Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 52


__ADS_3

Kaito


Kreek~


Aku membuka pintu rumah perlahan.


Malam ini aku pulang terlalu larut. Pasti Hanabi sudah tertidur lelap dalam kegelapan kamarnya. Aku masuk ke rumah ku perlahan. Lagi lagi, rumahku sudah diselimuti kegelapan. Belakangan ini aku selalu pulang larut malam.


Hanabi pasti kesepian saat makan malam tiba. Biasanya dia selalu bersemangat ketika waktu makan malam tiba. Hanabi selalu bercerita panjang lebar tentang hari yang ia lewati.


Sudah beberapa hari ini aku tidak makan malam dengannya. Entah kenapa aku sedikit merasa bersalah. Tapi, mau bagaimana lagi. Akame, Demon Hunter, semua itu membuatku muak.


Aku menyempatkan diriku untuk membuka pintu kamar Hanabi yang tertutup rapat itu.


"He?!"


Aku terkejut ketika melihat selimut dan bantal di atas kasur Hanabi masih tertata rapi. Aku tidak bisa menemukan tanda tanda Hanabi di sini. Dia juga tidak berada di kursi meja belajarnya. Aku mulai panik dan membuka pintu kamar mandi yang ada di kamarnya.


"Hanabi? ... cih ...,"


Kamar mandinya pun kosong, aku memutuskan untuk naik ke kamarku. Setelah membuka pintu kamar, aku melihat seseorang berada di balik selimut ranjangku.


"Hanabi?", aku menghidupkan lampu kamarku dengan menekan saklar yang ada di samping pintu masuk.


"Kakak!!! ..." Hanabi keluar dari selimut itu dan berlari ke arahku. Hanabi langsung memelukku dengan erat.


"Kenapa?!" Aku kaget dan bingung kenapa dia memelukku seperti ini.


"Zombie ...," Hanabi memejamkan matanya dan memelukku dengan erat.


Zombie?!


Jangan jangan Hanabi melihat Akame??!!


"Zo-zombie? ... jangan bercanda ah ..."

__ADS_1


"Aku gak bercanda *****!! ... tadi ... aku liat dia jalan di depan rumah kita tau!!" Pelukannya semakin erat, adik kecilku ini pasti terkejut dan sangat ketakutan.


"Tapi kamu gak apa apa kan?"


"Hmm ... aku takut ... lagian ... kenapa kakak pulangnya malem banget sih!!" Hanabi mulai mengeluarkan air matanya.


"Huff ... Hanabi ... apa kamu dah makan malam?" Tanyaku mengingat dia pasti mengurung dirinya di kamar ku dan tak berani keluar.


"Aku gak laper ..."


"Cih ... bocah ... nanti kamu sakit loh ... ayo ke bawah," aku melepas pelukannya dan menggandengnya ke ruang keluarga.


Aku menekan semua saklar lampu yang ada dan membuat rumah ku kembali terang. Aku meminta Hanabi duduk di sofa ruang keluarga dan menghidupkan televisi.


Aku mengambil sekantong plastik berisi beberapa makanan ringan dari dalam ranselku. Aku membelinya di minimarket pinggir jalan saat perjalanan pulang tadi. Aku meletakan sekantong plastik itu di atas meja yang ada di depan sofa ruang keluarga kami.


Aku duduk di samping Hanabi sembari melepas lelahku. Tak seperti hari hari biasa, Hanabi hanya diam menatap layar televisi tanpa berkata apa apa. Dia bahkan nyaris tak bergerak sama sekali.


"Hanabi ... maaf ya ..."


"Hmmp!" Ia malah memalingkan wajahnya dariku.


"Cerita apa?" Hanabi kembali menengok kepadaku.


"Soal Zombie tadi dan kerjaan kakak ..."


"Zo-zombie ... aahh ... kakak ini ... Hanabi takut tau?!" Hanabi mendesak ku dan memeluk lengan kiriku dengan erat.


"Nee ... kalo kakak bilang kakak punya kekuatan sihir gimana?" Aku yakin dia pasti tidak akan mempercayai kata kataku.


"Apaan sih? ... kakak jangan main main ah ..."


"Kalo gitu liat ini baik baik," aku memejamkan mataku dan memanggil Ten Kara No Ken atau pisau sihirku itu di depan mata Hanabi.


"Ka-kakak?! ... ke-kenapa?!" Hanabi terpaku bingung saat melihat sebuah cahaya berkumpul di atas telapak tangan kananku.

__ADS_1


"Ini adalah senjata sihir kakak ...," ucapku saat cahaya itu sudah berubah menjadi sebilah pisau.


"Ini mimpi kan?!" Hanabi terbelalak tak percaya akan hal yang baru saja ia lihat.


"Aku tau kamu pasti bingung dan gak percaya ... tapi kakak bakal cerita semua yang kakak alami sama kamu ..."


Malam ini, aku duduk di samping Hanabi di sofa ruang keluargaku. Televisi yang menyala, kami bahkan sedetikpun tak memperhatikannya. Aku menceritakan semua hal yang ku tahu tentang kekuatanku, Akame, Tenshi, dan Demon Hunter.


Kalau dipikir pikir, malam ini adalah malam pertama yang aku lewati dengan bercerita panjang lebar pada Hanabi. Biasanya aku hanya mendengarkan ocehannya tanpa mempedulikan apa pun. Tapi sekarang Hanabi pasti menganggap setiap kata yang kukeluarkan itu penting.


Terlihat dari tatapan mata Hanabi yang tak sedetikpun teralihkan. Ia selalu menatap ku dan mendengarkan apa yang kukatakan dengan serius.


"Hanabi ... kakak mohon rahasiakan hal ini ya?" Ujarku di akhir ceritaku yang panjang itu.


"Jadi ... setiap malam kakak bertarung lawan iblis iblis itu?"


"Hmm ... gitu lah ...," aku memejamkan mata ku dan menghela nafas.


"Kakak *****!!! ... gara gara kakak ... aku kesepian tau ...," Hanabi menyandarkan kepalanya di bahu kiriku.


"Ha? ... kamu Brocon yah?", candaku berusaha membuat suasana lebih berwarna. (Brocon\=suka sama kakak sendiri)


"*****!!! ... tapi kalo iya gimana?" Kata kata yang sama sekali tak kuharapkan. Aku sampai tegang dibuatnya.


"Hanabi?"


"Enggak lah dasar kakak *****!!! Siscon!!! Lolicon!!! Mesum!!! Payah!!! Jelek!!! Bodoh!!! Ceroboh!!! Pikun!!!" Semua umpatan yang keluar dari mulutnya itu malah membuatku lega.


"Huaahhmm ... kakak mau tidur ... ngantuk nih," aku menguap dan mataku sudah semakin berat.


"Tidur aja di sini ...," Hanabi tetap menyadarkan kepalanya di pundakku dan memeluk lengan kiriku dengan erat.


"Kakak ... selamat datang di rumah ..."


He? ... apa itu?

__ADS_1


Aku pun memejamkan mataku karena tak kuasa menahan kantuk. Malam ini, lagi lagi aku membunuh iblis. Entah itu hal bagus atau tidak. Yang penting adalah ...


Aku ini sebenarnya apa?


__ADS_2