
Langit biru cerah, awan yang mengejar satu sama lain. Embun pagi yang masih menempel di dedaunan dan rumput rumput di lapangan. Kebisingan yang kubenci. Keramaian di kelas pagi ini, aku tak bisa menghindarinya.
Aku hanya duduk dan memandang ke arah cakrawala yang bisa kulihat dari jendela tepat di samping kiriku ini. Aku berusaha melupakan kejadian semalam. Seperti yang kuduga, pagi ini aku hanya melihat kaosku dan celana pendek Hanabi tergeletak di sampingku. Entah bagaimana Ema kembali berubah wujud menjadi Ai yang duduk di sampingku sekarang ini.
Rambut hitam panjangnya yang terurai sampai punggung. Bola mata warna ungunya yang berbinar. Bibir merah merona yang tersenyum tipis saat membaca kalimat di novel yang ia genggam.
Apa aku akan jatuh cinta padanya lagi??
*****!
Aku tak akan pernah merasakan kebahagiaan di dunia ini. Dan jika aku sampai jatuh cinta dengannya, mungkin takdir akan mengambilnya dariku.
"Kaito? ... kenapa liatin aku?"
Aku langsung memalingkan wajahku kembali. Sialnya malah aku merasa gugup sekarang. Cukup, jangan ada cinta lagi di hidupku. Jika aku tak mengubah sikapku, maka tak menutup kemungkinan Fate Restart yang ketiga kalinya akan terjadi.
"Kaito? ... kenapa? ... apa ada masalah?" Tanya Ai sembari menarik lengan seragamku berkali kali.
"Hmm ...," aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Ne ... ne ... apa kamu mau liat bunga sakura pulang sekolah ini?" ajakannya yang membuatku kembali menengok ke arahnya.
"Ano ... ini udah musim semi loh ... tadi aku liat di jalan, bunga sakuranya udah mekar loh," ujarnya dengan senyuman di wajahnya.
Sakura? ... kenapa aku gak sadar ya?
Selama perjalanan sekolah tadi pagi, aku sepertinya melamun dan tak memperhatikan sekitar. Tentu saja karena berbagai masalah yang datang silih berganti di hidupku ini.
__ADS_1
"Kaito? ... apa kamu masih mikirin monster itu?"
"Sstt ... diem ... jangan keras keras ...," aku meletakan jari telunjukku di depan mulutku dan memberinya tanda supaya dia tidak membicarakan hal itu lagi di depan umum.
"Ohh ... maap ... tapi waktu itu kamu keren loh," dia malah memujiku karena membunuh seseorang di depan matanya.
Greek~
Pintu kelas terbuka dan seketika seisi kelas menjadi hening. Keributan pagi yang biasaku dengar seakan lenyap. Mulut murid murid lain seperti terkunci setelah melihat pria kacamata tua yang sudah beruban itu. Ia memakai setelan jas mahal serba hitam.
Itu adalah kepala sekolah kami. Ia dikenal misterius dan galak. Dia hampir tak pernah keluar dari kantor kepala sekolah yang ada di lantai dua. Letak ruangan yang ada di ujung koridor itu membuat beberapa siswa takut untuk pergi kesana.
Kenapa dia tiba tiba masuk ke sini?!
"Ekhem ... siswa yang bernama Okino Kaito ... silahkan ke ruangan saya sekarang," ucapan pria tua itu dan membuat perhatian satu kelas mengarah kepadaku.
"Ka-kaito? ... apa kamu kena masalah?" Tanya Raku yang duduk di bangku depan mejaku.
"Gak tau ... ya udah ... aku kesana dulu", aku langsung berdiri dari kursiku dan melangkah keluar dari kelas.
Berbagai pertanyaan muncul di benakku. Aku tak tahu lagi apa masalah yang akan menghantamku. Apa aku akan di keluarkan dari sekolah?
*****!
Emangnya aku kenapa?
Cih ... bodo lah ...
__ADS_1
Aku segera menaiki tangga dan menyusuri koridor yang sepi di jam pelajaran ini. Aku segera menuju ke ujung koridor dan berhenti di depan ruangan dua pintu itu.
'Ruang kepala sekolah'
Aku membuka pintu perlahan dan masuk ke ruangan itu. Ruangan yang gelap, dua rak buku besar yang ada di sisi kanan dan kiri ruangan. Meja besar yang ada di depan jendela yang tertutup tirai warna putih.
Pak kepala sekolah duduk di kursinya yang membelakangi jendela dan menghadap ke arahku. Aku pun melangkah maju perlahan.
"Kaito ... silahkan duduk," ucapnya dengan tatapan tajam yang di pancarkannya melalui kacamata yang ia kenakan.
Seperti yang dikatakan pria tua ubanan itu, aku duduk di kursi yang ada di depan mejanya itu. Entah apa masalah yang datang padaku hari ini. Tapi yang kali ini sepertinya sangat serius.
"Maaf ... tapi ini perintah mereka ..."
Tunggu?! ... Mereka? Siapa?
"Oi bocah ... apa kamu adalah orang yang terpilih itu?"
Orang kulit putih dan berbadan tinggi. Rambut pirang dan mata cokelat. Dia berdiri di samping pintu dan menyandarkan punggungnya di dinding. Aku bahkan sama sekali tak bisa merasakan kehadirannya sejak pertama kali masuk ke ruangan ini.
"Hmm ... apa maksudnya ini?" Aku tetap duduk santai menanggapi kata katanya itu.
"Dari wajahmu itu ... aku bisa tau kau sudah membunuh Akame dan melenyapkan beberapa kutukan ... ya kan?"
Siapa orang ini?!
Kenapa dia bisa tau semuanya?!
__ADS_1