
Keramaian yang kubenci. Suara piring dan sendok yang saling berbenturan. Suara percakapan dan tawa orang yang tak ku kenal. Para pelayan yang lalu lalang membawa pesanan di atas nampan warna silver. Meja bundar warna hitam yang di apit oleh kursi kayu warna putih.
Aroma kue dan minuman yang menusuk lubang hidung. Aku duduk di seberang gadis rambut pirang panjang yang diikat menggunakan karet warna putih. Tatapan kosong yang ia pancarkan melalui bola mata biru seperti air laut yang ada di bawah sinar mentari di siang hari.
Kemeja putih lengan panjang dengan pita merah yang mengikat kerahnya. Rok hitam panjang dan sepatu hak tinggi warna hitam. Wajahnya yang seperti orang eropa itu selalu menarik perhatian para pengunjung lainnya. Kami berdua duduk di samping kaca besar yang menyajikan pemandangan keramaian kota di tengah hari. Orang orang yang lalu lalang dengan berbagai masalah mereka masing masing. Mereka seakan tak mempedulikan kucing hitam yang lewat di samping kaki mereka itu.
Burung burung yang bertengger di atas kebel listrik. Kendaraan yang lalu lalang kesana kemari. Sang surya yang bersinar terang seakan tersenyum pada dunia yang setengah busuk ini. Di atas meja yang ada di depan kami berdua terdapat dua gelas teh hangat dan sepiring kue cokelat. Asap yang masih mengepul dari gelas teh kami berdua. Bau kue cokelat yang sangat menggoda.
Sampai siang ini, sebenarnya aku mengencani tiga gadis sekaligus. Entah mimpi apa aku semalam, tapi inilah yang terjadi saat ini. Musim semi yang penuh kejutan ini, kuharap bunga sakura tetap bertahan selamanya. Aku tak ingin waktu terus berjalan. Aku hanya ingin semua berhenti di sini.
Aku takut keputusan yang kubuat ini salah dan malah membuat takdir kembali menang melawanku. Ciuman pertamaku itu bisa saja membawa malapetaka di masa depan nanti. Aku tak ingin semuanya ini menghilang. Aku sudah lelah untuk melawan takdir, tapi, jika tidak melawanya aku hanya akan mati sia-sia.
"Okino-sama?" Suara Ema menyadarkanku dari lamunan.
"Ohh, kenapa?" Aku meletakan sikuku di atas meja dan menyangga kepalaku dengan tangan kananku.
"Apa aku boleh makan kuenya sekarang?" Pertanyaan yang sebenarnya tak perlu aku jawab.
"Boleh, jadi dari tadi kamu itu nunggu perintah ku ya?" Aku memasang wajah datar ku.
"Aku adalah pelayan Okino-sama, perintahmu adalah segalanya." Entah kenapa kata-katanya barusan membuat hatiku sakit.
"Oi, aku bukan tuanmu. Jangan sekali kali ngomong gitu lagi loh." Aku meneruput segelas teh hangatku yang ada di atas meja.
"Perintah diterima," ucapan itu dan wajah datar yang menyertainya. Aku tak tahu tapi sepertinya Ema memang tak punya ekspresi.
Perlahan Ema meraba piring kue itu terlebih dahulu. Setelah ia menemukan gagang sendok besi itu, Ema mulai mengangkatnya dan membelah kue cokelat itu menjadi dua bagian. Aku hanya diam memandang gadis buta yang sedang makan di depanku itu.
__ADS_1
"Enak!" Ucap Ema sembari mengunyah kue cokelat yang ada di dalam mulutnya itu.
"Hmm ...," Aku terus memandang wajah tanpa ekspresinya itu.
"Apa Okino-sama mau?" Ema mengarahkan sendok dengan potongan kue kecil di atasnya.
"Eh?"
"Aaahh ...," Ema menyuapiku perlahan.
"Woah ... kue cokelat ini enak juga." Ujarku sembari menikmati kue yang ada di dalam mulutku ini.
"Okino-sama, akhirnya impianku terwujud. Aku bisa makan cokelat bersamamu."
"Terima kasih Okino-sama." Kata katanya itu membuatku seperti mengingat sesuatu, tapi lagi lagi aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku ingat itu.
"Emm ... Ema pengen ...," dia bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di samping kiriku.
"Pengen apa?"
"Aku menyayangimu Okino-sama ...," Ema membungkuk dan mengecup pipi kiri ku dengan bibirnya yang lembut dan hangat itu.
Perhatian para pengunjung lain pun diambil oleh kami berdua. Mereka semua terpaku melihat Ema yang mengecup pipi kiriku ini. Tak hanya mereka, aku membuka mataku sangat lebar saat menyadari hal memalukan yang dilakukan Ema di depan banyak orang ini.
"Wahh ... mereka romantis banget."
"Beruntung banget cowok itu dapet pacar bule cantik."
__ADS_1
"Whoa, bucin tuh bucin!"
Percakapan yang kudengar dari orang orang yang memperhatikan kami. Aku sedikit malu karena kejadian tak terduga ini. Ema pun kembali duduk di seberang meja kecil di depan kami ini.
"Ema?! Kenapa kamu malah cium aku seh?!!" Aku kesal karena perlakuannya itu di depan banyak orang seperti ini.
"Okino-sama yang bertanya apa keinginanku kan?" Ema memiringkan kepalanya sedikit dan tetap mempertahankan wajah tanpa ekspresinya itu.
"Hmm ... aku nyesel sekarang." Aku kembali memandang ke luar jendela.
"Ema, Ema punya satu keinginan lagi." sebenarnya aku tak ingin mendengarnya, tapi ya sudahlah.
"Apa?"
"Malam ini, aku pengen tidur sama Okino-sama lagi ...," ucapannya itu mencuri perhatian beberapa orang yang mendengarnya.
"Gak mau," aku menolaknya mentah mentah.
"Okino-sama, aku mohon." Ema menarik tangan kiri ku yang ada di atas meja.
"Hoi hoi ... Ema, apa gak ada permintaan lain lah?!" Aku berusaha menolak permintaannya itu kali ini.
"Aku mohon," Ema memohon dengan tatapan kosong dan wajah tanpa ekspresinya itu. Walaupun begitu hatiku terasa berat untuk menolaknya.
Cih, apa sebenernya aku seneng tidur sama dia?
Aaghh!!! dasar cowok bodoh!!
__ADS_1