Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 66


__ADS_3

Jrat!!!


Saat saat yang kukakutkan akhirnya terjadi juga. Serangan Takumi berhasil mengenaiku. Dia berhasil membuat robekan di bagian depan kemejaku. Walau luka di dadaku tak terlalu dalam dan terbilang hanya luka goresan. Tapi itu cukup untuk menghentikan gerakan ku.


Aku sekarang berdiri terpaku dan tak bisa bergerak sama sekali. Takumi tersenyum lebar dan bersiap menusukku dengan pedang yang ada di tangannya.


Sial!!! ... aku juga tak bisa menggunakan Time Control ku sekarang!!


"Jangan bercanda!!!"


Bruak!!!


Haru mendorong Takumi hingga terjatuh. Sial, bukan ini yang kuharapkan. Haru juga bisa dalam bahaya sekarang.


"Haru ... makasih ...," ucapku lalu menarik tangannya hingga dia berdiri di belakangku.


"Kaito! ... gimana ini?" Haru berdiri di belakang ku dengan rasa takut yang menghantuinya.


"Jangan kira aku gak bisa apa apa!!!" Kakume kembali menyerang Takumi dari belakang dengan kemampuan Stealth miliknya.


Crat!!!


Dengan santai Takumi menusuk kaki Kakume. Darah pun bercucuran keluar dari kaki Kakume yang tertusuk pedang itu.


"Aaaaghh!!!!" Kakume berteriak kesakitan dan terjatuh karena kaki kanan yang tertusuk pedangnya sendiri itu.


"Kakume!!!!" Haru malah berlari ke arah Takumi karena tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Bruak!!! Swush!!!


Takumi berbalik dan menendang Haru hingga tubuhnya terlempar sangat jauh. Haru membentur sebuah pohon besar dan akhirnya tak sadarkan diri.


Buk!!!


"Akghhh!!!"

__ADS_1


Takumi menginjak perut Kakume hingga ia tak sadarkan diri pula. Dengan senyuman kejamnya itu dia berbalik ke arah ku.


"Apa itu cukup?", tanya Takumi.


" ... " aku hanya bisa terbelalak dan terdiam berdiri di sini.


Apa yang harus aku lakukan?


Dia jauh lebih kuat dari ku ...


"Aaaahhhggg!!!" Aku kembali berlari dan mengganggam gagang pedangku dengan kuat.


Buak!!! Tang!!! Brak!!!


Takumi menendang tangan kananku yang hendak mengayunkan pedang ini dan membuat aku menjatuhkan pedang ku. Dan tak sampai di situ saja, dia berlanjut menendangku sampai aku terpental dan kembali berguling guling di tanah.


Akhirnya aku hanya bisa tersungkur di tanah yang basah karena darah Akame ini. Bau busuk ini sudah tak kupedulikan lagi. Tubuh ku sudah kembali menjadi manusia biasa. Pisauku pun ikut lenyap dan menjadi butiran cahaya sebelum akhirnya menghilang.


"Haa? ... kamu sudah kena Lock? ... cih ... sama saja ... semua Tenshi itu lemah," ucap Takumi memegang dahinya sendiri.


Sekarang aku mengerti, aku bersyukur bertemu denganmu Takumi. Untuk melindungi teman temanku, aku harus berjuang lebih keras. Aku juga harus membuat diriku lebih kuat.


"Masih berdiri ya? ... Tenshi payah"


"Aku ...," aku mengusap bekas darah yang ada di sisi mulutku.


"Aku bukan Tenshi ..."


"Aku juga bukan iblis"


"Dan aku juga bukan manusia"


Aku kembali memejamkan mataku karena merasakan sebuah kekuatan mulai mengalir dalam diriku. Perasaan ini berbeda dan belum pernahku rasakan sebelumnya. Tak salah lagi ini adalah cahaya.


"Sang cahaya dari surga ... berikanlah aku kekuatan untuk melindungi teman teman ku ..."

__ADS_1


"Light Chaser!!!"


Aku membuka kedua mataku dan melihat seluruh tubuhku yang berubah menjadi cahaya. Rambutku berubah menjadi putih. Tubuhku diselimuti oleh cahaya yang sangat terang. Tidak, cahaya itu melekat di kulitku.


Tubuhku rasanya sangat ringan sekarang. Aku seutuhnya berubah menjadi cahaya. Seluruh kulitku bersinar terang dengan warna putih yang menyilaukan mata. Hanya wajahku saja yang masih normal. Sekarang aku adalah cahaya yang berbentuk manusia.


Ini adalah sensasi yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Aku seakan bisa bergerak tanpa merasakan tubuhku lagi. Kekuatan yang sangat besar ini ada di dalam diri ku sekarang.


"Hua! ... ini dia yang aku tunggu ...," ujarnya dengan senyuman lebarnya itu.


Krak!!! Swush!!!


Aku membuat tanah yang kuinjak retak sebelum aku berlari ke arah Takumi. Kecepatanku sangat luar biasa, rasanya tubuh ku bergerak tanpa beban sedikit pun. Aku mengepalkan tangan kananku dengan kuat dan bersiap memukul wajahnya yang tersenyum lebar itu.


Booomm!!!!


Ledakan serta kepulan debu yang berterbangan ke udara menghalangi pandanganku.


Apa aku berhasil?


"Kaito ... aku salah mengiramu ... ternyata kamu memang layak untuk melawanku," ucapnya santai sembari menahan tanganku yang ada tepat di depan wajahnya.


Debu tanah yang menghalangi paandanganku pun menghilang. Sekarang terlihat tanah di sekitar kami yang hancur lebur. Kekuatan seperti ini malah bisa melukai teman temanku nantinya.


"Haaaaghhh!!!"


Swush!!!


Dengan kecepatan cahaya aku mendorongnya masuk ke dalam hutan bersama denganku. Kami seperti meteor yang menghantam dan melubangi setiap pohon besar yang kami lewati. Aku menggunakan punggung Takumi sebagai senjata untuk mendobrak pohon pohon besar itu.


Dengan ini teman temanku sudah tidak terancam. Aku bisa bertarung lebih bebas di sini.


Duar!!!


Kami berdua berhenti bergerak ketika punggung Takumi membentur batu yang sangat besar hingga batu besar itu retak. Asap putih yang menyelimuti kami akibat benturan yang sangat keras itu. Debu yang beterbangan di udara itu seakan membelah hutan ini.

__ADS_1


Kami berdua melubangi bahkan menghancurkan pohon besar yang kami lewati dengan sangat cepat itu. Kami bergeser beberapa kilometer hanya dalam hitungan detik.


"Ini dia ... akhirnya aku menemukan lawan yang sepadan ...," kata Takumi dengan mulutnya yang sudah mengeluarkan darah itu.


__ADS_2