Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 202


__ADS_3

"Kau pikir semudah itu mengalahkanku?" Suara Yuuta yang tiba tiba sudah ada di belakangku.


Bruak!!!


Dia menendang punggungku sampai aku tersungkur ke tanah. Tak sampai di sini, ia masih melanjutkan aksinya. Menusuk kedua telapak tanganku dengan pedangnya. Dengan ini tanganku seperti dipaku ke bumi, aku tak bisa berbuat apa apa lagi.


Rasa sakitnya, penderitaannya, sensasi saat tubuhmu terluka. Aku sudah muak merasakannya. Masa lalu membuatku tak lagi bisa merasakan rasa itu. Demi adikku, aku sudah mengorbankan segalanya. Walau itu tak ada hasilnya, sampai kapan aku selemah ini. Bahkan setelah aku bangkit dari mati, aku tak bisa memperbaiki kenyataan.


"Senpai!!!"


Jrak!!!


Aku mendengar suara perempuan yang tak asing. Percuma, Yuuta berhasil memotong leherku. Kesadaranku mulai hilang. Tidak, sudah hilang. Rasa sakit luar biasa yang tak bisa di jelaskan oleh kata kata. Sensasi berada di ambang kematian, dingin, perlahan semuanya menghitam. Dingin, semakin dingin, semakin sunyi, damai.


Sudah berjuta juta kali aku merasakan pengalaman ini. Tenang saja, aku belum berakhir. Aku adalah penyihir es abadi, reingkarnasi dewa keabadian yang memperoleh kekuatannya kembali.


"Kakak?"


Suara kecil seperti nyamuk itu selalu kudengar di saat seperti ini. Minami, adik, bukan, gadis yang sangat kucintai. Bukan sebagai saudara, tapi sebagai wanita seutuhnya. Hangat, aku mulai merasakanya, angin musim semi yang berhembus kesana kemari.


"Oi! Kakak mati lagi kah?" Tanya Minami mendekatkan wajahnya padaku tepat setelah aku membuka kelopak mataku.


"Min-chan, maaf, aku selemah ini." Aku memalingkan pandanganku darinya dan menikmati pemandangan indah pohon Sakura yang berbaris rapi itu. Kami berdua sedang duduk di kursi taman menghadap ke jalan setapak. Dan di pinggir jalan banyak pohon Sakura berbaris layaknya lampu penerang di jalan raya.


"Bodo!" Umpatnya sembari memukul kepalaku menggunakan tangan lembutnya itu.


"Ano ... apa kakak mau ninggalin Saika gitu aja?" Pertannyaan Minami yang membuatku kembali menengok padanya.


"Ha?!"


"Payah! Dasar ga peka, Saika di sana berjuang untukmu, tapi kamu malah di sini sama gadis lain." Ujar Minami mengalihkan pandangannya dariku.


Jadi suara perempuan yang kudengar sebelum mati tadi adalah Saika. Cih, seperti biasa dia keras kepala. Dia selalu saja memaksakan diri, selalu mendengarkan kata hati tanpa mempedulikan kenyataan.


"Hmm, ya sudah, sampai nanti Minami." Aku berdiri lalu mengusap kepalanya lagi untuk yang kedua kalinya.


"Nah, gitu dong, kakakku tersayang!" Senyuman indahnya itu selalu menenangkan hatiku.

__ADS_1


Aku memejamkan mata dan merasakan pintu gerbang kehidupan kembali terbuka. Rasa sakit di sekujur tubuhku, kabut tebal yang menyelimuti. Suara dua besi yang beradu. Percikan api yang tercipta karenanya. Aku kembali berdiri setelah kepalaku dipenggal oleh Yuuta. Dengan tubuh yang utuh tanpa lecet sedikit pun, aku kembali bangkit dari kematian. Dan tak hanya itu, Saika benar benar ada di depanku dan bertarung melawan Yuuta.


"Saika! Mundur!" Perintahku dengan teriakan kencang.


"Baik!" Saika melompat mundur dan berdiri di sisi kananku.


"Apa?! Bu-bukanya kau?!" Yuuta hanya bisa melihatku dengan kebingungan yang tak terbatas.


"Apa Senpai ga apa apa?" Tanya Saika dengan nafasnya yang tak beraturan itu.


"Ya, seperti yang kamu lihat," aku menepuk pundaknya lalu memanggil tombak suciku lagi.


"Saika, kita serang bersama!" Aku menggenggam gagang tombakku kuat kuat.


"Baik Senpai!" Saika kembali melesat maju menghantam Yuuta dengan tamengnya itu.


Walau Yuta berhasil menangkis serangan Saika, dia tetap terlempar sedikit kebelakang. Dan saat inilah kesempatanku untuk menyerang. Secepat cahaya aku sudah berada di belakang punggung Yuuta. Sekuat tenaga aku mengayunkan tombakku padanya. Tapi tetap saja ia sempat berbalik dan menahan seranganku dengan satu pedang di tangan kirinya itu.


"Haaaaaaaa!!!!" Teriakan lantang Saika yang sudah siap mengayunkan perisainya.


"Kalian pikir bisa mengalahkanku di keadaan seperti ini?!" Suara Yuuta yang menggema di dalam kabut ini.


