Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 119


__ADS_3

Aku dan Takumi menunggu Hanabi dan Ai yang sedang mencoba Yukata yang telah mereka pilih. Mereka berdua memilih warna dasar yang sama, yaitu putih. Aku tak sabar melihat mereka berdua seperti karakter anime yang sering kulihat di televisi. Aku dan Takumi berdiri di depan pintu ruangan ganti yang ada di lantai dua gedung toko ini. Aku yakin memakai Yukata butuh waktu yang lama, Ai dan Hanabi bahkan di bantu para pelayan di toko ini untuk merias mereka.


Bagiku, memakai Yukata adalah hal yang merepotkan. Tapi, jika bagi perempuan itu adalah sebuah sensasi tersendiri. Aku menyandarkan punggungku ke dinding samping pintu ruangan ganti. Aku memasukan kedua tanganku ke dalam saku jaket dan memasang gaya yang sama dengan Takumi yang ada di sisi lain pintu.


"Kaito, apa kamu bawa senjata?" Tanya Takumi tanpa menatapku.


"Hmm, satu pistol," jawabku cuek.


"Entah kenapa perasaanku tak enak malam ini."


"Aku tak ingin hal buruk terjadi pada adik atau calon istrimu."


"Jadi, untuk berjaga jaga, kita mulai susun rencana saat ini."


"Ya, walau aku tak tahu itu akan terjadi atau tidak." Takumi melipat tangannya di depan dada dan menundukan kepalanya.


"Lalu apa rencananya?" Tanyaku.


"Kamu hanya perlu fokus menjaga Ai, biar aku yang jaga adikmu."


"Jangan sampai mereka lepas dari pandangan kita." Jelas Takumi menengadahkan kepalanya.


"Lolicon," ejekku memejamkan kedua mata ku dengan santai.


"Hoi?! Dasar *****, aku lagi serius kamu malah ...,"


Glek~


Sebelum Takumi menyelesaikan kalimat amarahnya padaku. Pintu ruang ganti yang ada di tengah kami terbuka. Dua orang gadis pelayan toko keluar dengan senyum yang menyeringai di wajahnya.


"Kakak kakak, para gadis sudah siap!" Pelayan itu mempersilahkan kami berdua masuk dan sudah kuduga. Aku pasti akan terpaku melihat paras cantik Ai yang mengenakan Yukata warna putih dengan motif bunga itu. Rambutnya yang sudah tertata rapi, jepit rambut dengan hiasan bunga warna warni. Beberapa helai rambut depannya yang menjulur ke bawah. Manik mata yang berkilauan menatapku. Dia juga memakai sepatu hak tinggi yang membuatnya semakin terlihat anggun.


Bagiku, Ai jauh lebih menarik perhatian ku dari pada adikku sendiri. Dan saat aku melirik ke Hanabi yang berdiri di samping si tuli itu. Aku terbelalak karena Hanabi memasang wajah yang tak biasa.

__ADS_1


"Kakak mau kutusuk?" Kata Hanabi dengan sorot mata dinginnya, dia mengacungkan sebilah pisau dengan gagang berwarna kuning.


"Ee ... Hanabi? Kamu sehat kah?" Tanya ku dengan wajah datar.


"Gimana gimana?! Aku udah kaya cewek di anime ye kan?!" Hanabi langsung melempar senyum dan kembali memasukan bilah pisau itu ke dalam sarungnya yang ia genggam di tangan kiri.


"Ta-Takumi?" Aku mengangkat alis lku tinggi tinggi, Takumi menarik ponsel dari saku jaketnya perlahan. Bahkan gerakannya lebih lambat dari kura-kura.


"Hwwoah!!! Hanabi imut banget!" Takumi segera memotret Hanabi dengan kamera ponselnya. Kilatan Flashlight ponselnya beberapa kali terlihat. Reaksi tak terduga yang keluar dari sang iblis saat melihat gadis SMP yang memakai Yukata.


"Ano, Kaito ... apa yang ini cocok untukku?" Tanya Ai dengan rona merah yang keluar di kedua pipinya itu.


"Hmm, cocok." Aku mengangguk santai menanggapi pertanyaan itu.


"Wuu, luar biasa!" Takumi melihat lihat hasil jepretan fotonya di layar ponselnya itu.


"Lolicon," ejekku sembari menyipitkan kedua mataku.


"Buerisik ...," Takumi menjulurkan lidahnya keluar.


