Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 75


__ADS_3

Takumi


Malam ini aku kembali keluar dari Hotelku yang berada di kota Natsu ini. Aku dengan santai melangkah di trotoar kota yang sangat ramai ini. Gemerlap lampu gedung gedung pencakar langit yang menghiasi malam. Kebisingan jalan raya dan ribuan orang yang lalu lalang setiap jamnya.


Aku bisa merasakan aura Akame dari jauh. Jumlahnya ada ratusan, mungkin ini tak terlalu banyak. Tapi lebih baik dari pada tak ada sama sekali. Aku pun melangkah mendekat ke arah aura para Akame itu. Aku menghentikan langkahku di depan gedung yang nampaknya sudah lama ditinggalkan. Aku tak menyangka ada yang seperti ini ditengah kota besar.


Gedung dengan tinggi sekitar dua puluh lantai itu sepertinya baru saja mengalami kebakaran. Terlihat dari tembok luarnya yang hangus dan terdapat abu di sekitar gedung itu. Aku memasukan kedua tanganku ke dalam saku jaketku dan melangkah masuk ke dalam gedung.


Gelap, sunyi, mencekam. Itulah yang kurasakan ketika baru saja melewati pintu masuk. Dan bukanya merasakan aura Akame, aku malah merasakan aura Tenshi yang tak asing bagiku. Dia ada di atap gedung ini, aku pun menaiki tangga darurat menuju ke atap gedung.


Perasaan ini, aku pernah merasakannya, hanya saja aku tak mengingatnya sama sekali. Apa Tenshi yang menungguku di atas sudah pernah bertemu denganku?, aku semakin merasakan auranya yang khas ini. Semakin dekat, dan semakin dekat.


Saat aku sampai di atap gedung. Aku melihatnya, gadis yang memakai jubah putih dan rambut putih yang terurai. Dia berdiri membelakangiku, aku tak bisa melihat wajahnya.


"Takumi? ... apa itu kamu?" Suaranya terdengar tidak asing juga bagi telingaku.


Aku hanya diam dan berdiri menunggu dirinya berbalik dan menatap wajahku. Rambut panjang yang tertiup angin itu mengingatkanku pada seseorang, tapi siapa?


"Takumi ... maaf ... tapi sepertinya kamu terlambat ..."


"Semua Akame-nya udah mati kok!" gadis itu berbalik dan melempar senyumnya kepadaku.


Mata ku seketika terbelalak melihat wajah gadis yang ada di depanku ini. Rambut putih mata coklat dan kulitnya yang eksotis itu. Shizuta Renai, mantan rekan satu tim ku sewaktu aku masih berada di Demon Hunter.


"Ren ..."


"Takumi ... apa kabar?", Ren maju satu langkah mendekat ke arahku.


"Hmm ... jangan bertanya padaku ..."

__ADS_1


"Hemm ... sampai sekarang ... berapa Tenshi yang sudah kamu bunuh?"


"Lima puluh satu ...", jawabku jujur.


"Ohh ... gitu ...", Ren tersenyum tipis.


"Takumi ...," tiba tiba seseorang memanggilku dari belakang.


Aku menoleh kebelakang dan melihat gadis dengan seragam SMP. Rambut kuning dan tatapan tajam yang ia pancarkan lewat kacamata yang ia kenakan. Fumio, sudah lama aku tak bertemu dengannya.


"Wohh ... ada apa ini? ... reuni keluarga?" Tanyaku tersenyum lebar.


"Apa kamu lupa misimu yang sebenarnya?" Fumio memejamkan matanya dan melipat tangannya di depan dada.


"Haha ... mana mungkin aku lupa ...," aku terkekeh dengan alisku yang terangkat tinggi.


"Takumi ... kamu sudah berubah karena iblis yang ada di dalam dirimu ya?" Kata Ren menundukkan kepalanya.


"Ini masih belum cukup ...," aku mengepalkan tangan kanan ku yang ada di dalam saku jaket.


"Ketua ... sudah cukup ...," Ren kembali melangkahkan kakinya sekali mendekat ke arahku.


"Senpai ... kembali lah seperti dulu lagi ...," Kata Fumio dengan pipinya yang memancarkan rona merah.


"Maaf ... tapi aku sudah terlalu jauh ke dalam kegelapan ..."


"Ketua ... tolong ...," Ren menarik tangan kiriku dan menggenggamnya dengan erat.


"Tenang saja Ren ... aku akan menghabisi mereka satu per satu ... sendirian ..."

__ADS_1


"Jangan bodoh!! ... walau kau Tenshi terkuat ... belum tentu kau bisa mengalahkan mereka sendirian", teriak Fumio marah padaku.


"Kalau bukan aku siapa lagi!!!"


"Cih ... Ren ... aku serahkan dia kepadamu ...," kata kata Fumio sebelum pergi meninggalkan kami berdua di atas atap gedung ini.


"Takumi ... lupakan saja soal kakakku ... kembalilah seperti dulu lagi ...," Ren menundukkan kepalanya sembari tetap menggenggam tangan kiriku.


"Maaf ... Ren ... aku akan tetap berada di dalam bayangan ... tapi tenanglah ... setelah ini selesai ... aku akan kembali ke pelukanmu," aku memeluk Ren dengan erat.


Aku akan tetap di dalam bayangan. Dalam diam, aku akan menghabisi seluruh anggota di Enjeruhanta dengan kakiku sendiri. Aku memang sudah tak mempunyai hubungan dengan Demon Hunter. Tapi aku punya misiku sendiri. Aku akan menghabisi Enjeruhanta dari dalam jantungnya.


Aku akan membalaskan dendam kakak Ren yang mati karena mereka. Aku bergabung di Enjeruhanta karena aku menyadari cara membuat diriku lebih kuat. Aku adalah manusia biasa yang mencoba melawan takdir dari awal.


Saat kutukan iblis merasukiku, aku melawannya dengan kekuatanku sendiri. Aku bisa mengendalikan kekuatan kutukan iblis yang ada dalam diriku ini tanpa bantuan Tenshi. Cara membuat diriku lebih kuat adalah membunuh para Tenshi dan melukai hatiku sendiri dengan penyesalan.


Aku hidup untuk melawan takdir dengan cara ku sendiri. Sejak awal aku memang ditakdirkan untuk berjalan sendirian. Adik, teman, semuanya sudah direnggut oleh pedang tajam sang dewa, yaitu takdir. Aku keluar dari Demon Hunter dan meninggalkan Ren. Jelas, aku hanya ingin Ren tetap hidup. Aku tak ingin dia bersamaku dan menjadi korban selanjutnya.


Aku sangat mencintainya. Aku sangat menyayanginya. Aku tak ingin sang takdir merenggutnya dariku. Aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku bila itu terjadi. Aku sudah berjanji padanya, aku pasti akan menikahinya setelah ini semua selesai.


Tapi, aku saja hampir melupakan pujaan hati ku ini. Kutukan iblis ini bisa saja membuatku sepenuhnya melupakan sisi kemanusiaanku. Aku bisa saja gila dan menghabisi semua orang tanpa ampun. Aku juga bisa kehilangan ingatan dan sepenuhnya dikuasai oleh kegelapan.


"Takumi ... aku mohon ... jangan lupakan aku," Ren melepas pelukanku dan menatapku dengan wajahnya yang penuh dengan air mata.


"Tidak akan ..."


----------------------


Jangan lupa likenya Ya hehe ...

__ADS_1


See You Next Chapter ...


__ADS_2