
"Senpai, apa aku boleh menggandengmu?" Pinta si mesum itu.
"Hmm, terserah ...," kataku tanpa menatapnya sama sekali.
Malam ini aku kembali pergi ke pusat kota Natsu untuk membeli Yukata baru. Tentu saja si mesum itu akan ikut pergi bersamaku waktu musim panas nanti. Dasar Takumi, sekarang dia tidak mau mengantarku karena tak ada Hanabi. Sudah kuduga dia memang lolicon sekaligus siscon.
Ramai, bising, ratusan pejalan kaki yang lalu lalang di trotoar kota yang lebar ini. Pikiran ku semakin kacau saat menyadari gadis di samping ku ini adalah reingkarnasi Ame. Ditambah lagi, aku harus membuatnya jatuh cinta padaku sepenuhnya. Kenapa takdir memaksaku untuk mengulang kesalahan yang sama. Aku sama sekali tak bisa menghindar. Jika aku tak melakukannya, nyawa mereka berdua bisa dalam bahaya.
Aaaghh!!! Apa boleh buat!
Kami berjalan di tengah keramaian dan gemerlap lampu gedung pencakar langit. Gadis cantik dengan rambut putih tak sampai sebahu, poni rambut yang menutupi mata kanannya. Bola mata ungu yang memancarkan tatapan dingin. Saika, kenapa harus dia yang terpilih, apa masih belum cukup ia menderita?
"Saika, apa kamu lapar?" Tanyaku sembari membalas genggaman tangannya.
"Emm, engga kok ...," dia hanya menggeleng menanggapi pertanyaanku.
Kruuwwrrrk!!
Sudah kuduga, raungan perutnya itu sudah cukup menjawab semua pertanyaanku. Walaupun wajahnya sama sekali tak berekspresi, dia tak bisa menyembuyikan segalanya dariku.
"Katanya gak laper, dasar ...," aku memukul kepalanya lembut.
"Maaf," Rona merah di kedua pipinya itu membuat wajahnya semakin cantik.
"Mau makan apa?" lanjutku bertanya di tengah langkah kami.
"Emm ... Senpai pengen makan apa?" Dia balik bertanya padaku.
__ADS_1
"Loh? Kok malah balik nanya?" Aku mengangkat alisku tinggi tinggi.
"Udah ngomong aja ...," Saika menggelembungkan pipinya dan menarik lengan jaketku berkali kali.
"Ohh, mungkin roti isi dari minimarket kali ya?" Aku meletakan jari telunjuk di daguku.
"Hee? Senpai seleranya jelek." Ucapnya dengan wajah datar yang membuatku bosan.
"Kenapa? Gak suka? Tadi kamu yang nanya ...," aku menghentikan langkah kami di depan sebuah minimarket.
"Ya udah, aku tunggu di sini aja." Entah kenapa semakin lama aku memandang paras cantiknya itu, aku seakan sedang berada di tengah padang rumput. Dan angin sejuk sedang menerpaku.
"Hmm, yakin kamu mau roti isi?" Lanjutku bertanya hanya untuk memastikan.
"Kalau senpai suka, aku juga suka." Pandangan mata tanpa ekspresi yang sudah kuduga.
"Hmm," aku pun segera masuk ke dalam minimarket di pinggir trotoar ini. Aku mengambil dua bungkus roti isi dan dua botol teh dingin. Setelah mengantre beberapa menit. Aku keluar dari pintu membawa sekantong plastik berisi barang yang barusan ku beli itu. Tepat saat aku keluar, pemandangan tak mengenakan terlihat. Aku melihat tiga orang pria brandal dengan tato di sekujur tubuh mereka. Dan yang membuatku kesal adalah, mereka mengepung Saika dan menggoda si mesum itu.
"Biar kami yang menemanimu saja."
"Hehe," percakapan yang masuk lewat lubang telingaku.
"Ekhem, permisi, dia pacarku." Aku menghampiri mereka dan langsung menggenggam tangan Saika.
"Wooh, kami tak peduli, kami yang pertama kali melihatnya." Ujar salah seorang dari mereka.
"Hmm, kalo gitu, Saika lakukan tugasmu ...," ucapku santai.
__ADS_1
"Baik Senpai!" Saika langsung mengayunkan kakinya ke arah selakangan pria itu.
Buak!!
"Aaaa!!!" Pria itu merasakan rasa sakit yang seribu kali lebih mamatikan dari tusukan pisau.
"Saika! Ayo!!" Kami langsung berlari meninggalkan mereka. Tentu saja kami tak ingin menbuat keributan yang bisa berakibat fatal. Jika tidak, orang orang Shogun pasti kembali mengejar kami berdua. Setelah merasa keadaan kembali normal. Kami duduk di kursi kayu panjang yang disediakan di trotoar kota ini. Di belakang kami ada pohon yang lumayan besar. Tempat yang bagus untuk berisitirahat dan menikmati makanan.
"Kamu gak apa apa kan?" Tanyaku memastikan keadaan si mesum itu.
"Kenapa kita lari?" Ia menatapku dengan sorot mata dinginnya itu.
"*****, apa kamu masih belum puas di kejar sama orang pemerintahan itu?" Aku kesal karena dia masih saja tak paham.
"Ohh," dia hanya mengangguk mendengar penjelasanku.
"Nih, minum dulu ...," aku menberikan sebotol teh dingin dari dalam kantong plastik.
"Makasih senpai ...," Saika menerimanya dan langsung meneguk isi dari botol itu.
Glek glek glek!
Aku ikut meminum bagian ku, rasa haus yang ada di tenggorokanku mulai lenyap. Kami berdua pun memakan roti isi yang baru saja kubeli. Makan bersama di tengah banyak orang yang sedang lalu lalang. Ini adalah pengalaman pertamaku. Baru kali ini aku sedikit menikmati keramaian, suara deru langkah kaki. Klakson mobil yang bertebaran. Dan kendaraan yang lalu lalang di jalan raya.
"Ne? Apa kita sekarang pacaran?" Saika menyandarkan kepalanya di bahu kananku.
"Tu-tunggu?!" Aku lupa menjelaskan kata kataku tadi. Dia pasti berpikir aku serius berkata bahwa dia adalah pacarku.
__ADS_1
"Saika, apa kamu benar benar menyukaiku?" Sekalian saja aku memastikanya sekarang. Aku harus membuat langkah awal yang tepat untuk membuatnya jatuh cinta sepenuhnya padaku.
"Aku ...,"