Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 214


__ADS_3

Dimana ada cahaya, disitu ada kegelapan. Dimana ada kebaikan, di situ ada kejahatan. Dimana ada kedamaian, di situ juga ada perang. Dimana ada kehidupan, di situ juga ada kematian. Begitulah hukum alam ini. Semua yang diciptakan akan lenyap juga, tidak ada yang bisa melawan takdir itu.


Akan tetapi, bayak orang yang tak suka, bahkan tidak menerima takdirnya. Ciptaan yang semula ada untuk menjalankan tugasnya masing masing. Sekarang berbalik melawan penciptanya sendiri. Kurai Munmei, Dewi Kegelapan yang menguasai Underworld. Berawal dari pertemuannya dengan Yuuta.


Reingkarnasi dewa keabadian yang dibuang ke dalam Underworld. Mereka berdua menjalani kisah cinta di neraka. Takdir, takdir milik reingkarnasi dewa keabadian sudah jelas. Yuuta pasti akan mati di tangan Shinjiro. Setelah melalui peperangan dahsyat di neraka, akhirnya Yuta berhasil terbunuh.


Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Hukum alam yang tak bisa dilawan oleh siapapun. Kurai tidak bisa terima takdirnya begitu saja. Api amarah dan dendam tersulut di hatinya, tumbuhlah rencana untuk memusnahkan God. Meski terdengar mustahil, Kurai tak hanya menunggu ribuan tahun.


Ia juga berpikir selama penantiannya itu. Kekuatan cinta memang tidak bisa dipungkiri. Kurai mengetahui rahasia Fate Stone. Batu ajaib yang tiba tiba muncul di cerita Kaito, Ai, dan Saika. Cinta yang tumbuh di hati dewa keabadian dan dewi pedang itu telah membuahkan kekuatan aneh. Energi yang membentuk batu di dalam diri Ai dan juga Saika.


Batu permata itu adalah kunci untuk mengakhiri penderitaan jiwa sang pasangan yang sudah bereingkarnasi jutaan kali. Jadi, setelah mengetahui rahasia itu, Kurai berencana untuk membuka gerbang ke Earth. Tetapi segala sesuatu yang masuk ke Underworld akan mati. Dan begitupun dengan yang keluar dari sana. Jika Kurai keluar dari neraka, maka ia akan terpisah dari tubuh aslinya. Walau begitu Kurai tak menyerah begitu saja, ia menunggu sampai Ai lahir ke dunia ini dan masuk ke dalam tubuhnya. Selama tujuh belas tahun ia bersembunyi di bagian paling dalam dari hati Mirai Ai.


Tentang keberadaan Ai, sekarang ia berada di dalam Underworld. Duduk di ruangan gelap yang lembab. Jeruji besi memblokir jalan keluarnya. Ia hanya bisa menekuk lututnya dan memandang ke bawah.


"Kaito, maafkan aku ...," gumamnya ketakutan dengan air mata yang mengalir. Ai memang sangat ketakutan bila dihadapkan dengan kegelapan.


"Bagaimana cara mengeluakan Fate Stone dari dalam tubuhnya?"


Pertanyaan itu ternyata keluar dari mulut Kurai. Ia berdiri di depan jeruji besi yang mengurung Ai. Gadis rambut putih yang terurai, pita merah mengikat sedikit poni sebelah kirinya. Bola mata merah yang memancarkan tatapan tajam. Gaun hitam yang ia kenakan itu menambah kesan anggun yang dimilikinya.

__ADS_1


"Bunuh dia ...," suara perempuan yang berdiri di belakang bayang bayang Kurai. Wajahnya tertutup bayangan, tapi nampak ia mengenakan kimono mewah berwarna merah muda. Motifnya juga tak terlihat, kegelapan di sini menutupi aura kehadirannya.


"Hmm, walau dia adalah diriku, demi Yuuta ... aku akan melakukan segalanya." Kata Kurai diiringi jeruji besi di depannya itu terbuka.


Tap tap tap!


Suara langkah kaki yang dihasilkan sepatu hak tinggi Kurai. Ia perlahan mendekat ke Ai, duduk tak berdaya di ujung ruangan. Ai mengangkat kepalanya saat menyadari Kurai berdiri di depannya.


"Mau apa kamu?" Tanya Ai dengan wajah polosnya.


Kurai membulatkan tekad di hatinya lalu mengeluarkan sebuah pisau dari balik lengan panjang gaunnya itu. "Maaf, sampai jumpa!"


Tanpa belas kasihan Kurai mengayunkan pisaunya itu. Cairan merah kental dengan bau tak mengenakan tersebar ke segala penjuru. Pisau di tangan Kurai itu terjatuh ke lantai dan bersatu dengan genangan darah milik Ai. Gadis yang mencintai Kaito itu tersungkur di tanah. Nyawanya melayang karena satu tebasan membelah lehernya.


"Hhmm, aku akan melakukan tugasku." Ujar perempuan kimono itu lalu menghilang entah kemana.


