
Sore ini aku berjalan pulang sendiri ditemani cahaya oranye dari sang surya yang akan segera beristirahat. Hatiku berdebar kencang seiring berjalannya waktu. Malam ini adalah satu satunya malam yang kunanti seumur hidupku.
Aku tak pernah mengharapkan sesuatu terjadi di malam malam yang lalu dalam hidupku. Malam ini aku akan memastikan kebenaran kata kata Yume. Hari ini banyak kebetulan yang mengarahkanku untuk menuju ke sungai yang entah apa namanya itu.
Entah kenapa sore ini aku merasa sangat mengantuk. Mataku terasa berat dan selalu ingin menutup. Aku berusaha bertahan dari rasa kantuk ini dan akhirnya aku sampai di rumah.
"Met dateng kak!!" Hanabi menyambut ku dengan senyumannya setelah aku membuka pintu dan masuk ke rumah.
"Ano ... kakak mau langsung tidur ya? ... ngantuk nih," ucapku lalu langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarku.
Bruk!!!
Aku menjatuhkan tubuhku ke ranjang setelah melepas ranselku. Tubuhku terasa sangat lelah, padahal aku hanya menjalani aktifitas seperti biasa. Mata ku perlahan menutup dengan sendirinya. Dan aku bisa merasakan kesadaranku mulai menurun.
Dan beberapa saat kemudian aku membuka mataku dan sudah berada di ruangan putih yang tak berujung yang sama dengan mimpiku kemarin.
"Kaito? ... apa kau siap?" Suara Yume yang terdengar menggema.
"Ano ... apa benar kejadian malam ini ada di dekat sungai?" Tanyaku sembari menoleh ke segala arah mencari dimana Yume berada.
"Iya ... bersiaplah menghadapi iblis pertama mu!"
__ADS_1
Aku langsung terbangun dari tidurku dan aku bisa melihat kegelapan sudah mengambil alih langit. Aku berdiri dan melangkah ke jendela dan melihat bulan sabit yang bersinar terang.
"Bulan sabit?" Gumamku mengingat naskah novel Ai yang aku baca tadi sore.
Aku pun keluar dari kamar, saat aku hendak melewati ruang makan, aku melihat sepiring roti isi yang ada di atas meja makan. Itu pasti buatan Hanabi, dia pasti menyiapkan roti isi itu karena aku tak makan malam bersamanya hari ini.
"Maaf ... Hanabi," aku memakan roti isi itu dengan rasa penyesalan di hatiku. Hanabi pasti kesepian karena makan malam sendirian.
Beberapa saat kemudian aku langsung melangkah keluar dari rumah dan segera berjalan menuju sungai yang ada di dekat rumah sakit. Aku melangkah sendiri di bawah langit malam penuh bintang yang kelihatan sangat indah dan memberikan ketenangan.
Di malam yang sunyi ini siapa sangka aku akan bertemu dengan iblis. Aku bersiap dengan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi hari ini. Aku mungkin bisa mati, gak mungkin, aku masih punya Hanabi di hidupku.
Suara aliran air yang deras mulai terdengar. Suara pepohonan yang tertiup angin malam ini menambah keteganganku. Aku melangkah sendirian di tengah kegelapan menuju sungai yang sudah lama takku kunjungi.
Aku menghentikan langkahku saat melihat bocah laki laki berdiri menghadap ke aliran sungai. Ia masih memakai seragam SMP nya dan masih membawa tas ranselnya. Untuk apa bocah SMP ke sungai malam malam seperti ini.
Rambut hitamnya yang tertiup angin. Aku bisa melihat tangannya yang mengepal kuat seakan menahan emosinya yang ingin meluap.
"Ano ... kamu ngapain?" Tanyaku sembari bersiap menghadapi hal yang tak terduga.
"Oo ... kakak siapa ya?"
__ADS_1
Bocah itu menoleh dan membuat mata ku terbelalak. Pinggiran bola matanya yang harusnya berwarna putih itu berubah menjadi warna hitam. Bola matanya berwarna merah menyala. Dan anehnya lagi seperti ada retakan yang muncul di wajahnya.
Manusia apa yang wajahnya bisa retak seperti itu?!
"Kenapa kamu sendirian di sini?" Aku memberanikan diri ku untuk bertanya padanya.
"Itu bukan urusan mu kan?" Wajah datarnya itu membuat dirinya semakin terlihat menyeramkan.
Di saat yang sama tangannya yang mengepal itu mengeluarkan api. Jadi dia yang menyebabkan kebakaran hutan kemarin malam. Sedikit demi sedikit lengan panjang seragamnya itu mulai habis terbakar. Api menyelimutinya dari bahu sampai telapak tangannya.
"Apa kakak mau main sama aku?" Tanya nya dengan senyuman lebar.
"Hmm ..."
Aku belum tahu kekuatannya, tapi sepertinya dia bisa menyemburkan api ke arahku. Sekarang aku harus mencari tempat berlindung dulu sebelum bertindak lebih jauh.
Karena sisi kanan dan kiriku adalah pepohonan, sepertinya aku bisa memanfaatkan itu sebagai tempat berlindung.
"Payah!!! ... tak ada tempat untuk kabur dasar manusia!" Suara bocah laki laki itu berubah menjadi suara pria tua yang menyeramkan.
Di saat yang sama kepala bocah itu mulai diselimuti api yang membara. Sepertinya iblis sudah menguasai tubuh bocah itu. Ternyata ini lah yang disebut kutukan dari iblis itu.
__ADS_1