Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 163


__ADS_3

"Master ... apa kau lelah?" Suara gadis yang tak asing, tapi aku tak mengengenalnya. Aku membuka mata dan melirik ke kanan. Aku melihat gadis dengan rambut oranye sebahu. Rambut bagian kirinya dikuncir sedikit. Manik matanya seperti warna langit di sore hari dan selalu membuatku terpana melihatnya.


Kami duduk di tengah taman bunga yang sangat indah. Tempat ini pernah kudatangi, tapi aku tak tahu kapan itu. Selalu saja seperti itu, ingatan masa lalu yang perlahan kembali. Entah ini hal bagus atau bukan. Tapi yang sedang duduk bersandar di bahuku ini adalah Ai dan Saika sebelum mereka terpisah jadi dua. Azuya Mayu, kami duduk di tanah yang sedikit lebih tinggi dari permukaan yang lain. Dari sini kami bisa melihat pemandangan taman bunga luas nan indah ini.


"Aku lelah? Enggak kok, aku harus tetap berjuang untuk melindungi kalian." Kata kata yang tiba tiba keluar dari mulutku.


Ohh ... aku tak bisa mengendalikan tubuhku ... aku akan memperhatikan saja ...


"Mayu, setelah semua ini berakhir, apa kita bisa bersama selamanya?" Tanyaku sembari memandang ke langit sore yang sangat indah.


"Azuya pengen makan cokelat!" Entah kenapa nada bicaranya berubah drastis seperti orang yang berbeda.


Tunggu? Kepribadian ganda?


"Kalau Mayu?" Lanjutku bertanya menoleh ka gadis cantik yang duduk di sebelah kananku ini.


"Aku ... mungkin, ingin bersama Master selamanya." Nada datar dan tatapan dingin yang hampir sama dengan milik Ema.


"Heee, Mayu curang! Aku juga mau tau!" Lagi lagi nadanya kembali meninggi dan ia menggelembungkan pipinya sama seperti Saika.


Ngomong sendiri di jawab sendiri? Hmm ... ingatan ini, semoga aku bisa mengingat hal penting yang aku lupakan.


"Kalau Yume? Apa mau makan cokelat seperti Azuya?" Tanya Mayu menoleh ke arah kiriku.


"Aku?" Yume menunjuk dirinya sendiri dengan wajahnya yang memerah itu.


Aku baru sadar kalau ada Yume juga duduk di sisi kiriku. Gadis rambut putih panjang yang dikuncir. Bola mata merah padam yang menyejukan hati. Dia sedang membawa setangkai bunga matahari ditangan kanannya.


"Ohh Yume sepertinya mau ke sini terus buat ngeliat bunga matahari ya?" Aku mengusap kepalanya seperti anak kecil saja.


Woi! Dia malaikat! Seenaknya saja pegang kepalanya!


"Kaito?! Jangan gitu loh!" Yume menepis tanganku dengan wajahnya yang memerah samoai ke daun telinganya juga.


"Hehe, maaf maaf Yume-chan!" Aku melempar senyum sembari menggaruk kepalaku.


Hoi? Serius kah? Aku dulu begitu sama malaikat?!


"Hmm, aku ... aku ingin ...," ucap Yume lirih dan sepertinya ia tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.


"Kiss ...,"

__ADS_1


-------------


"Waahh Kaito!! Aku minta maaf!! Aku bener bener minta maaf!!!" Suara teriakan Sakura yang membangunkanku dari alam mimpi.


"He?! Apa kenapa?!" Aku terperanjat dan terduduk di atas ranjang rumah sakit ruanganku lagi.


"Maaf ... aku tak sengaja menusukmu tadi!" Sakura sampai bersujud di atas lantai.


"Woi woi?! Ga perlu segitunya juga kali ... bangun bangun." Bangkit berdiri dan membangunkan Sakura.


"Apa kamu ga apa apa?" Tanya Sakura yang nampaknya sangat panik.


"Hmm? Ya aku ga apa apa." Aku melihat dadaku yang sudah dibalut dengan perban putih. Aku kembali memakai kemejaku dan menutup semua kancingnya.


"Saika? Kamu juga ga apa kan?" Tanyaku pada gadis mesum yang dari tadi menemaniku ini.


"Iya ...," jawabnya dengan wajah datar dan tatapan dinginnya itu.


"Ya udah, aku pulang dulu ya? Maaf sekali lagi Kaito!" Sakura masih sempat membungkukan badannya sebelum ia melangkah keluar.


