
Jrak!!!
Pria itu menusuk pundak kiriku. Rasanya sakit, tapi aku tak merasakan rasa sakit. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata kata. Aku membuka kedua mataku dan melihat pria itu tepat di hadapanku menggenggam gagang pedang yang menusukku dengan erat.
"Kaito ... bunuh saja aku ... aku sudah tak memiliki tujuan hidup lagi ..."
Tiba tiba suara itu terngiang di kepalaku. Saat aku menatap mata iblis pria itu, aku sadar. Suara itu datang dari hatinya. Dia meminta ku untuk membunuhnya?
Maaf ... tapi apa kau yakin?
"Cepat ... jika tidak ..."
Kalau begitu ... maaf aku terpaksa harus melakukan itu ...
"Terima kasih ..."
Tanpa sadar aku sudah memakai jubah aneh. Jubah yang ku pakai bersinar dengan warna merah darah. Aku juga memakai syal warna hitam yang sedikit terkoyak ujungnya. Tanpa ragu tangan kananku menggenggam bilah pedang yang terbuat dari besi yang diasah dengan baik itu.
"Maafkan aku ..."
Krak!!!
Aku meremas bilah pedang itu sampai remuk. Kepingan bilah pedang itu melayang ke sembarang arah. Aku mengepalkan tangan kanan ku dengan kuat lalu memukul perut pria itu.
Buk!!! Swushh!!!
Pria itu terpental sampai ia membentur tembok dengan sangat keras. Tembok itu sampai retak, bahkan hampir hancur berkeping keping. Kekuatan sebesar ini, ini pasti adalah kekuatan dari sang iblis. Aku memandang telapak tangan kiri ku sendiri.
Sekujur tubuhku muncul retakan retakan dan cahaya seperti bara api keluar dari celah retakan itu. Hanya mata kiriku saja yang berubah menjadi mata iblis. Dan juga jubah bersinar yang ku pakai ini.
__ADS_1
Aku ini apa?
"Kaito ... apa itu? ...," Haru menunjuk ke arah pria itu dengan wajah paniknya.
"Ha?!"
Dua Akame muncul dari tanah dan berdiri di depan pria yang kerasukan iblis itu. Sekarang musuhku bertambah, tapi aku tidak ragu sedikitpun. Aku melangkah maju perlahan dengan santai.
"Graarrkk!!!"
Dua Akame itu langsung berlari menyerangku. Aku hanya mengarahkan telapak tangan kanan ku ke depan. Aku memejamkan mataku dan merasakan sebuah bola berada telapak tangan kananku.
Aku rasa bola itu seperti sebuah bola kaca yang ada di tengah kegelapan. Aku menggenggamnya. Aku menguatkan genggaman tangan kananku pada bola itu. Aku menghela nafasku dan membuka kedua mataku kembali.
Akame itu hampir menyentuhku. Tapi sebelum itu terjadi, aku mengepalkan tangan kananku yang kuarahkan kedepan tadi. Aku merasa seperti sedang memecahkan bola kaca yang ada di tangan kananku tadi. Tapi sebenarnya bola itu tidak ada.
Jraatt!!!
"Maaf ... tapi aku harus melakukan ini ..."
Aku merasakan kekuatan besar mengalir di tangan kananku dan membuat tangan kananku bersinar terang. Sinar merah darah ini, pasti ini bukan cahaya malaikat.
"Dengan kegelapan aku melenyapkanmu dari dunia yang busuk ini!"
Tubuhku seakan bergerak dengan kemauannya sendiri. Aku melesat cepat kearah pria yang hanya sedang berdiri terpaku padaku itu.
Craaat!!!
Tangan kananku menembus dada pria itu. Aku berhasil mengambil jantung iblis dari dalam tubuhnya. Tapi, ini artinya ...
__ADS_1
Aku menggenggam jantung iblis di tangan kananku yang menembus dada pria itu. Tangan kanan ku seperti pedang yang menusuk tubuh manusia sampai ujung bilahnya muncul di punggung pria itu.
"Terima kasih ...," pria itu mengucapkan sepatah kata diambang alam kematiannya.
Tubuh pria itu perlahan memudar dan berubah menjadi serpihan cahaya yang sangat indah. Perlahan tapi pasti, pria itu memudar dan sedikit demi sedikit dia pasti akan lenyap dari dunia ini. Jadi ini akhir dari orang yang sudah kehilangan tujuan hidupnya.
Maaf ... Maaf ...
Aku tak berhenti mengucapkan kata kata itu di dalam hati ku. Aku ini hanya iblis yang kejam. Aku bukanlah malaikat yang akan menyelamatkan dunia ini. Aku baru saja membunuh orang tanpa rasa kemanusiaan sama sekali.
Sesaat kemudian tubuh pria itu benar benar lenyap. Jantung iblis yang kugenggam di tangan kananku pun ikut hancur berkeping keping. Aku jatuh dan berlutut di tanah. Kaki ku tak lagi sanggup untuk menopang tubuhku. Jubah aneh yang kupakai ini pun ikut lenyap menjadi serpihan cahaya lalu menghilang begitu saja.
Bruak!!!
Aku jatuh tersungkur karena aku tak lagi bisa merasakan tubuhku. Lagi lagi seperti ini, aku hanya berakhir seperti ini. Selalu ...
"Kaitoo!!!" Haru menghampiriku dan membuat tubuhku terlentang.
"Jangan khawatir ... aku sudah biasa seperti ini ...," ucapku lemas.
"Bodoh ... jangan menganggapku gak guna payah!" Haru meletakan kedua telapak tangan nya di pundak kiriku yang baru saja tertusuk pedang.
Kedua telapak tangannya itu memancarkan cahaya yang sangat terang. Di saat yang sama luka di pundak kiriku sudah tak terasa sakit. Malah sekarang aku merasa tak pernah terluka sedikit pun.
"Haru ... akhirnya kekuatan mu berguna juga hehe ...," tiba tiba Kakume muncul di belakang Haru.
"Berisik!!"
"Ohh ... makasih Haru ...," aku terduduk dan melihat bekas lukaku.
__ADS_1
Aku hanya bisa melihat bekas robekan di seragamku saja. Kulitku kembali seperti semula. Ternyata kekuatan menyembuhkan Haru sangat hebat. Entah kenapa dia tak percaya akan kekuatannya sendiri.