
"Kaito? Bangun, udah pagi nih ...," suara lembut itu membuatku terbangun dari alam mimpiku.
"Hmm," aku membuka mata ku perlahan dan melihat langit langit kamarku sejenak. Sesaat setelah pandanganku menjernih, aku bangkit dan duduk di ranjang ku. Aku menoleh ke kanan dan melihat Ai sedang duduk di pinggiran kasurku. Ia memakai kaos putih dan celana pendek warna ungu yang biasa ia kenakan.
Aroma parfumnya itu bisa kucium dengan jelas. Ia menatapku dengan bola mata ungunya yang berbinar itu. Entah kenapa aku merasa sangat rindu dengannya, padahal setiap hari aku bertatap muka dengan si tuli ini. Dan suasana ini, aku tak lagi gugup saat menyadari hanya ada kami berdua di dalam kamar. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan semua yang terjadi sekarang ini.
"Kaito, gimana misi mu semalam?" Tanya Ai meletakan jari telunjuknya di dagu.
"Hmm, lancar kok ...," jawabku lirih sembari mengumpulkan sisa nyawaku yang masih beterbangan.
"Nee, jadi sekarang aku dan Saika harus jatuh cinta padamu?" Pertanyaan yang membuat pipiku langsung memerah.
"Bu-bukan berarti aku menginginkannya loh ...," aku sengaja tak menatapnya untuk menyembunyikan wajahku yang memerah ini. Sebelum aku pergi ke pusat kota bersama Saika kemarin. Aku menjelaskan semuanya yang kuketahui kepada Ai. Terutama tentang Fate Stone yang ada di dalam diri mereka berdua. Untung saja Ai langsung paham dan mengerti keadaan yang semakin rumit ini.
"Jadi, apa sekarang aku boleh jatuh cinta padamu?" Ai menarik lengan kaosku berkali kali dan mendekatkan wajahnya padaku.
"Hmm," aku mengangguk perlahan dan terus berusaha mengalihkan perhatian ku darinya.
"Pulang sekolah, apa kamu mau mulai nulis novel untukku?" Takku sangka dia masing mengingat janjiku yang itu. Sial, aku terjebak karena janjiku sendiri kali ini. Ya sudahlah, aku akan bilang iya untuk kali ini.
"Hmm," aku kembali mengangguk dan menatap ke jendela kamarku untuk menghindari tatapannya yang mematikan itu.
"Neee, kenapa kamu gak mau liatin aku sih?! Kamu lebih suka sama Saika ya?" Ucapannya itu langsung membuatku menoleh kepadanya.
"Oohh, gitu, jadi kamu lebih suka sama yang putih mulus dan dadanya besar ...," ujar Ai yang membuatku sedikit kesal.
"Ai ... apa aku harus begini?" Aku menarik tangannya dan membuat wajahnya kembali mendekat kepadaku. Aku mengecup bibir merah merona yang sangat lembut itu. Tak kusangka pagi ini aku sudah mencium gadis yang sangat aku cintai ini. Pikiranlu sudah terlalu kacau untuk merasa gugup. Mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk menunjukan diriku yang lain.
"Apa itu cukup?" Tanyaku setelah mengecup bibirnya itu.
__ADS_1
"Ka-Kaito?" Wajahnya memerah, sangat memerah, dia pasti terkejut dan syok setelah menerima perlakuanku yang pastinya diluar dugaannya.
"Jangan pernah berpikir yang aneh aneh ...," ucapku tanpa menatap mukanya lagi. Sebenarnya aku juga gugup dan malu setelah menciumnya tadi.
"Ya udah, aku mau mandi," Aku menapakan kakiku ke atas lantai dan bangkit berdiri dari ranjangku.
"Kaito!" Pekik Ai yang menghentikan langkahku di depan pintu kamar mandi.
"Apa?" Aku sama sekali tak menatapnya.
"Makasih ...," satu kata darinya.
"Untuk apa?" Aku menengok dan mengangkat alis ku tinggi tinggi.
"Untuk membiarkanku jatuh cinta padamu ...," kata katanya itu, hampir mirip dengan kata kata Saika kemarin. Kakak adik yang mencintai satu orang yang sama, cinta segi tiga yang tak terhindarkan. Takdir kembali mempertemukan kami bertiga di sini, dan dia pasti akan mengambil salah satu dari kami lagi.
