
Takumi
Pagi ini aku di perintahkan untuk membunuh seorang Tenshi yang kebetulan berada di hutan Hagume. Aku harap Tenshi itu sama menghiburnya dengan Kaito. Aku bosan membunuh Tenshi yang lemah. Itu hanya membuat ku mengantuk. Aku pun sampai di hutan Hagume.
Aku menuju ke tempat bekas pertarunganku dan Kaito beberapa hari lalu. Hutan yang harusnya lebat dan penuh pepohonan itu sekarang menjadi tanah lapang dengan tanah yang penuh dengan retakan.
Aku sedikit menghirup udara segar sebelum melihat seseorang berdiri di tengah tanah lapang ini. Seorang laki laki, bukan, tubuhnya adalah robot. Tangan kirinya ditukar dengan bilah pedang, telapak tangan kanannya memiliki lubang. Seluruh tubuhnya terbuat dari besi dengan kabel kabel yang terlihat di celah celahnya.
Di saat yang sama aku mendapat telepon dari petinggi Enjeruhanta. Aku hanya menempelkan ponsel di telinga kananku dan menunggu penjelasannya tentang semua ini.
"Dia adalah Detroit satu satu dua ... Detroit yang sudah gagal sepuluh kali"
"Takumi, kau tau harus berbuat apa kan?"
Penjelasanya cukup bagiku. Aku memutus sambungan teleponnya dan mengembalikan ponselku ke dalam saku celana. Detroit adalah manusia yang dibuat menjadi senjata oleh ilmuan di Enjeruhanta. Singkatnya mereka adalah semacam Tenshi di Enjeruhanta. Para Detroit ditugaskan untuk membunuh para Tenshi yang menjadi target Enjeruhanta.
Dan jika mereka gagal menjalankan tugasnya sepuluh kali, maka mereka akan ditiadakan. Ironisnya mereka biasanya ditiadakan oleh Detroit lain. Teman yang membunuh temannya, sama seperti aku. Sudahlah, semoga dia bisa menghiburku pagi ini.
Aku menyembunyikan kedua tanganku di saku jaket dan mulai melangkah mendekati Detroit112 itu.
"Hoi!!!" Aku berteriak memanggilnya.
"Takumi, apa yang kamu lakukan di sini?"
Detroit itu berbalik dan terlihatlah wajahnya itu. Setengah dari wajahnya sudah diganti dengan besi. Mata kirinya terlihat seperti lampu yang menyala. Aku baru sada rambutnya ternyata adalah kabel berwarna hitam.
"Cih ... Detroit yang gagal sepuluh kalo masih bertanya seperti itu?" Aku menghentikan langkahku dan melengkungkan bibirku. Aku tersenyum kejam di hadapan mesin yang bernafas itu.
"Kalau begitu, aku akan membunuhmu lebih dulu!"
__ADS_1
Duar!!!
Detroit itu menembakan laser yang keluar dari lubang di tengah telapak tangan kanannya itu. Sebelum laser itu menyentuhku, aku melompat ke belakang dan menghindari serangan tiba tibanya itu.
"Hahahaha!!! ... anak baik ... langsung menyerang ya?" Aku tertawa terbahak bahak karena serangan payahnya tadi.
"Tenshi payah!"
Detroit itu langsung melesat ke arahku dengan kakinya yang ternyata adalah roket. Di tengah telapak kakinya juga terdapat lubang yang berguna untuk meluncurkan tubuhnya ke arah yang ia mau. Detroit itu menyerangku dengan lengan kirinya yang berupa bilah pedang panjang itu.
Aku menghindari setiap tebasannya sembari mundur perlahan. Aku terus menghindari serangan yang ia lempar itu dengan santai, aku masih memasukan tanganku ke dalam saku jaketku ini. Aku menunggu sampai Detroit di depanku ini membuat celah bagiku untuk membalas semua serangannya.
Trang!!!
Setelah melihat sedikit celah, aku langsung memanfaatkannya. Aku menendang kaki kirinya yang terbuat dari besi itu hingga ia terjatuh ke tanah. Aku melanjutkan seranganku dengan menginjak lengan kirinya itu sampai putus. Sekarang dia sudah tak memiliki pedangnya lagi. Aliran listrik terlihat di sekitar bahu kirinya yang sudah tak memiliki lengan pedangnya lagi.
"Hoi ... jangan nembak sembarangan." Ucap ku santai.
Swush! Jrat!!!
Sebuah anak panah cahaya melesat dari belakangku dan menancap di kepala detroit itu. Mataku langsung terbelalak karena melihat kejadian ini. Tak lama kemudian Detroit itu tersungkur di tanah dengan listrik yang mengaliri seluruh tubuhnya.
Aku membalik badanku dan melihat Ren membawa busur panah cahayanya itu.
"Takumi, sekali lagi aku tanya ... apa aku boleh ikut bersamamu?" Pertanyaan Ren yang sudah berkali kaliku jawab.
"Ren!, berapa kali aku harus menjawabmu!" Aku melangkah mendekatinya.
"Habisnya ..." Ren menundukkan kepalanya dan di saat yang sama busur panah cahaya yang ia genggam menghilang.
__ADS_1
"Ren" Aku menggenggam tangan kanannya itu.
"Aku tak bisa membiarkanmu terus berjuang sendirian tau!!" Ren memukul dadaku perlahan sembari terus menundukan kepalanya.
"Aku bukanlah Takumi yang dulu lagi Ren."
"Aku tau itu ... dan aku tak akan memintamu untuk kembali lagi seperti dulu!!"
"Maaf ... Ren"
"Kamu gak perlu minta maaf payah!!" Ren kembali memberiku pelukan hangatnya itu.
"Lalu aku harus apa?"
"Kau hanya perlu berhenti dari semua ini ... aku ingin kita menjalani hidup sebagai manusia biasa"
"Ren, maaf," Hanya kata-kata itulah yang bisa aku ungkapkan padanya.
"Takumi *****!!"
"Ren, berapa kali aku sudah mengatakannya padamu."
"Setelah semua ini selesai, aku akan kembali ke pelukanmu." Aku membelainya dengan lembut.
"Payah!! apa kamu tau kapan semua ini selesai!?!"
"Mungkin ... besok hehe" Candaju berusaha merubah suasana ini.
"Dasar cowok *****!! bisa bisanya becanda di saat seperti ini." Ren meneteskan air matanya lagi di pelukanku.
__ADS_1