Cih, aku terjebak dengan kabutku sendiri. Ternyata Yuuta adalah petarung kelas Assassin, terlihat dari gaya bertarungnya. Tentu tempat seperti ini adalah sarang baginya, tempat yang sangat menguntungkan baginya.


"Senpai! Hati hati!" Saika berdiri di depanku dan siap melindungiku dari hantaman serangan.


"Cahaya dari surga, bantu Saika meringankan bebannya!" Aku merapalkan mantra dan di saat yang sama tameng baja Saika bersinar terang.


"Woah?! Perisaiku jadi ringan Senpai!" Kata Saika diiringi senyuman manis yang terpancar di wajah cantiknya itu.


"Hmm, fokuslah Saika!" Aku menghentakan tombakku ke tanah dan kabut di sekitar kami berdua pun menjauh. Dengan ini radius sepuluh meter dari tempatku berdiri bebas dari kabut.


"Jangan anggap remeh kekuatanku ...,"


Trank!!!


Setelah bisikan suara Yuuta, tiba tiba ada sesuatu yang menyerang Saika hingga pertahanan perisainya itu terbongkar. Bahkan setelah kuperkuat dengan sihir, pertahanan terkuat Saika sampai bisa ditembus. Saat Saika lengah sebuah bayangan keluar dari kabut dan melewati tubuh Saika. Bukan hanya melewati, bayangan itu seperti menghantam Saika.

__ADS_1


Bukan hanya sekali atau dua kali, bayangan itu terus berdatangan dan menghantam Saika tanpa ampun. Bahu Saika sampai penuh dengan luka lecet. Begitu juga dengan pahanya. Dan karena kuatnya hantaman bayangan berbentuk manusia itu. Darah merah segar sampai keluar dari mulut Saika.


"Lemah! Kalian tidak pantas melawanku!" Suara Yuuta yang menggema dari dalam kabut.


Lemah, payah, tak berguna, tidak bisa berbuat apa apa, itulah diriku. Lagi lagi aku hanya diam dan melihat orang yang berarti bagiku terluka. Di depan mataku sendiri ... aku muak dengan semua ini!


"Lindungi Saika!" Aku menggunakan sihir perlindungan agar Saika berada dalam bola cahaya sihirku. Dengan ini serangan Yuuta tak akan berarti lagi.


"Kalau begitu biar aku serang penyihirnya!" Teriak Yuuta disertai beberapa bayangan melesat ke arahku.


Jangan remehkan aku ...


Tank!!!


Aku menghentakan tombakku ke tanah dan menghilangkan seluruh kabut yang ada di tempat ini. Dan sekarang terlihatlah bahwa salah satu dari kedua bayangan tadi adalah Yuuta. Setelah kabut itu hilang, bayangan yang hendak datang dari arah kiriku ikut lenyap. Hanya tersisa Yuuta berlari ke arahku dari sisi kanan.


Kali ini aku tidak diam dan menangkis serangannya. Sebelum Yuuta menyentuhku, aku menghindari serangannya lalu menggunakan tombakku untuk menghantam punggungnya. Walau sudah menerima seranganku, Yuuta berhasil mendarat dengan kedua kakinya. Lawan yang tangguh, dia pasti juga melewati kisah yang membuat dia menjadi seperti itu.


"Cahaya dari surga, tunjukan kekuatanmu!" Aku memegang tombak suci ini dengan kedua tanganku.


"Tengoku no Hikari!" Seruku dengan suara lantang lalu ratusan lingkaran mantra sihir muncul di sisi kanan dan kiriku. Lingkaran itu melayang layaknya sayapku dan menghadap ke depan. Magic Circle sebanyak ini hanya bisa dikeluarkan oleh penyihir tingkat tinggi.


"Serangan akhir? Baiklah!" Yuuta memanggil kembali pedang cahayanya yang baru saja aku hancurkan. Sekarang ia kembali menggenggam pedang cahaya di sisi kanan dan pedang kegelapan di sisi kiri.


"Akuma to Tenshi Impact!" Yuuta mengangkat kedua pedangnya itu ke atas dan bilah kedua pedang itu menyemburkan energi sihir yang luar biasa banyak. Bahkan tinggi pedang cahaya itu sudah menembus awan.


"Yuuta!!!"


"Fuyuka!!!"


Aku melempar tombak suciku diiringi ribuan tombak cahaya dimuntahkan oleh Magic Circle yang ada di sekelilingku. Jurusku ini adalah hujan tombak versi horizontal. Para tombak cahaya tak ada hentinya keluar dari ratusan magic circle-ku. Dan di saat yang sama Yuuta mengayunkan kedua pedangnya dari atas kebawah. Cahaya merah dan birunya itu mengandung sangat banyak energi sihir.


"Apa aku akan memenangkan pertarungan ini?"


Booomm!!!


Sihir kami saling beradu dan mengakibatkan ledakan berskala besar. Setelah sinar putih menelanku, aku sudah tak bisa melihat atau merasakan apa pun. Aku hanya bisa berharap aku memenangkan pertarungan ini.

__ADS_1


__ADS_2