Tepat saat itu juga mayat Ai bersinar terang. Sebuah batu berlian keluar dari tubuhnya. Pecahan batu berlian itu bersinar berwarna biru terang. Melayang mendekat kepada Kurai.


"Indahnya!" Kurai mengulurkan tangannya dan menerima setengah keping Fate Stone itu.

__ADS_1


Dengan ini, takdir satu karakter di cerita ini berakhir. Ai sudah tiada, setengah dari Fate Stone sudah berhasil jatuh ke tangan Kurai. Kaito dan yang lainnya belum mengetahui tentang kisah Ai. Selama sebulan penuh Kaito berlatih bersama kakaknya. Mengembangkan kemampuan berpedangnya.


Dalam satu bulan itu juga, Saika berlatih keras bersama kakaknya. Mereka berlatih di ruangan percobaan di Bunker Natsu. Ruangan besar seluas lapangan sepak bola, setinggi sepuluh meter. Lampu berbaris rapi di langit langit. Tak ada apa pun diruangan ini. Hanya ada pintu sebagai jalan keluarnya. Dan juga kaca di sisi kanan ruangan ini yang berguna bagi orang lain untuk mengamati pertarungan yang ada.


Para militer tak ada hentinya menjaga daerah Bunker. Kota Natsu benar benar menjadi kota mati. Gedung pencakar langit, dan bangunan bangunan yang berdiri di kota, hampir semuanya hangus. Hanya bagian luarnya saja utuh, tapi bagian dalamnya sudah hancur dan hangus. Kaca kacanya juga sudah pecah. Pertempuran selama tiga puluh hari sudah mengubah bentuk kota Natsu.


Anehnya, selama ini, tidak terlihat pergerakan dari Anubis maupun anggota Shogun yang tersisa. Raku dan Taki, mereka sudah menghabisi semua anggota pemerintahan yang bejekerja untuk Shogun. Kemampuan Assassin mereka sudah berkembang pesat. Tomoya hanya memerintahkan mereka berdua untuk menghabisi menteri-menteri korup. Tentu karena Tomoya secara tidak langsung ingin mengembangkan potensi Raku dan Taki sekaligus.


Sementara itu, Shinjiro juga sudah bernegosiasi dengan Tomoya. Hasil dari negosiasinya itu adalah terbentuknya Special Force bernama Fate Killer. Kelompok itu beranggotakan Kaito, Saika, Fuyuka, Munmei, Raku, dan Taki. Shinjiro dan Hanami Hika juga termasuk. Tapi mereka akan menjalankan tugasnya di Earth lain. Jadi selama mereka berada di dunia paralel, Fate Killer hanya beranggotakan enam orang saja.


Para ilmuan bekas organisasi Demon Hunter dan Enjeruhanta juga berjuang dalam bidangnya. Setelah T-Protector mark I atau baju zirah Kaito rusak. Mereka mengembangkan zirah baru yang lebih hebat. Mereka bahkan menggabungkan energi sihir dan teknologi. Para ahli menciptakan zirah khusus bagi Kaito.


Nightcurse, begitulah mereka menyebut zirah itu. Rupanya seperti zirah samurai, terbuat dari baja yang dilapisi energi sihir. Warna silver nan mengkilapnya itu menandakan kemurniannya. Pelindung kepala dilengkapi topeng putih polos dengan dua mata kecil bersinar warna emas. Dengan zirah ini Kaito akan menghadapi pertarungan terakhir di dunia ini. Menyelesaikan masalah di Earth dan melangkah masuk ke Underworld.


Kaiti berlatih sebaik mungkin untuk tidak memakai Ten Kara No Ken dan juga sihirnya. Karena itu bisa brakibat fatal baginya. Pertarungan besar semakin dekat, pihak musuh belum menunjukan adanya aktifitas. Hanya akame dan sejenisnya yang keluar dari gerbang neraka. Walau begitu, bahan makanan semakin menipis, amunisi senjata militer berkurang. Semakin banyak korban yang berjatuhan.


Jika keadaannya tak berubah, tetap saja pihak Natsu akan kalah.


Dua hari lagi, saat bulan purnama, Kurai berencana mengerahkan pasukannya untuk menghancurkan dunia ini. Pertarungan antara sisi gelap dan sisi manusia akan segera dimulai. Tomoya sudah mengatur strategi bersama kekasihnya, Fumio. Kekasih pimpinan tertinggi saat ini adalah pemimpin organisasi Fate Killer. Sampai saat ini, Fumio masih belum menunjukan kemampuan sebenarnya yang ia miliki.

__ADS_1


Fumio suka bekerja di balik layar, akan tetapi, bukan betartu ia tak memiliki kemampuan bertarung. Fumio menempati peringkat ke sembilan di jajaran Tenshi terkuat. Peringkat Tenshi terkuat dari yang paling atas adalah. Takumi, Kaito, Tomoya, Hikaru, Taki, Raku, Saika, Ai, Fumio, dan yang menduduki peringkat kesepuluh adalah Renai, tunangan Takumi.


__ADS_2