
Takumi
"Bersiap terjun dalam tiga menit!" Suara kapten pilot yang mengendalikan helikopter yang aku tumpangi ini.
Suara berisik mesin baling baling yang berputar sangat cepat. Kami terbang di atas awan dan menyeberangi hutan dengan sangat cepat. Aku berdiri di samping pintu helikopter yang terbuka lebar ini. Malam ini aku ditugaskan tim Demon Hunter untuk membunuh Detroit yang mengincar Saika dan Kaito. Aku dengar malam ini Detroit itu sudah mulai beraksi dengan ledakan besar di puncak Okiyama.
Malam ini Kaito sudah mengalami Lock dan pastinya dia tak akan bisa bertarung dengan seluruh kemampuannya. Ren ada di belakangku dan sedang duduk di kursi penumpang. Kalau bukan karenanya, aku tak akan menjalankan misi malam ini. Dan juga, bila Kaito mati malam ini, aku tak akan bisa membunuhnya dengan tangan ku sendiri. Artinya aku tidak bisa menjadi lebih kuat dari diriku yang sekarang ini.
"Takumi, tolong selamatkan Saika dan Kaito ya ...," pinta Ren dengan senyumannya yang membuat hati iblisku ini berasa sedang berada di surga.
"Hmm," aku hanya mengangguk santai sembari melihat pemandangan dari atas langit ini.
"Malam ini, yang akan aku hadapi adalah Detroit kelas S kan?" Aku memasukan kedua tanganku kedalam saku jaket hitamku ini dan melirik ke pada Ren.
"Apa kamu takut sayang?" Ren membuat pipiku memerah karena panggilannya barusan.
"Ma-mana mungkin?!" Aku memalingkan pandanganku lagi.
"Haha, baru kali ini aku lihat Tenshi terkuat tersipu malu," ujarnya dengan tawa imutnya itu.
"Cih, bodo amat lah?!" Kau mulai kesal karena Ren selalu menggodaku belakangan ini.
"Takumi, apa kamu mau ke rumah Kaito besok?" Tanya Ren.
__ADS_1
"Untuk apa?" Aku mengernyit heran.
"Bukanya kamu mau ketemu Hanabi? Katanya dia mirip sama Hana kan?" Ren memiringkan kepalanya dan membuat wajahnya itu semakin terlihat cantik malam ini.
"Ohh, iya," aku menikmati malam penuh bintang yang indah ini.
"Dasar, dari dulu kamu ini memang siscon ya?" Ren kembali membuat pipiku memerah karena dia terus menggodaku.
"Ren, mau ku pukul kah?" Aku memasang wajah datarku.
"Hihihi, iya iya, hati hati sayang!" Senyuman penyemangat yang sangatku butuhkan sebelum pertarungan malam ini dimulai.
"Takumi-sama! Kita sudah memasuki zona penerjunan!" Seru kapten dari cockpit helikopter ini.
"Haa, terima kasih tumpangannya!" Aku langsung melompat keluar dari helikopter dan terjun dari ketinggian ribuan meter di atas awan putih yang beterbangan.
Gadis rambut putih dan Zirah hitam itu pasti Saika, aku bisa langsung mengenalinya karena perisai yang melekat di lengan kanannya itu. Laki laki yang kepalanya di ikat perban untuk menutupi mata kirinya itu pasti Kaito. Dia berdiri membawa Katana legendaris yang baru saja dihadiahkan padanya. Di seberang mereka ada seorang laki laki yang pastinya dia adalah Detroit rank S yang di ceritakan Ren itu.
Sebelum aku menghantam tanah, aku meledakan aura kegelapanku dan membuatku mendarat dengan mulus. Aku berdiri dengan santai di depan sepasang Tenshi yang sedang kualahan itu. Setelah debu hasil ledakan aura gelap ku menghilang, Kaito terbelalak karena melihatku sudah berada di depannya.
"Takumi Sensei, kenapa anda ada di sini?" Tanya Saika dengan tatapan dinginnya yang biasa dia pancarkan itu.
"Hmm, sudah jelas untuk menyelamatkan murid tunanganku." Aku membersihkan debu yang menempel di jaketku ini.
__ADS_1
"Dan juga, menyelamatkan kakak yang sok kuat untuk melindungi adiknya itu." Lanjutku seraya kembali memasukan kedua tanganku kedalam saku jaket.
"Kaito, selamatkan Saika, biar aku yang mengurus kaleng sampah itu." Aku memejamkan mataku dan menghirup udara segar di sini.
"Takumi, apa ...,"
"Tak perlu banyak tanya, aku tak akan membiarkanmu mati di tangan orang lain." Dia pasti bingung kenapa aku memintanya lari sedangkan aku sendiri punya niat untuk membunuhnya.
"Ayo Saika!" Kaito menggandeng Saika dan mereka pun berlari meninggalkan tempat pertarungan ini.
Keadaan menjadi sangat sunyi. Aku sekarang berdiri di hadapan laki laki kepala robot dengan mata yang bersinar terang. Lagi lagi aku menghadapi kaleng mainan murahan dari Enjeruhanta. Aku harap kaleng itu bisa menghiburku walau sebentar saja. Mereka tidak lebih dari bahan untuk latihanku sama seperti Akame busuk yang berkeliaran di jalanan. Aku mengangkat alisku tinggi tinggi karena melihat Detroit itu memakai setelan jas mahal pakaiannya saja lebih mahal dariku.
"Hoi? Berapa gajimu per hari kaleng?" Aku maju selangkah dan tersenyum tipis padanya.
"Anda tidak perlu tau," nada kaku dan gaya bahasa khas mesin yang keluar itu membuat ku kesal.
"Ohh gitu kah?" Aku menundukkan kepalaku dan memejamkan mata.
"Sebaiknya anda minggir atau anda akan hangus." Ucap si kaleng itu membuka mulutnya lebar lebar.
"Hmm?" Aku menernyit heran kenapa si kaleng itu membuka mulutnya.
Swush!!! Daarr!!!
__ADS_1
Kaleng itu mengumpulkan energi laser di dalam mulutnya dan menembakanya tepat ke kepalaku. Tentu saja aku tidak tergores sedikit pun karena serangan dari mainan murahan itu. Aku mempunyai aura kegelapan yang siap melindungiku dari serangan apa pun. Peluru atau serangan apa pun tak akan mempan untukku. Kemampuanku ini sudah terbilang sangat tinggi hingga aku di berikan peringkat SSS oleh Enjeruhanta. Dan semakin banyak aku membunuh Tenshi, maka aku akan jauh lebih kuat.
Tapi, jangan harap hatiku masih seperti manusia suatu saat nanti ...