Berjuanglah agar hatiku tetap menjadi milik mu seutuhnya. Sekarang aku harus dihadapkan dengan pilihan tersulit yang pernah ada di dalam hidupku. Si mesum dingin, atau si tuli. Ame, atau Ai. Sampai sekarang aku masih berada di titik tengah, aku masih belum mengerti siapa yang layak untuk hidup sedikit lebih lama di dunia ini.
Siapa?! Siapa?! Seandainya saja aku bisa bertukar nyawa. Lebih baik aku saja yang mati.
"Cih ... udahlah ... bodo amat ...," gumam ku sembari melepas pakaianku. Beberapa menit aku habiskan untuk membasuh badanku dan mengusir lelah yang masih menempel. Setelah selesai dengan urusan di kamar mandi, aku segera memakai seragamku dengan rapi, kemeja putih dan celana panjang warna hitam. Tak lupa aku memakai Gakuran atau jas hitam dengan kancing warna kuning itu untuk menutupi kemeja putihku.
"Kak!!! Sarapan siap!!" Teriakan Hanabi yang terdengar sampai ke dalam kamarku.
"Ya, tunggu bentar!" Jawabku sembari memasukan ponsel ke dalam saku celanaku. Aku pun keluar dari kamar dan menuruni tangga untuk bertemu dengan adik perempuan ku di ruang makan.
"Pagi Kaito!"
"Pagi Kak!" Sapa Ai dan Hanabi serentak dan melempar senyum manis mereka pada ku. Hanabi yang memakai seragam SMP nya itu sudah duduk di seberang Ai yang juga sudah siap dengan seragam SMA-nya.
__ADS_1
Drrrrtt!!! Drrrrttt!!!
Ponsel di dalam saku celanaku bergetar dan menghentikan gerakanku. Aku merogoh saku celana untuk mengambil ponselku itu. Aku ingin tahu siapa yang menghubungi ku pagi pagi seperti ini. Ohh, Fumio, pasti ada sesuatu yang mendadak dan pastinya darurat.
"Ada apa Mio-chan?" Aku mengangkat teleponya dan berbicara pada ketua timku itu santai.
"Cih, kenapa kamu jadi ikut ikut Kakume seh?!" Fumio kedengaranya kesal karena aku memanggilnya Mio-chan.
"Yang, penting Mina temanmu itu dalam bahaya!" Kata katanya yang langsung membuat tatapan tajam terpancar di kedua mataku.
"Kenapa? Dan dimana dia sekarang?" Tanya ku seraya mengambil Kensetsu yang tergeletak di atas meja belajarku.
"Tiga orang Ninja dari Shogun sedang menuju ke rumahnya, cepat! Sebelum terjadi sesuatu yang buruk!" Jelas Fumio dengan nada tegasnya itu.
"Hmm, aku hanya akan memakai Kensetsu-ku saja ...," aku menyelipkan sarung Katana ku ini di ikat pinggang sebelah kiriku.
"Konfirmasi, ijin diberikan!" Kata kata terakhir Fumio sebelum ia memutus sambungan teleponya.
"Ano, aku harus menyelamatkan Mina dulu ... maaf aku tak bisa sarapan ... Ai, langsung saja ke sekolah dan tunggu aku di sana!" Aku langsung berlari keluar dari rumah.
Cih ... aku harus cepat!
"Kamui-sama ... pinjamkan aku kekuatan impianmu!" Ujarku setelah memejamkan mata dan menarik nafas dalam dalam.
"Aaayoo!!!" Aku melompat sangat tinggi sampai aku mendarat di atas atap rumahku. Aku merasa tubuhku sangat ringan. Bahkan seperti selembar daun saja. Aku berlari dan melompat dari satu atap rumah ke rumah yang lain. Dengan begini aku pasti sempat sampai ke rumah Mina.
Satu, dua, tiga, dan empat. Aku terus melompat dan berlari dari atas rumah rumah yang berjejer rapi ini. Sesaat kemudian aku bisa melihat tiga orang Ninja juga melakukan hal yang sama denganku. Mereka juga melompat dari atap ke atap rumah. Dan sialnya, mereka sudah sampai di atas rumah Mina.
"Cih, bikin repot aja mereka!"
__ADS_1