
"Kaito? ... apa kamu inget aku?"
Kata kata gadis dengan rambut putihnya yang terurai serta mata merahnya itu. Dia memakai pakaian serba putih dan menatap ku dengan senyumnya.
"Kamu ... siapa?" Tanyaku.
Bruak!!!
"Kakak!!! ... bangun bodo ... makan malam dulu yuk," Hanabi memukulku menggunakan bantal dan membuatku tersadar dari alam mimpi.
"Hmm ... kakak mau cuci muka dulu," aku duduk di ranjang sembari mengumpulkan kesadaranku.
Aku kelelahan dan akhirnya tertidur sepulang sekolah tadi. Setelah mengganti baju tadi aku merasa sangat lelah dan akhirnya tertidur lelap. Dan, mimpi tadi ... apa maksudnya?
Aku berdiri dan melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajahku. Aku berdiri di depan cermin yang ada di atas wastafel kamar mandiku. Aku memandangi wajahku sendiri karena merasa asing dengan diriku sendiri.
"Mata hijau?" Aku baru ingat mataku sedikit berwarna kehijauan.
Dan juga aku ingat kata kata Ai tentang mimpinya. Entah apa yang terjadi aku juga ikut bermimpi tentang gadis rambut putih yang baru saja ia ceritakan tadi sore.
"Ahh ... bodo amat ...," aku segera membasuh wajahku dengan air yang keluar dari kran air wastafel.
Aku segera turun ke lantai dasar dan menemui Hanabi di ruang makan yang sekaligus dapur ini.
__ADS_1
"Ohh ... kakak dateng ... ayo kak duduk," ujar Hanabi mempersilahkanku duduk di kursi meja makan.
Kami pun makan malam bersama. Di saat seperti ini pasti Hanabi menceritakan semua hal yang ia alami di sekolahnya hari ini. Dari ia lupa mengerjakan PR hingga ia di kejar anjing waktu sepulang sekolah.
Aku hanya mendengarkan ocehan adikku itu dan menghabiskan makan malam buatannya ini. Sifat Hanabi jauh berbeda denganku, dia selalu ceria dan banyak bicara. Ya kalau bukan karena dia, pasti rumah ini sangat sepi dan sunyi.
Seperti malam malam sebelumnya, setelah selesai makan malam aku segera kembali menuju sarangku. Aku segera menaiki tangga dan kembali masuk ke kamarku yang gelap dan berantakan ini.
Langit malam yang penuh bintang bisa kulihat dari jendela kamarku yang masih terbuka. Tirainya terombang ambing karena tertiup angin dari luar jendela. Aku mendekat ke jendela dan berdiri menikmati langit malam yang begitu indah.
Entah kenapa rasanya aku mengingat sesuatu saat melihat jutaan bintang yang bersinar di langit malam ini. Sebenarnya siapa gadis dalam mimpiku dan mimpi Ai?
"Ah ... bodo ... kayaknya aku kecapek an ...," aku langsung menutup jendelaku lalu langsung berbaring di atas kasur.
"Semoga besok aku sudah tak ada di dunia ini ...," gumamku.
"Kaito?"
Tiba tiba suara seorang gadis memanggilku. Tanpa pikir panjang aku membuka mataku kembali dan menyadari aku tak lagi berada di kamarku. Aku berada di tempat tak berujung, sejauh mata memandang hanya terlihat warna putih.
"Kaito?"
Ternyata suara itu adalah suara gadis rambut putih yang berdiri di hadapanku ini. Takku sangka aku bermimpi tentangnya dua kali sehari hanya karena cerita Ai tadi. Mungkin ini saat yang tepat untuk menanyakan siapa dan apa tujuannya muncul di hadapanku sekarang.
__ADS_1
"Ano ... kamu siapa?" Tanyaku.
"Aku Yume ...," jawabnya dengan senyuman tipisnya.
"Yume? ..."
"Hmm ... kamu pasti lupa ya?" Ujarnya.
"Yang penting kenapa kamu di sini?" Aku langsung bertanya saja karena aku tak suka omongan yang berbelit-belit.
"Aku di sini cuma mau kasih tau ... kamu itu sekarang setengah iblis," ucapnya lalu lenyap entah kemana meninggalkan sejuta pertanyaan bagiku.
Setengah iblis? Aku?
"Kakak? ... bangun dong ...," Hanabi menggoyangkan badanku dan memanggilku perlahan.
"Hmm ... apa lagi??" Aku kembali terbangun di dunia nyata karena Hanabi lagi.
"Bantuin aku dong ...," pintanya dengan wajah memelas yang tak bisa membuatku menolaknya.
"Apaan?"
"Bantuin kerjain PR hehe ...," ujarnya dengan sedikit tawa.
__ADS_1
"Cih ... ngerepotin aja ...," aku pun bangkit dan segera melangkah menuju kamar Hanabi yang ada di lantai dasar.