
"Cih, akan ku balas kau lain kali!"
Bwush!!!
Jonin itu membanting benda seperti bola kecil yang menimbulkan ledakan kecil. Tak lama kemudian asap tebal menyelimutinya, itu adalah bom asap. Biar kutebak, dia kabur dariku karena luka gores.
Apa dia yakin tak bisa mengalahkanku?
Dan benar saja, asap putih itu memudar dan sudah tak terlihat manusia yang ada di dalamnya. Aku pun kembali memasukan Katana-ku kedalam sarungnya yang ada di bawah pinggangku. Badanku seketika terasa sangat berat, nafasku jadi tak beraturan. Aku berlutut di tanah karena kedua kakiku tak lagi sanggup menopang tubuh lemahku ini.
Swush!!!
Aku terbelalak saat menyadari sebuah Shuriken menuju tepat ke arah kepalaku. Aku hanya bisa terdiam dan membeku tanpa bisa berbuat apa apa. Shuriken itu berasal dari Ninja Chunin yang sedang berhadapan dengan Ema. Karena melihatku lengah, dia menyempatkan dirinya untuk melempar Shuriken padaku. Tunggu, Ema berlari ke arahku. Tidak, jika dia kesini, dia akan terluka. Jangan, Ema jangan! Aku tak bisa membuka bibirku ini. Aku ingin sekali berteriak dan melarang Ema kesini. Terlambat ...
Jrak!!!
Ema berdiri menghadapku dan Shuriken kecil itu menancap di punggungnya. Ema jatuh berlutut beberapa sentimeter di depanku. Aku pun memeluknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sunyi, aku tak bisa mendengar apa pun. Badanku seolah menbeku dan tak bisa berbuat apa apa. Takdir seakan memaksaku untuk mengikuti kehendaknya. Tidak, aku tak mau seperti ini. Bukan seperti ini yang kumau, aku masih belum cukup kuat untuk melindunginya.
Aku masih belum cukup kuat untuk melindungi Hanabi, Ai, ataupun teman temanku. Impianku, aku tak bisa mewujudkannya. Mustahil, takdir pasti akan menang. Aku tak punya kesempatan untuk melawannya. Jangan bilang usahaku selama ini sia sia. Dua kehidupanku sebelumnya, mungkin kehidupan terakhirku ini akan berakhir seperti itu. Gagal, lagi lagi aku gagal. Aku sudah muak dengan kegagalan yang terus menerus menghujani kehidupanku.
Sebenarnya apa yang kau mau Tuhan? Jika ingin menyiksa ku hidup hidup, lebih baik aku tak perlu hidup di dunia ini saja. Gadis yang ada di pelukanku saat ini, dia terluka karena melindungiku. Hatiku hancur, aku tak lagi bisa berpikir dengan jernih.
__ADS_1
"Ema, maafkan aku ...," ucapku sembari melepas pelukanku darinya.
"Untuk apa Okino-sama?" Tanya Ema dengan wajah datar seakan tak terjadi apa apa.
"Kamu tak perlu bertarung lagi," entah aku mendapat kekuatan dari mana, aku kembali bisa bangkit berdiri. Tubuhku tak lagi merasakan lelah, ada sesuatu yang mengalir di dalam tubuhku.
Cahaya? Bukan!
Pandanganku jadi memerah. Aku tak bisa melihat dengan jelas. Ini adalah mata iblis, tapi sekarang tak hanya mata kiriku yang berubah, kedua mataku sekaramg jadi mata iblis. Aura hitam kemerahan mulai keluar dari tubuhku. Aku melangkah maju perlahan ke arah ninja yang baru saja melukai Ema. Dia tampak ketakutan saat melihatku, entah apa yang terjadi pada ku, aku hanya ingin membunuhnya. Aku mempercepat langkahku dan akhirnya berlari ke arah ninja payah itu. Karena ia ketakutan, ninja itu melempar beberapa Shuriken ke arahku.
Aku hanya terus berlari tanpa menghiraukan mainan anak kecil itu. Shuriken itu dengan sendirinya menyingkir saat menabrak aura kegelapanku ini. Dan dengan begini aku leluasa menyerang si ninja payah itu tanpa harus mempedulikan mainan mereka. Aku melompat dan mengayunkan kaki ku ke arah kepalanya. Walau dia berhasil menangkis seranganku dengan lengannya, ninja itu tetap terdorong kebelakang karena tak bisa menahan kekuatanku ini. Saat dia kembali memgeluarkan pedangnya aku pun segera manarik Kensetsu-ku keluar dari sarungnya dengan tangan kananku.
