hanabi? Kakak mau tanya satu hal, jawab jujur ya?" Ujarku bersiap mengubah suasana ini.
"Apa?"
"Apa kamu beneran suka sama kakak?" Tanyaku dengan wajah datar.
"Heeee?!!!"
"Teori dari mana itu?!"
"Kakak emang *****! Siscon! Bodoh! Pikun! Jorok! Mesum!!" Semua umpatannya itu membuatku lebih tenang. Dia kembali seperti semula, aku terlalu menyepelekan adikku ini. Sejak dulu aku selalu cuek, tak pernah memperhatikannya. Ya, semua ini memang salahku. Semua umpatannya itu memang benar adanya.
Tunggu, tidak semuanya ... Aku tidak Siscon ...
__ADS_1