
Kaito
Tok tok tok!
"Senpai? Apa kamu sehat?"
Suara kecil yang membangunkanku dari alam mimpi. Aku tersadar dan mengusap mataku lalu merenung sejenak. Aroma pewangi ruangan, dan udara yang keluar dari pendingin udara. Aku duduk di kursi pengemudi mobil yang kupinjam dari DH. Setelah membersihkan badan, mengganti pakaian, dan beristirahat sejenak di rumah Ai. Aku segera menjemput Saika di rumah markas tim Fumio. Aku tak memakai Yukata, aku hanya mengenakan jaket hitam dan celana panjang hitamku. Sepatu olahraga warna merahku yang jarang kupakai pun berguna malam ini.
Aku memarkirkan mobil yang ku kendarai ini di pinggir jalan depan gerbang rumah tim Fumio. Rasa lelah ditambah kantuk ini memaksaku untuk tertidur di dalam mobil sembari menunggu Saika mempersiapkan dirinya untuk pergi ke festival musim panas bersamaku. Aku menoleh ke kanan dan melihat gadis cantik di luar kaca jendela mobil ini.
Gadis rambut putih tak sampai sebahu, mata ungu yang berbinar dan poni rambut yang masih saja menutupi mata kanannya itu. Ia memakai Yukata hitam lengkap fengan aksesorisnya. Ku akui, malam ini dia terlihat sangat cantik. Aku membuka pintu lalu langsung keluar dari mobil.
"Huaawm ... apa kau sudah siap?" Tanyaku setelah menguap.
"Senpai? Kalo cape mending ga jadi aja deh." Ucap si mesum dengan wajah datarnya itu.
"He? Engga kok, ayo masuk?" Aku membukakan pintu belakang mobilku.
"Bodo, Senpai bodo!" Umpatnya dengan kedua pipinya yang menggelembung.
"He?! Ke-kenapa?" Aku bingung kenapa dia tiba tiba begitu.
"Aku mau duduk di sampingmu." Saika sedikit menundukan kepala dengan rona merah yang memancar di kedua sisi pipinya itu
"Ohh, maaf." Aku kembali menutup pintu belakang mobil dan memimpin langkah Saika ke pintu depan sebelah kiri. Aku pun mebukakan pintu dan mempersilahkan adik kelas mesumku itu masuk ke dalam. Yukata hitamnya itu selalu menarik perhatianku. Dia tampak sangat berbeda dengan penampilannya sehari hari. Tentu saja, pakaian itu hanya dipakai di hari seperti ini.
"Udah?" Setelah memastikan ia sudah duduk nyaman di dalam aku menutup pintunya perlahan. Aku segera memutar dan kembali masuk ke dalam mobil lalu duduk di kursi pengemudi.
"Senpai? Apa aku cantik?" Pertanyaannya yang membuatku terdiam sejenak setelah menutup pintu.
__ADS_1
"Hmm," aku hanya diam dan mendekatkan wajahku padanya.
"Se-senpai?" Wajahnya sangat memerah dan aku sudah menduga reaksinya ini. Padahal aku hanya ingin meraih sabuk pengamannya dan memasankan sabuk itu untuknya.
" ... " Aku hanya terdiam dan memasang sabuk pengamanku. Aku segera melajukan mobil ini untuk menuju ke pusat kota Natsu. Sama sekali tak terdengar suara selain mesin mobil dan suara dari luar mobil ini. Saika pasti menunggu jawabanku dari pertanyaannya itu.
"Senpai ...,"
"Saika ...,"
Kami saling memanggil di saat yang sama. Dan kami juga saling menatap selama beberapa detik. Aku langsung memalingkan pandanganku lagi ke depan untuk menghindari momen canggung ini.
"Ehmm, kamu duluan ...," ucapku fokus ke depan.
"Senpai, apa aku ...," Saika menghentikan kalimatnya tepat saat aku menghentikan laju mobil ini di belakang garis marka lampu lalu lintas. Kami sampai di pertigaan jalan dan berhenti karena sinyal merah dari lampu lalu lintas itu. Aku mengaktifkan lampu sen mobil tanda aku akan berbelok ke kanan. Berbagai jenis kendaraan yang lalu lalang di jalan raya itu menambah gemerlapnya malam ini.