"Hua, hoi hoi, Kaito ... apa adikmu boleh aku bawa pulang?" Takumi melingkarkan tangan kirinya di leherku.


"Cih, yang ada besok kamu mati di tanganku ...," ucapku memasang wajah kejam.


"Haha, santai dong kakak tersayang!" Takumi mengacak acak rambutku dengan tangannya.


"Ne, apa kalian merasa ada yang gak beres?" Pertanyaan Ai yang membuat senyuman Takumi lenyap.


"Emang kenapa Ai?" Tanyaku santai.


"Sepi," Satu katanya yang membuat aku dan Takumi terdiam dan mendengarkan suara di sekitar kami baik baik.


"Jadi, itu benar benar datang." Takumi kembali memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket hitamnya itu.

__ADS_1


"Hmm, merepotkan." Gumamku kesal dan menarik pistolku yang kuselipkan di ikat pinggang ku.


"Ka-kakak? Kok bawa pistol?" Hanabi mulai panik dan memeluk tangan Ai erat erat.


"Kaito, kalau begini, siapa yang akan turun ke bawah dan memeriksa keadaan?" Tanya Takumi menundukan kepala dan memejamkan matanya.


"Kurasa kita tak perlu turun ke bawah, lihat itu di depan pintu." Aku melihat dua orang berpakaian serba hitam dan memakai penutup wajah layaknya ninja yang pernah ku lihat di televisi. Mereka berdua berdiri di depan pintu dan bersiap menyerang kami dengan sebilah pedang yabg ada di masing masing tangan mereka.


"Ka-kakak! Si-siapa itu?" Adikku itu pasti sangat panik karena baru pertama kalinya ia melihat hal seperti ini.


"Akan kubuat ruang, kalian cepat lari," bisik Takumi perlahan.


"Pasti akan sulit bagi kami bertiga untuk lolos, kau tau itu kan?" Aku tak yakin bisa membawa Ai dan Hanabi keluar dengan selamat.


"Hmm, dasar lemah, kalau begitu ...," Takumi tersenyum tipis, dan aku tahu apa artinya itu.


Swush!!!


Takumi melesat cepat ke arah dua orang ninja itu. Takumi mengayunkan kaki kanannya dan menyerang ninja sebelah kiri. Tapi sia sia saja, dengan mudah tendangan Takumi itu di tangkis oleh pedang ninja itu. Aku tak diam saja, aku mengacungkan pistolku ke ninja yang ada di sebelah kanan Takumi. Aku menarik pelatuk dengan jari telunjukku dan melesatkan satu peluru tepat ke kepala ninja aneh itu.


"Terimakasih Kaito!" Karena ninja sebelah kanan tadi menangkis peluru dariku, Takumi bisa menendang kepalanya dengan bebas dan membuat ninja itu terpental jauh sampai membentur dinding. Saat melihat satu ninja yang masih berdiri di kiri Takumi itu ingin mengayunkan katananya, aku segera menarik pelatuk senjataku lagi dan membuat dua peluru melesat cepat ke arah ninja itu. Dan yang kami harapkan terjadi, ninja yadi hanya fokus dengan peluru yang kutembakan dan mengabaikan Takumi. Akhirnya sisa ninja yang berdiri itu juga mengikuti jejak temanya yang terantuk dinding sampai tembok itu retak. Setelah selesai dengan mereka Takumi membalikan badan dan berlari belewati kami bertiga.


Duar!!!


Takumi menendang tembok ruangan toko ini dan membuat lubang yang sangat besar. Tanpa basa basi Takumi langsung membopong Hanabi yang mengenakan Yukata itu.


"Kaito, kita kabur aja, gak ada waktu buat ngurusin mereka!" Takumi langsung melompat keluar dari gedung melalui lubang yang barusan ia buat.


"Ai! Ayo!" Sekarang giliranku yang membopong Ai dan melompat keluar dari lantai dua toko pakaian itu.


Tap!


Aku mendarat dengan mulus tanpa terluka sedikit pun. Kami pun segera berlari kembali masuk ke mobil. Aku duduk di samping Takumi, kami meminta para gadis untuk duduk di belakang supaya lebih aman. Takumi pun menancap gas dan mobil kami kembali melaju.

__ADS_1


"Sial! Sebenarnya siapa mereka?" Ujarku kesal sembari mengecek sisa peluru yang ada di pistolku.


"Mereka orang pemerintah, pasti repot kalau urusan sama mereka!" Jelas Takumi dan kami terus menyalip mobil mobil yang ada di depan.


__ADS_2