"Aku temenin Senpai sampe pintu depan ya." Saika mengikuti langkah Sakura menuju pintu keluar gedung rumah sakit dan meninggalkanku sendirian.


"Ada apa?" Tanyaku santai sembari memasukan ponsel ke dalam saku celanaku.


"Jangan ceritakan kejadian tadi malam pada Mina," kata Raku seraya menyelipkan pisaunya ke ikat pinggang dan menutupnya dengan hoodie biru yang ia pakai.


Malam tadi? Memangnya ada apa?


"Raku, tenang, aku tak mengingat kejadian malam tadi ... kau tau aku pikun kan?" Ujarku menoleh ke arahnya dan ia sudah tak lagi ada di sampingku.


"Senpai ngomong sama siapa?" Tanya Saika yang baru saja masuk.


"Eh? Oh ... bukan siapa siapa." Aku segera melangkah keluar dari ruangan ini.


"Oh ya Saika, mau kemana? Masih lama kan festivalnya?" Aku kembali bertanya saat kami berdua sedang menyusuri koridor rumah sakit.


"Umm," si mesum itu sepertinya bingung harus menjawab apa. Aku menghentikan langkahku mendadak dan membuat Saika yang berjalan di belakang menabrak punggungku.


"Se-senpai?" Dia kebingungan dan aku pun berbalik menghadapnya.


"Saika ...," Sebelum aku menyelesaikan kata kataku. Ponselku berdering dan terpaksa membuatku tidak melanjutkan kalimatku tadi.

__ADS_1


"Halo?" Aku menerima telepon dari Fumio yang pastinya berisi masalah.


"Kita terlambat ... The Key sudah sampai di sini." Pagi ini lagi lagi hidupku diterpa ombak kejutan.


"Maksudmu?!"


"Misimu gagal ... dia sudah menemukan Ai dan Saika ... hanya saja dia belum beraksi." Jelas Fumio dengan nada seriusnya itu.


"Ha?! Aku gagal?!"


"Aku cuma bilang, kita semua sedang bersiap menghadapi perang musim gugur ini." Ucapan terakhir Fumio lalu ia memutus sambungan telepon kami.


Perang!? Musim gugur!? Secepat ini!?


"Senpai kenapa?" Saika menarik lengan kemejaku berkali kali dan membuatku tesadar dari lamunanku.


"Ohh hmm ... ga ada apa apa," aku kembali memasukan ponselku ke dalam saku celana.


"Aku mau jalan jalan ...," ucap Saika lirih dengan rona merah yang memancar di kedua pipinya.


He?


"Ja-jalan ke mana?" Pikiranku kembali kacau karena Fumio yang meneleponku tadi.


"Ke ... Ano ... Aku mau nonton, aku mau ke kafe, aku mau ke mall, aku mau kencan dengan Senpai!" Kata Saika dengan tatapan dinginnya itu.


Haa? Ni cewek banyak banget maunya ...


"Hmm, oke oke, kita nonton dulu?" Aku kembali mengambil ponsel dan meminjam mobil DH. Aku tak akan pakai supir kali ini, aku sendiri yang akan mengemudikannya.


"Ano! Apa aku boleh menggandengmu?" Saika menunduk dengan wajah memerahnya itu.


"Hmm? Boleh," kami berdua keluar dari gedung rumah sakit Zei dan mencari mobil yang kupesan di parkiran rumah sakit ini. Setelah menemukan mobil sedan hitam yang biasa dipakai anggota DH yang lain. Kami segera berangkat menuju pusat kota Natsu. Aku, aku tak tahu harus berkata apa. Di samping kiriku duduk seorang gadis cantik yang juga berasal dari masa laluku. Ame, gadis yang meninggalkanku di musim panas kehidupanku sebelum ini. Walau sikap dan penampilannya berubah drastis, tapi aku masih bisa merasakan dirinya yang dulu.


"Senpai? Apa boleh kita ke hotel?" Ia menoleh dan memancarkan tatapan dingin disertai pertanyaan mesumnya itu.


"Haaa?!!! Nggak boleh! Ngapain coba ke hotel?!" Aku tetap berusaha fokus mengemudikan mobil ini.


"Umm, penginapan?" Entah apa yang ada di pikiran kotornya itu.


"Hoi! Kita cuma jalan jalan, ga ada nginep nginepan ... jangan ada pertanyaan gitu lagi."

__ADS_1


__ADS_2