Pertarungan pedang pun kembali terjadi. Percikan api kembali menyebar ke sembarang arah setiap kali pedang kami beradu satu sama lain. Bunuh, ayunkan pedangmu, penggal kepalanya. Aku tak bisa mengendalikan pikiran dan tubuh ku. Aku hanya bisa melihat ninja itu mulai kualahan menangkis semua serangan ku. Tak seperti ninja Jonin tadi, pangkat Chunin sepertinya sesuai dengannya. Banyak celah celah kecil yang sering ia buat di tengah pertarungan ini. Aku yang tak ingin membuang waktu langsung memanfaatkan celah kecil yang ia buat. Aku mengayunkan pedangku kuat-kuat dari bawah ke atas. Pedang ninja itu terlempar ke atas langit dan sekarang dia tak punya senjata untuk menangkis serangan ku lagi. Aku menarik Katanaku dan mengarahkan ujungnya ke jantung ninja itu.
Jrak!!!
"Taki!!! Menyingkir dari sana!"
Aku melesat ke arah ninja itu dan membuatnya terkejut. Pedang kami kembali beradu dan menimbulkan bunga api yang sangat indah. Aku kembali mengayunkan Kensetsu ku ke sana kemari untuk melukainya. Mati, ikuti jejak temanmu ke neraka. Tubuhku sama sekali tak bisaku kendalikan. Keinginan membunuhku semakin kuat, aku terus mendesak ninja itu untuk mundur ke belakang. Seiring berjalannya waktu tangkisannya mulai melambat. Aku melihat celah kecil, dan aku kembali mamanfaatkannya.
"Teknik api: Bulan sabit!!!"
__ADS_1
Aku mengangkat Katana-ku ke atas kepala dan kobaran api mulai menyala di bilah pedangku ini. Aku segera mengayunkan pedangku ke bawah dan melihat apa yang terjadi. Api berbentuk bulan sabit hasil dari ayunan pedangku ini melahap Ninja itu dan membakar tubuhnya. Dia berteriak kepanasan dan menyadari itu adalah akhir hidupnya. Tapi aku terkejut saat melihatnya berlari ke arahku. Dia masih berencana menyerangku sebelum ia dijemput oleh ajalnya. Tanpa basa basi aku menusuknya dengan Kensetsu-ku. Setelah itu kobaran api yang menyelimutinya menghilang. Asap putih mulai keluar dari badannya. Ninja itu diam tak bergerak menyadari bilah pedangku menembus dadanya. Aku kembali menarik pedangku dengan kasar dan membuatnya tersungkur di tanah.
Tak ku sangka, tubuhku masih ingin membunuh satu orang lagi. Aku menoleh ke arah Taki yang berdiri terpaku melihatku. Perlahan tapi pasti aku melangkah medekatinya. Aku menyeret Kensetsu-ku yang sudah dibasahi oleh darah merah.
Tidak! Itu teman ku!
Aku tak bisa melawan keinginan tubuh ku yang terus bergerak maju. Kalau begini, dia bisa mati. Tidak, aku tak ingin membunuh temanku sendiri. Sepertinya iblis sudah menguasai tubuhku. Jadi ini yang terjadi bila aku kehilangan kendali. Aku benar benar tak bisa menguasai tubuhku. Perintah otakku diabaikan begitu saja.
"Okino-sama!!!" Ema memelukku dan membuat langkahku terhenti.
"E-ma ...,"
Tank!!!
Aku menjatuhkan Katana-ku dan aura kegelapanku perlahan memudar. Pandanganku kembali seperti semula. Kehangatan pelukan Ema seakan menyegel kekuatan iblisku. Aku membalas pelukan Ema dengan erat. Aku sangat berterima kasih pada si buta ini. Karenanya aku kembali bisa menguasai tubuhku.
"Jangan berubah jadi iblis lagi!"
"Aku mohon Okino-sama!"
"Ema tak ingin melihatmu seperti itu lagi!"
__ADS_1
"Ema janji tak akan terluka lagi!" Ema menangis di pelukanku dan membasahi jaketku dengan tetesan air matanya.
"Hmm, makasih banyak ..."