"Apa aku cantik?" Lagi lagi pertanyaan itu keluar dari mulutnya dan membuatku membisu.
"Emm ...,"
Beeepp beeep!!!
Suara klakson mobil yang ada di belakang membuatku kembali mengurunkan niatanku untuk menjawab pertanyaan itu. Ternyata lampu sudah berubah jadi hijau dan aku pun kembali melajukan mobil ini. Setelah belok ke kanan kami sekarang berada di jalan raya yang langsung menuju ke pusat kota Natsu. Kami tinggal lurus beberapa kilometer saja.
"Saika? Jangan jangan kamu masih liat web aneh itu?" Tanyaku curiga tanpa menatapnya sama sekali.
"Hmm? Eh?! Engga?! Gimana?!" Dia yang hendak merogoh tas tangan di pangkuannya itu tiba tiba panik. Tentu saja, dia masih melihat tutorial cara berkencan. Aku sudah tak terkejut lagi.
"Sudah kubilang kan? Jadilah dirimu sendiri, tanyakan apa yang ingin kamu tanya."
__ADS_1
"Ungkapkan yang ingin kamu ungkapkan."
"Dan lakukan apa yang kamu ingin lakukan." Lagi lagi aku harus menasehati adik kelas polosku itu.
"Kalo gitu, Senpai harus jawab pertanyaanku tadi!" Saika menggelembungkan pipinya dan ia mendekatkan wajahnya padaku. Aku yang sedang fokus mengemudi ini pun terpaksa sedikit menggeser kepalaku kekanan sampai hampir terantuk kaca jendela.
"Oi oi! Iya iya," aku menjauhkan mukanya itu dengan tangan kiriku. Aku menghela nafasku sejenak karena menyesal menasehatinya tadi.
"Hummp!" Saika memalingkan wajahnya ke kaca jendela di sisi kirinya itu.
Hufff ... kenapa dia yang ngambek coba?!
"Saika ...," Setelah aku memanggilnya tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua. Selama beberapa menit kami hanya menikmati pemandangan dalam perjalanan ini. Dan akhirnya kami memasuki wilayah kota Natsu, keramaian mendadak meningkat pesat. Kendaraan berbaris berderet deret dan melaju dengan kecepatan sangat rendah. Ya, kemacetan, aku lupa soal ini.
Kenapa aku ga pesen helikopter aja tade?!
Mobil yang kukendarai ini pun ikut dalam barisan panjang kendaraan yang mengantre untuk memasuki daerah lapangan Natsu. Tempat itu selalu ramai pengunjung saat festival musim panas seperti ini. Jalanan kota sudah sangat padat dengan berbagai macam kendaraan. Mereka berbaris rapi memenuhi jalan yang ada di tengah tengah kota ini. Gemerlap lampu gedung pencakar langit dan orang orang yang lalu lalang di trotoar jalan.
"Sempet ga ya?" Gumamku menempelkan dahiku ke roda kemudi.
"Senpai, jalan kaki aja yuk!" Saran Saika yang sama sekali tak bisa diterima. Dia menggenggam tangan kiriku dan menatapku dengan tatapannya yang khas itu.
"Kamu pake begituan loh, kalo jalan, kakimu pasti lecet lecet ga karuan." Aku menunjuk ke arah geta yang ia pakai sebagai alas kakinya itu.
-(Geta adalah alas kaki tradisional Jepang yang dibuat dari kayu. Pada bagian alas terdapat tiga buah lubang untuk memasukkan tali berlapis kain yang disebut hanao. Dua buah hak yang disebut ha terdapat di bagian bawah alas. Geta dipakai di luar ruangan sewaktu mengenakan yukata atau kimono yang bukan kimono formal.)-
"Tapi kata Senpai, aku harus melakukan apa yang ingin aku lakukan." Dia mengatakan itu dengan wajah tak berdosa.
"Haaa?! Tapi bukan berarti kamu bisa melakukan segalanya loh!" Sampai kapan aku terus terpancing emosi saat berbicara dengan gadis mesum polos yang suka kucing itu.
__ADS_1