
Takumi
Kegelapan yang mengambil alih langit. Pohon pohon besar yang ada di sekelilingku. Daun daun yang terjun perlahan lahan dari dahannya. Rumput tipis yang ku injak dengan sepatu olahraga warna putihku. Angin musim semi yang berhembus ke sana kemari. Aku merasakan hadirat Akame yang payah itu di sekitar sini.
Setelah sampai di kota Natsu, aku memutuskan untuk pergi ke hutan Hagume ini untuk menghibur diriku setelah perjalanan panjang. Sudah lama juga aku tak melatih kedua kakiku ini. Aku akan memburu para Akame untuk pemanasan sebelum membunuh Tenshi yang ada di sini.
Aku melangkah perlahan menuju ke tengah hutan ini. Udara dingin, suara hewan hewan liar. Ranting pohon yang tak sengajaku injak. Pohon pohon besar yang menjulang tinggi dan seakan menutupi cahaya sang rembulan.
"Wah ... ada yang seperti ini juga di sini," gumamku saat melihat kabut tebal yang tak jauh di depanku.
Aku terus melangkah sampai pepohonan di sekelilingku berkurang. Aku sudah tak berada di dalam hutan lagi sekarang, sepertinya di tengah hutan Hagume ini ada semacam tanah lapang. Aku tidak bisa melihat sekeliling dengan jelas karena kabut yang menyelimutiku ini.
Yang pasti di sini sudah tak ada pepohonan yang bisa mengganggu pertarunganku. Ini adalah tempat yang sempurna untuk dijadikan panggung pertunjukan. Kabut tebal ini namanya adalah Dead Mist. Ini adalah tempat di mana Akame akan terus bermunculan tiada habisnya.
Dead Mist ini selalu dihindari oleh para Tenshi yang lemah. Tapi tidak denganku, aku malah mendatanginya dan menjadikan kabut kematian ini sebagai tempat latihanku. Selama aku ada di dalam kabut ini, ratusan, bahkan jutaan Akame akan terus bermunculan dan menyerangku.
Dead Mist akan menghilang beberapa jam setelah kemunculannya. Sepertinya yang ini baru saja muncul. Dan aku akan memulai pemanasanku di sini. Aku sudah bisa melihat beberapa mata Akame yang bersinar mengelilingiku.
"Hehe kalian menungguku ya?", aku terkekeh dan melihat jam tanganku yang tersembunyi di balik lengan panjang jaket hitamku.
"Rekor ku minggu lalu adalah ... lima ratus ... mungkin aku akan memecahkannya malam ini," aku mengaktifkan timer di jam tangan digital milikku.
Hitungan pun di mulai. Aku melesat ke arah mereka dan memenggal kepala mereka satu per satu dengan tendangan kaki kanan ku.
__ADS_1
Lompat ... tendang ... injak ...
Sepuluh detik berlalu, aku sudah berhasil memenggal sepuluh kepala Akame. Waktu terus berjalan. Kedua kaki ku tak berhenti berayun. Aku melompat dan mengayunkan kakiku untuk memenggal kepala mereka.
Dua puluh detik berlalu, darah hitam mereka mulai membekas di celana panjangku. Untung aku memakai celana panjang warna hitam. Aku bisa kelelahan mencuci celanaku karena mereka. Aku berhasil memenggal sembilan belas kepala Akame. Satu dari tendangan ku meleset dan malah hanya menghancurkan kaki salah satu dari mereka.
Swush!!! Braak!!
Lompatan, tendangan, menghindar, dan melihat sekeliling. Jumlah mereka semakin bertambah seiring berjalanya waktu. Rekorku minggu lalu sepertinya akan ku pecahkan di sini. Mata merah bersinar di tengah tebalnya kabut, benda di dada mereka yang bersinar seperti api.
Bunuh, hancurkan, musnahkan, buat mereka menyesal telah ada di dunia ini. Lima puluh satu detik berlalu. Aku sudah melepas lima puluh kepala dari tubuh Akame. Aku sudah merasa mulai panas. Hasrat membunuh ku sudah kembali.
"Hahahahahahaha!!!"
Menyenangkan! rasa ini sudah lama tak kurasakan. Melompat, menginjak kepala mereka sampai remuk. Melompat, menebas leher mereka menggunakan kaki ku sampai kepalanya terlempar.
"Mati kalian semua!!!"
Hana, adikku tersayang. Kakak sudah berjuang untuk menjadi lebih kuat. Semoga kekuatan kakak ini sudah cukup untuk membuatmu tersenyum di sana.
"Apa belum cukup?" Aku mengusap darah Akame yang ada di pipi kananku.
"Hana!!! ... jawablah aku!!!"
__ADS_1
Waktu terus berlalu, detik yang ke lima ratus. Aku berhasil memenggal empat ratus sembilan puluh sembilan kepala setan sialan itu. Di saat yang sama kabut mulai menghilang dan beberapa Akame yang tersisa bisa terlihat jelas.
"Huff ... ternyata masih belum bisa ...," aku mematikan timer jam tanganku dengan kesal.
Aku masih belum cukup kuat. Masih belum, aku butuh lawan yang jauh lebih kuat dari pada setan terkutuk tanpa otak itu.
"Cih ..."
Swush!!! Jrak!!! Crat!!
Aku menghabisi beberapa Akame yang tersisa. Aku menginjak kepala Akame terakhir hingga hancur dan memuncratkan darah hitamnya itu ke segala arah. Perlahan tapi pasti tubuh Akame itu kembali mencair dan menyatu dengan tanah.
Aku kembali memasukan tangan kiriku ke saku jaketku. Sampai sekarang, belum ada lawan yang bisa ku lawan dengan kekuatan penuhku. Aku belum menemui lawan yang layak untuk menerima pukulan dari kedua tanganku ini.
Angin di malam musim semi ini kembali menerpaku. Aku memandang ke langit dan melihat indahnya bulan yang ditemani jutaan bintang itu.
"Kak kak!! ... lihat ... bintangnya indah ya?"
Suara adik perempuanku yang selalu terngiang di kepalaku di saat saat seperti ini. Akiba Hana, nama adik perempuanku. Aku tak ingin mengingatnya lagi, tak akan pernah.
Tapi sayangnya aku tak bisa. Kata kata terakhirnya itu selalu ku ingat. Dia meminta ku untuk menjadi lebih kuat. Dan dia bahkan memintaku untuk menyelamatkan dunia.
"Aku hidup ... aku bernafas ... aku bergerak ... aku kuat ... tapi aku tak punya kebahagiaan ..."
__ADS_1
Tanah lapang yang tadinya hijau dan indah. Sekarang berubah menjadi hitam dan berbau aneh. Lagi lagi aku membunuh ratusan Akame, tapi tetap saja aku tak bisa bertambah kuat.